Apindo Restui Niat Pertamina Kerek Harga LPG 12 kg

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Merdeka.com
    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    MERDEKA.COM. PT. Wijaya Karya (Wika) Tbk tengah bersiap mengerjakan proyek pembangunan hotel berbintang di kawasan Masjidil Haram, Arab Saudi.Wika menjadi sub kontraktor dari kontraktor besar Timur Tengah, Bin Ladin Group yang merupakan keluarga pendiri Al-Qaidah. …

INILAH.COM, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengaku, tidak keberatan dengan usulan PT Pertamina (Persero) untuk menaikan harga elpiji non subsidi (ukuran 12 kg dan 50 kg) karena belum menemui titik harga keekonomian.

"Itu terserah Pertamina saja mau jual harga berapa, karena dia yang punya kontrak. Kan ini di luar tata niaga yang diatur pemerintah (LPG subsidi ukuran 3 kg)," kata Sekretaris Jenderal Apindo Djimanto kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (4/3/2012).

Kendati demikian, lanjutnya, Pertamina harus mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah dan konsumen atas niatan menaikan harga elpiji non subsidi. "Perlu  dibicarakan dan izin terlebih dahulu dari pemerintah, baru kepada konsumen. Sebab, elpiji itu menyangkut kebutuhan hajat hidup orang banyak," ujar Djimanto.

Selain itu, ia berharap pemerintah mau membuka keran impor oleh perusahaan lain selain Pertamina, agar pasar elpiji non subsidi tidak dimonopoli oleh Pertamina saja. "Mestinya harus dibuka keran impor elpiji itu, sehingga penjualan elpiji akan lebih terbuka. Jadi, jangan salahkan kalau kita beli dari orang lain," tegas dia.

Sementara itu, Pemilik Usaha Rumah Makan Bakso Sapi Tulang Muda di daerah Petukangan Selatan, Bapak Jamali, mengaku pasrah bila harga elpiji ukuran 12 kg dinaikan. "Memang agak berat bagi kita, tapi Itu terserah keputusan pemerintah saja. Kalau memang mau naik ya naik, apalagi katanya harga elpiji itu belum menemui harga keekonomian," ujar Jamali ketika ditemui INILAH.COM.

Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan bahwa dewan akan sepakat bila Pertamina menaikan harga elpiji non subsidi 12 kg dan 50 kg dengan alasan daya saing di pasar. "Pemerintah juga harus membuka keran buat perusahaan lain untuk sediakan elpiji," ungkapnya kepada INILAH.COM, Rabu (29/2/2012).

Sepanjang 2011, Pertamina mengalami kerugian sebesar Rp3,8 triliun dari penjualan elpiji ukuran 12 kg karena harga jual elpiji tersebut masih di bawah harga keekonomian. [mre]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...

Artikel Bisnis Terpopuler

POLL

Apakah kandidat nama cawapres Jokowi yang beredar sekarang sudah sesuai dengan harapan Anda?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat