Apakah pandemi meruntuhkan minat baca siswa? Berbagai inovasi dan kolaborasi justru terjadi

·Bacaan 5 menit

Pandemi tidak hanya berdampak pada aktivitas belajar, tetapi juga berpengaruh pada upaya mempertahankan minat membaca siswa.

Di Indonesia, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang digencarkan pemerintah sejak 2016 mengalami mati suri di tengah terbatasnya pembelajaran di sekolah.

Ini sangat disayangkan mengingat pembiasaan membaca meningkatkan daya kritis, kemampuan tata bahasa, maupun keterampilan menulis siswa.

Studi yang dilakukan pada 18.000 siswa kelas 1-3 sekolah dasar (SD) di delapan provinsi Indonesia selama 2020-2021 bahkan menunjukkan penurunan capaian literasi sebesar 40%.

Tren serupa juga terjadi di negara lain. Riset pada 100 distrik di Amerika Serikat (AS) pada akhir 2020 menunjukkan penurunan kemampuan membaca siswa kelas 1-3 sebesar 30%. Di kota Boston, AS, 60% siswa dari kalangan ekonomi rendah bahkan dua kali lebih berisiko mengalami penurunan kemampuan membaca.

Meski demikian, tutupnya sekolah dan berbagai program membaca tidak sepenuhnya memunculkan kabar buruk, bahkan menjadi katalis bagi sekolah dan masyarakat untuk beradaptasi.

Studi kualitatif yang kami lakukan pada Oktober-November 2021 mengamati munculnya berbagai inovasi dan terobosan – dari penyesuaian layanan perpustakaan, pemanfaatan teknologi, hingga pelibatan komunitas literasi.

Ini menunjukkan, meski di tengah kondisi yang tidak ideal dan menurunnya capaian literasi, semangat masyarakat untuk mempertahankan minat baca tetap tinggi.

Perpustakaan sekolah melakukan adaptasi

Pembudayaan literasi di sekolah umumnya dilakukan melalui pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum pelajaran.

Berbagai sekolah di Kota Batu, Yogyakarta, Makassar, dan Kabupaten Badung yang kami teliti pada 2019, misalnya, banyak menyediakan buku di kelas maupun perpustakaan sekolah untuk mendukung hal ini.

Namun, ketika pandemi, sekolah beserta perpustakaannya ditutup sehingga siswa tidak dapat mengakses buku bacaan secara langsung.

Laporan tahun 2021 dari Chartered Institute of Public Finance and Accountancy pada 2020-2021 menunjukkan adanya penurunan jumlah kunjungan langsung ke perpustakaan umum sebesar 72% di seluruh dunia akibat pandemi.

Banyak perpustakaan sekolah mengembangkan strategi layanan melalui perpustakaan digital dan program virtual untuk menanggapi ini.

Sebuah SD di Kota Tegal, misalnya, mulai menyediakan bacaan digital dengan memanfaatkan website perpustakaan yang berisi buku sekolah elektronik, buku fiksi, dan buku nonfiksi yang tidak hanya dapat diakses oleh siswa di sekolah tersebut, tetapi juga siswa dari luar sekolah.

SD lain di Kota Bandung menyediakan jam khusus bagi pengelola perpustakaan sekolah untuk mendiskusikan buku secara daring agar siswa tetap tertarik membaca.

Beberapa sekolah di Kota Bandung juga mengembangkan perpustakaan melalui aplikasi Senayan Library Management System (SLIMS) milik Kementerian Pendidikan. Ini memungkinkan perpustakaan sekolah mendapatkan sumber koleksi bacaan lebih beragam dengan sistem sumber terbuka (open source).

Berbagai studi menunjukkan, mempertahankan layanan perpustakaan sangat penting bagi siswa karena meningkatkan kemampuan membaca dan kualitas literasi informasi mereka.

Antar jemput buku tetap penting

Meskipun begitu, berbagai kebutuhan membaca tidak dapat dipenuhi oleh layanan digital saja mengingat adanya ketimpangan akses, sarana, dan ekonomi.

Survei lembaga nirlaba Reading Is Fundamental (RIF) mengungkapkan, 94% guru, orang tua, dan pengasuh anak di AS menyatakan pentingnya membantu menyediakan buku bacaan di rumah selama pandemi. Sebagian besar responden (96%) mengkhawatirkan penurunan minat baca siswa jika sumber bacaan cetak terbatas.

Oleh karena itu, muncul berbagai strategi agar koleksi perpustakaan dapat diakses publik dari rumah meski dengan keterbatasan.

