Apakah Trump mendukung kudeta atau hanya sirkus?

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Apakah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan Presiden Donald Trump terhadap pemilu AS sedang mengarahkan kepada kudeta atau sekadar pertunjukan politik?

Di zaman keemasan teori konspirasi ini, hanya sedikit yang bisa setuju.

Seolah-olah, Trump menggunakan haknya untuk mengeluhkan penghitungan suara yang menunjukkan calon presiden dari Demokrat Joe Biden menang mutlak atau ketat itu salah. "Pemilu curang!" cuit dia dalam selebaran terbarunya Kamis.

Tetapi presiden tidak terlalu masuk akal.

Banyak pemilu AS mendekati kekalahan dia pada 3 November -atau lebih dekat- dan tidak ada petahana yang menuduh kemenangannya dicuri atau tak mau mengaku kalah. Pemilu AS tak punya masalah seperti itu.

Lebih dari sepekan setelah Hari Pemilu, tidak ada satu pun ada bukti penipuan yang kredibel dan signifikan yang disajikan.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Bagi sebagian orang, Trump akhirnya menunjukkan warna otoriter sejatinya.

Ini adalah presiden yang terbuka mengagumi orang-orang seperti Presiden Vladimir Putin, raja dari institusi demokrasi yang membelokkan demokrasi agar dia sendiri yang berkuasa. Sekarang, menurut teori, dia tengah mengikutinya.

Tapi bagaimana jika Trump lebih merupakan ahli pertunjukan daripada dalang Machiavellian?

Jika ruang sidang timnya gagal dan konferensi pers yang aneh oleh tukang cuci masalahnya Rudy Giuliani di pusat berkebun Philadelphia yang disebut Four Seasons Total Landscaping adalah sesuatu yang harus dilalui, maka itu mungkin jawaban yang lebih masuk akal.

Namun, ketika Trump memecat menteri pertahanannya yang berpikiran independen Mark Esper pada Senin, dan kemudian beberapa pejabat tinggi lainnya, tingkat tekanan darah melonjak di antara mereka yang sudah hilang kesabaran.

"Dalam 24 jam terakhir, Menteri Pertahanan (SecDef), Wakil Menteri Pertahanan urusan Kebijakan (USD-P), dan Wakil Menteri Pertahanan urusan Inteligen (OUSD-I) dipecat .... Mengapa? " cuit Alexander Vindman, seorang pensiunan perwira militer yang menjadi staf Gedung Putih yang dipecat setelah bersaksi melawan Trump saat pemakzulan Trump pada 2019.

Alarm juga berbunyi ketika Jaksa Agung Trump, Bill Barr, memberi wewenang kepada jaksa federal untuk bergabung dengan upaya Trump mencari penyimpangan pemilu.

Kepala urusan kejahatan pemilu Departemen Kehakiman, Richard Pilger, mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Barr "membiarkan departemen ini dijadikan senjata untuk berusaha membatalkan hasil pemilu ini," tulis mantan pengacara senior Pentagon Ryan Goodman dan Andrew Weissmann, yang merupakan bagian dari tim penasihat khusus yang menyelidiki hubungan Trump dengan Rusia, dalam Washington Post.

Dalam skenario yang paling ekstrim, sejumlah kalangan mengingatkan kemungkinan kudeta dalam Electoral College.

Ini adalah badan simbolis yang terdiri dari perwakilan yang dikirim dari setiap negara bagian untuk memilih presiden berdasarkan suara pemilih.

Bagaimana jika badan legislatif negara bagian yang dikuasai Republik berhasil mengirim elektor terpilih yang akan mengabaikan suara elektoral dan sebagai gantinya memilih Trump?

Skenario kiamat itu sedang dibahas luas oleh media, namun tampaknya mustahil terjadi dalam kehidupan nyata.

"Sebagai permulaan, bahkan membicarakan hal itu akan memicu keresahan besar-besaran dan membuat para legislator tertekan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Richard Hasen, profesor hukum pada Universitas California.

Tetapi mengingat pertaruhannya besar, saraf menjadi bergolak.

Dan komentar aneh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Selasa bahwa pemerintah sedang mempersiapkan "masa jabatan Trump kedua" tidak membantu.

Teori alternatifnya adalah bahwa Trump hanya menjadi Trump - penampil abadi yang tak tahan berada di luar pusat perhatian dan akan meninggalkan panggung hanya karena setelah menampilkan pertunjukan hidupnya.

Meskipun dia menduduki urutan kedua, Trump mendapatkan lebih dari 72 juta suara dan basis penggemar yang sangat besar itu terkenal setia.

Menurut jajak pendapat Politico/Morning Consult, 70 persen dari kaum Republiken tidak menganggap pemilu berlangsung bebas dan adil, yang menjadi bukti kekuatan persuasi Trump.

Jadi, masuk akal bagi orang yang brand-nya sangat tergantung kepada konsep macho tentang "berkelahi" dan "menang" sesuai dengan cara yang diperkirakan para pengikutnya.

Di luara memasang sirkus politik, Trump mungkin memiliki tujuan yang lebih pribadi: masa depan keuangan dan kariernya.

Dalam usia 74 tahun yang masih energik dan memiliki basis data informasi pemilih yang sangat besar, Trump jelas memiliki pilihan-pilihan selain diam-diam mengkuratori perpustakaan kepresidenan.

Sebuah petunjuk mengarah kepada hasrat besarnya akan uang.

Bacalah tulisan kecil dalam email massal "Dana Pembelaan Pemilu Resmi" Trump dan jelaslah bahwa sumbangan-sumbangan tidak hanya digunakan untuk memerangi "MOB sayap kiri".

Sebagian besar dana diarahkan untuk melunasi utang kampanye Trump pada 2020 dan lebih banyak lagi untuk Komite Aksi Politik yang baru dibentuk atau PAC yang akan membantunya mendukung kandidat terpilih di masa depan atau bahkan mencalonkan diri sebagai presiden lagi pada 2024.

Apakah Trump mengejar politik elektoral atau tidak, dia luas diperkirakan bakal terjun ke dunia penyiaran, dengan misi yang dilaporkan untuk menghukum Fox News karena apa yang dia anggap sebagai loyalitas yang tidak memadai.

Fox "melupakan apa yang membuat mereka sukses, apa yang membuat mereka di sana. Mereka melupakan Angsa Emas," kata di pada Kamis dalam semburan cuitan yang menyerang jaringan televisi milik Rupert Murdoch itu dan memajukan teori konspirasi yang dijajakan dua saluran sayap kanan Newsmax dan OANN.

Mungkinkah kekacauan pasca-pemilihan Trump sebenarnya menjadi episode percobaan untuk serial berikutnya dari sanga mantan bintang reality TV?

sms/ft