Apakah Rencana Merger Gojek-Tokopedia Berisiko Monopoli?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Rencana merger Gojek dan Tokopedia sepertinya kian mendekati kenyataan. Merger kedua perusahaan ditaksir akan menciptakan valuasi bisnis hingga US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar atau lebih dari Rp 560 triliun bila melantai di bursa saham.

Dengan valuasi yang demikian besar, sejumlah pihak telah menganalisis apakah akan terjadi potensi monopoli pasar jika merger ini terwujud.

Menurut kajian Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Persaingan dan Kebijakan Usaha Fakultas Hukum Universitas Indonesia (LKPU FH UI), Ditha Wiradiputra, merger tersebut tidak berpotensi monopoli pasar atau pun menghasilkan praktik monopoli karena kedua perusahaan berada di pasar yang berbeda.

"Itu tidak akan berpengaruh pada peningkatan market share Gojek ataupun Tokopedia karena keduanya bergerak di bidang bisnis berbeda. Karena tidak ada pengaruhnya, maka aksi merger itu pun tidak akan berpengaruh ke konsentrasi pasar dari masing-masing entitas akibat dari merger tersebut," kata Dhita melalui keterangannya, Selasa (16/2/2021).

Menurutnya, aksi merger akan menimbulkan masalah jika merger itu melibatkan entitas dari bidang bisnis serupa, misalnya Gojek dengan Grab atau Tokopedia dengan Shopee. Jika hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan akan memicu konsentrasi pasar.

"Mereka pun akan memiliki market power yang besar sehingga bisa seenaknya memainkan harga. Dampaknya adalah bisa merugikan konsumen," ucap Dhita.

Atas Dasar Efisiensi

Logo Tokopedia. (Liputan6.com/ Andina Librianty)
Logo Tokopedia. (Liputan6.com/ Andina Librianty)

Merger juga tidak menghasilkan integrasi vertikal atau monopoli vertikal, karena model bisnis Gojek dan Tokopedia adalah ekosistem terbuka yang justru strateginya adalah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk kerja sama dengan banyak pihak guna mencapai skalabilitas.

Hal ini salah satunya diwujudkan dengan menerima banyak opsi pembayaran dan pengiriman pada masing-masing platform. Kekhawatiran akan integrasi vertikal, yang mana terjadi penguasaan produksi jasa dan barang dinilai tidak akan terjadi karena sifat kedua platform dari awal berdiri adalah tidak eksklusif.

Merger yang dilakukan atas dasar efisiensi pada dasarnya membawa manfaat baru seperti nilai baru atau nilai tambah, baik untuk konsumen maupun pelaku usaha, sekaligus mewujudkan efisiensi di pasar secara keseluruhan. Hal ini justru harus disambut baik sebagai wujud pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

"Biaya operasional bisa saja berkurang, dan akhirnya itu akan memangkas biaya produksi kedua perusahaan, sehingga dapat berdampak positif pada output yang bisa dihasilkan," Ditha menandaskan.

Tokopedia-Gojek, di Antara Skenario Merger hingga IPO

Laman utama aplikasi Tokopedia. (Sumber: Tokopedia)
Laman utama aplikasi Tokopedia. (Sumber: Tokopedia)

Dua startup Gojek dan Tokopedia tengah mematangkan rencana untuk merger. Dalam perkembangannya, merger kedua unicorn ini bakal rampung paling cepat bulan ini.

Dilansir dari laman Bloomberg, Sabtu (12/2/2021), Tokopedia dan Gojek sedang mendiskusikan berbagai skenario yang bisa diambil untuk merealisasikan listing atau pencatatan saham, baik di bursa Indonesia maupun Amerika Serikat (AS). Skenario pertama, apakah akan merger terlebih dulu sebelum listing.

Skenario kedua, apakah Tokopedia bakal IPO lebih dulu di Indonesia, lalu merger dengan Gojek dan kemudian membawa entitas baru tersebut untuk melantai di bursa AS.

Selain itu, masih dibicarakan pula apakah listing di bursa AS akan dilakukan lewat mekanisme IPO tradisional, atau melalui perusahaan cek kosong (Special Purpose Acquisition Company/SPAC).

Sumber Bloomberg yang tidak disebutkan namanya menyebut valuasi perusahaan di pasar modal ditargetkan mencapai antara USD 35 miliar hingga USD 40 miliar, atau sekitar Rp 560 triliun (kurs Rp 14.000).

Dikabarkan, gabungan kedua perusahaan ini akan menciptakan perusahaan raksasa internet Indonesia yang menguasai sektor ride-hailing, pembayaran digital, belanja online dan pengiriman.

Isu mega merger Gojek dan Tokopedia pertama kali berhembus pada Januari 2021. Rencananya pada entitas baru ini 60 persen sahamnya dipegang oleh investor Gojek dan 40 persen oleh investor Tokopedia.

(Isk/Why)