Di Iran, layanan perpustakaan selama pandemi dilakukan melalui pengantaran buku. Pengunjung dapat memilih buku melalui katalog daring, dan buku pesanan tersebut dikirim ke rumah peminjam lewat motor atau jasa ekspedisi.

Di Bandung dan Yogyakarta, beberapa sekolah memberikan layanan peminjaman buku yang dapat diambil ke sekolah oleh orang tua ataupun diantar lewat layanan pengantaran instan.

Mendorong siswa membaca sesuai minat

Pada awal pandemi, sebagian sekolah sempat berupaya mempertahankan penugasan membaca melalui konferensi video sebelum jam belajar daring. Namun, saat ini lebih banyak sekolah membebaskan jam membaca siswa – termasuk membebaskan bahan bacaan mereka agar tidak merasa terbebani dengan tugas.

Studi yang dilakukan platform membaca daring Epic pada 2020 menunjukkan 72% anak akan membaca lebih banyak saat mereka dapat memilih buku sesuai minat. Selepasnya, mereka juga makin antusias mendiskusikan hasil bacaan mereka tersebut.

Sebelum pandemi, sebuah SD swasta di Kota Bandung menentukan target membaca beberapa judul buku yang relevan dengan kebutuhan literasi untuk tiap jenjang. Bacaan tersebut kemudian dituangkan siswa dalam jurnal membaca.

Selama pandemi, target membaca menjadi lebih fleksibel serta berbasis minat mereka. Catatan pada jurnal membaca pun dikirim ke sekolah melalui WhatsApp atau Google Form.

Para siswa juga mulai diperkenalkan untuk memilih bacaan melalui berbagai media dan aplikasi membaca maupun menulis, seperti melalui platform Wattpad, Let’s Read, serta Room to Read..

Suatu kajian dari Kementerian Pendidikan terhadap data Programme for International Student Assesment (PISA) 2018 menunjukkan, siswa yang membaca lebih banyak dalam seminggu sebagai suatu hobi, terbukti memiliki skor PISA lebih tinggi.

Pendampingan dari komunitas literasi

Pandemi juga mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk berkontribusi dalam mendukung minat baca siswa.

Beberapa perpustakaan umum di AS membuka akses internet gratis bagi publik, menyediakan ruang perpustakaan untuk lokasi vaksinasi, termasuk memanfaatkan pustakawan untuk menyebarkan informasi seputar pandemi.

Di Indonesia, banyak relawan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) melakukan pendampingan membaca bagi anak-anak, biasanya setelah selesainya kegiatan belajar dari rumah.

Bahkan di Nusa Tenggara Barat, pendampingan dilakukan secara sistematis melalui Konsorsium Nusa Tenggara Barat Membaca (KNTBM) yang menaungi 96 komunitas literasi yang tersebar di 10 kota/kabupaten. Bersama lembaga mitra pembangunan, KNTBM menginisiasi kehadiran Relawan Literasi (RELASI) yang fokus memberikan pendampingan literasi bagi siswa SD yang mengalami kesulitan belajar selama pandemi.

Durasi pendampingan ini dilakukan selama 12 minggu berisi pengenalan huruf, kata, kalimat, paragraf, dan cerita.

Hasilnya, terjadi percepatan kemampuan membaca awal dan keterampilan literasi dasar lainnya pada siswa SD, baik di kelas awal (kelas 1-3 SD) maupun di` kelas tinggi (kelas 4-6 SD).

Merawat semangat membaca

Hasil studi kami menunjukkan inovasi dan kolaborasi merupakan kata kunci agar aktivitas literasi tetap lestari di tengah pandemi.

Namun, inovasi ini perlu didukung oleh berbagai pihak termasuk sekolah, komunitas literasi, dan keluarga. Kerja sama ini membuka peluang solusi atas kelangkaan akses bacaan, pendampingan selama belajar dari rumah, serta menjaga komitmen pembiasaan membaca siswa.

Sekolah juga perlu mendorong lebih banyak apresiasi pada siswa. Ini bisa berbentuk program duta literasi, pustakawan cilik, melibatkan siswa dalam berbagai perlombaan, serta menerbitkan buku hasil karya guru dan siswa baik cetak maupun digital.

Keluarga pun perlu mendampingi siswa tidak hanya terkait belajar dari rumah, tapi juga kegiatan membaca di waktu luang.

Semangat dan komitmen multipihak ini penting karena budaya baca tidak hadir tiba-tiba, melainkan diperjuangkan bersama-sama.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel