Apakah Semua Vaksin Aman Digunakan, Ini Penjelasannya

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebelum akhirnya mendapatkan persetujuan izin edar, proses pembuatan vaksin harus melalui serangkaian tahapan panjang. Mulai dari pengujian praklinis, uji klinis, hingga pengawasan setelah produksi.

Khusus untuk Indonesia, izin edar dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Sementara untuk Amerika Serikat misalnya, izin edar dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau mendapatkan pengakuan dari World Health Organization (WHO) di level dunia.

Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinolog, Dirga Sakti Rambe dalam Dialog Produktif ‘Vaksin: Intervensi Kesehatan Masyarakat yang Efektif dan Aman’, di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Baca juga: KPR Program Sejuta Rumah di BTN Cair Rp15,6 T hingga Kuartal III-2020

“Kita harus memahami suatu vaksin yang digunakan secara luas oleh masyarakat, dia [vaksin] sudah mendapatkan izin edar di negara edar yaitu dari Badan POM [di Indonesia]. Kalau suatu vaksin sudah mendapatkan izin edar BPOM artinya sudah melalui serangkaian tahapan panjang,” kata Dirga dikutip Rabu, 4 November 2020.

Menurutnya, tahapan pertama adalah uji praklinis yang melibatkan hewan. Pada tahapan ini, vaksin akan dilakukan uji coba kepada hewan untuk mengetahui efektivitas dan keamanannya dalam mencegah suatu penyakit.

Tahapan kedua adalah uji klinis yang dilakukan kepada manusia. Pada tahapan ini, vaksin akan disuntikkan atau dikonsumsi oleh puluhan ribu orang dengan tahapan uji klinis I, II, dan III.

“Tidak ada tawar menawar soal keamanan, baru bicara soal efektivitasnya. [Setelah] suatu vaksin mendapatkan izin edar, vaksin tersebut akan dimonitor atau disebut fase keempat,” jelasnya.

Untuk mendapatkan hasil yang efektif dalam proses vaksinasi, dia menyebutkan ada dua hal yang harus diperhatikan yakni efektivitas dan cakupan.

Efektivitas vaksin disebutnya minimal harus berada di atas angka 50 persen. Sejauh ini, vaksin yang sudah digunakan secara luas oleh masyarakat memiliki tingkat efektivitas di atas 90 persen. Kemudian, cakupan imunisasi juga harus tinggi, sekitar 60 persen sampai 70 persen.

Ia pun memberikan contoh musnahnya penyakit variola (smallpox) melalui kesuksesan penanganan pandemi melalui vaksinasi.

“Kita sekarang melihat dunia sedang berupaya mengeliminasi atau menghilangkan penyakit campak dan polio. Kita bisa sama-sama saksikan sudah beberapa tahun terakhir Indonesia dinyatakan bebas polio. Ini bukti nyata dari imunisasi yang berhasil dengan cakupan yang tinggi,” ujarnya.

Saat ini pemerintah tengah melakukan uji klinis fase tiga untuk kandidat vaksin COVID-19. Program vaksinasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan wabah COVID-19.