Apakah Putin Penganut Ideologi Fasisme?

Merdeka.com - Merdeka.com - Vladimir Putin suatu hari pernah menutup pidatonya dengan kutipan dari seorang filsuf yang tidak begitu dikenal di luar Rusia.

"Saya ingin mengakhiri pidato saya dengan kata-kaya patriot sejati Rusia, Ivan Alexandrovich Ilyin, 'Jika saya menganggap Rusia tanah air saya, itu artinya saya mencintai, merenungi dan berpikir dengan cara Rusia, saya bersenandung dan berbicara bahasa Rusia'," jelas Presiden Rusia tersebut kepada para politikus pada 30 September lalu.

Kutipan itu tampaknya menyesuaikan dengan kesempatan saat itu, di saat Putin mengumumkan pencaplokan empat wilayah Ukraina.

Selama bertahun-tahun, Putin telah mengutip dan memuji Ilyin, yang lahir pada era tsar Rusia pada 1883 dan meninggal setelah Perang Dunia II pada 1954. Namun dia lupa menyebut preferensi politik dan ideologi Ilyin.

Menurut beberapa pengamat, karya-karya Ilyin memengaruhi Putin untuk mengubah demokrasi pasca-perestroika Rusia yang cacat namun berfungsi menjadi pemimpin neokonservatisme militan yang memulai perang paling berdarah abad ini di Eropa.

"Ada cukup banyak bukti bahwa Putin mengagumi karya dan ide Ilyin," kata Yoshiko Herrera, seorang profesor ilmu politik di Universitas Wisconsin-Madison yang mempelajari karya-karya Ilyin dan pengaruhnya terhadap narasi Kremlin saat ini.

"Ada berbagai untaian dalam karya Ilyin yang mungkin menarik bagi Putin, yaitu penekanan pada negara yang kuat, otokrasi, dan nasionalisme Rusia," lanjutnya kepada Al Jazeera.

Penolakan Ilyin terhadap gagasan kenegaraan dan kemerdekaan Ukraina, politik atau budaya, membantu Putin membenarkan perang yang berkelanjutan saat ini.

"Sesuatu yang relevan untuk beberapa tahun terakhir adalah pandangan anti-Ukraina Ilyin, karena penolakan kebangsaan dan kedaulatan Ukraina adalah ide kunci yang mendukung perang Putin di Ukraina," jelasnya, dikutip dari laman Al Jazeera, Kamis (27/10).

Siapa Ivan Ilyin?

Seabad yang lalu, pada tahun 1922, pengadilan Bolshevik menghukum mati Ilyin, seorang sarjana filsafat Jerman yang sangat anti-Komunis.

Hukuman itu dijatuhkan setelah enam penangkapan – tetapi dibatalkan pendiri Soviet Vladimir Lenin, yang akrab dengan buku Ilyin tentang filsuf Hegel.

Ilyin lalu meninggalkan Rusia bersama 140 intelektual yang dibuang. Ia kemudian menetap di Berlin.

Setelah perjalanan tahun 1925 ke Italia, Ilyin memperjuangkan ideologi fasis Benito Mussolini. Ilyin bahkan iri dengan fakta bahwa orang Italia, bukan orang Rusia, yang menemukan fasisme yang akan segera menginspirasi Nazi Jerman.

Pada 1933, Ilyin memuji naiknya Adolf Hitler ke tampuk kekuasaan yang mencegah transformasi Jerman menjadi negara Komunis pro-Soviet.

Pandangan Ilyin sangat bertentangan dengan narasi resmi di Uni Soviet, di mana invasi Nazi Jerman dan sekutunya pada 1941–45 menewaskan 27 juta orang.

Lebih dari tiga dekade setelah keruntuhan Soviet, “kemenangan Moskow atas Nazisme” tetap menjadi ideologi utama Rusia.

Tapi itu tidak mencegah Putin membaca karya simpatisan Nazi tersebut.

"Saya tidak mau mengatakan hanya Ilyin. Saya membaca Ilyin, saya masih membacanya, dari masa ke masa. Bukunya ada di rak buku saya," kata Putin dalam forum politik tahun lalu saat menjawab pemikir yang mempengaruhinya.

Putin dikabarkan menjadi penggemar karya-karya Ilyin pada awal 1980-an, saat dia menjadi agen KGB yang bertugas di Jerman Timur yang pro Soviet.

Soviet melarang buku-buku Ilyin dan emigran Rusia lainnya. Bagi warga yang kedapatan memiliki karya Ilyin, bisa dipenjara bertahun-tahun. Namun para pegawai KGB diizinkan membaca karya Ilyin.

Pemikir lain yang pengaruhi Putin

Putin tidak hanya terpengaruh oleh karya-karya Ilyin. Dia juga suka mengutip Mahatma Gandhi, Leo Tolstoy, sampai Abraham Lincoln.

Dia juga sering merujuk pada Pyotr Stolypin, seorang perdana menteri Tsar yang melakukan reformasi ekonomi besar-besaran pada masa muda Ilyin – dan tidak pernah ragu menggunakan kekerasan untuk menekan gerakan revolusioner di Rusia.

Putin juga percaya pada teori tidak lazim dari sejarawan Lev Gumilev, yang mengklaim bahwa peradaban naik dan turun karena mutasi “bio-kosmik”.

Putin semakin dipandu gagasan politik Ilyin ketika membentuk kembali lanskap politik Rusia – dan mencaplok sejumlah wilayah Ukraina, menurut seorang pakar ideologi totaliter AS.

"Putin mengandalkan otoritas Ilyin di setiap titik balik dalam politik Rusia – dari kembalinya ke kekuasaan pada 2012 hingga keputusan untuk campur tangan di Ukraina pada 2013 dan pencaplokan wilayah Ukraina pada 2014," tulis Timothy Snyder, seorang profesor sejarah di Universitas Yale Universitas pada 2016.

Sementara itu, Kremlin menggunakan istilah "fasisme" untuk mengecam musuh Rusia, imajiner atau nyata.

Media yang dikendalikan Kremlin menyebut Ukraina sebagai negara fasis jahat atau kubu Nazi yang dengan kejam melakukan "genosida" terhadap warga Ukraina yang berbahasa Rusia.

Tak lama setelah invasi Moskow ke Ukraina dimulai, Snyder menerbitkan esai berjudul "We Should Say It. Russia is Fascist". Salah satu alasannya menyebut Rusia fasis karena memiliki kultus pemimpin tunggal yaitu Vladimir Putin.

"Ini memiliki mitos tentang masa keemasan masa lalu kebesaran kekaisaran, yang akan dipulihkan dengan perang penyembuhan kekerasan – perang pembunuhan di Ukraina," jelasnya.

Namun sejumlah akademisi tidak sependapat.

"Snyder salah," lata peneliti Rusia di Universitas Bremen Jerman, Nikolay Mitrokhin.

Rusia tidak memenuhi kriteria negara fasis – tidak ada partai ideologis, tidak ada kultus histeris terhadap pemimpin, dan tidak ada rezim baru yang revolusioner yang disandingkan dengan yang lama.

Sebaliknya, di Rusia, "ada negara agresif, imperialis, otoriter dengan junta yang berkuasa", kata Mitrokhin. [pan]