Aplikasi Ini Persulit Polisi Lacak Pengunjuk Rasa

Krisna Wicaksono, Novina Putri Bestari

VIVA – Kerusuhan di sejumlah wilayah Amerika Serikat, menjadi keuntungan bagi Signal. Aplikasi pesan ini meningkat kepopulerannya selama pekan lalu, dan menempati urutan delapan terpopuler di platform iOS.

Signal adalah aplikasi pesan yang memungkinkan pengguna mengirimkan foto, video, dan pesan. Dikutip dari laman Business Insider, Sabtu 6 Juni 2002, platform ini menggunakan end-to-end encryption yang bisa mencegah penegak hukum melihat komunikasi pengguna, jika ponsel mereka disita atau diretas.

Baca juga: Ada Lowongan untuk Jadi Bos WhatsApp Indonesia, Tertarik?

Selain iPhone, kepopuleran Signal juga sampai ke pengguna Android. Aplikasi itu menduduki peringkat 10 yang paling banyak diunduh untuk Android di Amerika Serikat.

Aplikasi pesan ini juga meluncurkan fitur-fitur baru, untuk orang yang berpartisipasi dalam protes di seluruh Amerika minggu ini. Pihak Signal mengumumkan fitur tersebut untuk melindungi anonimitas orang yang ikut dalam demo.

Aplikasi Signal

Salah satunya adalah tool untuk membuat gambar menjadi buram, memungkinkan pengguna mengaburkan wajah orang dalam foto. Alat ini sangat menguntungkan bagi pendemo, karena kerap khawatir mereka bisa mudah diidentifikasi dengan perangkat lunak face recognition dan mungkin menjadi target untuk pembalasan.

"Banyak orang dan kelompok menggunakan Signal untuk berkomunikasi, dan kami bekerja keras untuk mengikuti peningkatan trafik itu. Satu hal penting yang langsung terlihat, 2020 adalah tahun terbaik untuk menutupi wajahmu," ungkap co-founder Signal, Moxie Marlinspike.

Signal juga berencana memberikan desain penutup wajah secara gratis. Desain tersebut bertujuan untuk menggagalkan orang yang berusaha menggunakan facial recognition pada sebuah foto.

Signal serta aplikasi lain yang memiliki layanan pesan terenkripsi, telah sering jadi target lembaga penegak hukum. Sebelumnya, platform itu melawan panggilan FBI yang meminta mengungkap informasi pengguna.

Raksasa teknologi Apple dan Facebook juga jadi bagian target para penegak hukum. Keduanya pernah diminta untuk menghentikan penggunaan end-to-end encryption pada layanannya.