Apakah Menggunakan Dua Masker Sekaligus Lebih Aman?

Ichsan Suhendra, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVAMasker menjadi salah satu protokol kesehatan yang wajib digunakam masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Masker memiliki peranan penting untuk mencegah droplet yang mengandung virus corona terhirup.

Tidak sedikit dari masyarakat yang memilih menggunakan dua masker sekaligus dengan alasan agar lebih aman terutama ketika berada di luar rumah. Lantas apakah menggunakan dua masker tersebut benar-benar dapat efektif?

Dilansir dari laman ABC News, temuan baru yang dirilis Rabu oleh Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan (CDC) Amerika menunjukkan ketika seseorang menggunakan dua masker yakni memakai masker bedah polipropilen dengan masker kain di atasnya dan orang di sekitarnya melakukan hal yang sama, risiko penularan virus turun lebih dari 95%.

Para peneliti, yang menggunakan dua bentuk seperti manekin untuk menguji eksposur, menemukan manfaat serupa dengan mengencangkan satu masker bedah di sekitar telinga untuk meningkatkan kesesuaiannya.

Namun, manfaatnya turun menjadi 80% jika hanya satu orang yang memakai dua masker dan 60% jika hanya satu orang yang menggunakan masker bedahnya dengan pas.

Kepala petugas medis untuk tanggap darurat COVID-19 CDC, Dr. John Brooks mengatakan hasil penelitian menunjukkan, menggabungkan masker kain yang pas dengan masker bedah adalah pilihan yang baik. Itu juga membuat kasus, setiap orang yang memakai masker dan bukan hanya beberapa orang itu penting.

“Menggunakan masker secara bersama-sama adalah salah satu intervensi paling ampuh kami untuk mengendalikan pandemi, kami yakin. Ketika kita semua bermasker, masker itu tidak hanya memberi kita perlindungan untuk diri sendiri. Tapi dengan masing-masing dari kita melakukan itu, kita melindungi orang lain,” kata Brooks kepada ABC News dalam sebuah wawancara.

Untuk diketahui CDC secara masif telah mengirimkan pesan tentang pentingnya masker kepada masyarakat. Di awal pandemi, pejabat kesehatan mendesak masyarakat untuk tidak memakai masker karena khawatir petugas kesehatan akan kekurangan masker.

Mereka juga percaya virus tersebut akan berperilaku seperti virus pernapasan lainnya dan sebagian besar menular ketika seseorang menunjukkan gejala seperti batuk dan demam.

Tetapi setelah penelitian menunjukkan virus penyebab COVID-19 menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan melalui beberapa orang yang tidak pernah memiliki gejala, pada April 2020 CDC tiba-tiba mengubah cara pandangnya dan mulai merekomendasikan penggunaan masker kain untuk umum.

Pada Juni 2020, Organisasi Kesehatan Dunia setuju bahwa setiap orang harus memakai masker terutama ketika jarak sosial tidak memungkinkan.

Dalam beberapa minggu terakhir, CDC telah didesak apakah harus memperkuat rekomendasinya agar masyarakat menggunakan masker N95 ketika berada di ruang publik.

Tetapi pejabat menolak untuk menyarankan secara khusus agar orang mengenakan N95 karena meski sangat efektif masker jenis ini sangat sulit dipakai untuk jangka waktu yang lama karena mereka lebih sulit untuk bernafas.

Selain itu, Direktur CDC Rochelle Walensky mengatakan mengenakan masker N95 mungkin tidak diperlukan di tempat umum.

"Saya pikir jika semua orang mengenakan masker, jika Anda memakainya dan menjaga jarak enam kaki ... Anda memiliki efektivitas perlindungan yang cukup sehingga Anda mungkin tidak membutuhkannya," kata Walensky.