Apple Tolak Aplikasi yang Kumpulkan Data Tanpa Persetujuan Pengguna

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Apple makin serius dalam memelihara dan melindungi privasi data penggunanya.

Belum lama ini Apple memperkenalkan persyaratan baru yang meminta ke pengembang melaporkan data apa saja yang mereka kumpulkan dari pengguna. Hal ini juga merupakan bentuk upaya Apple memberikan lebih banyak transparansi bagi pengguna.

Kini, Apple mencoba meningkatkan privasi ke level lebih jauh lagi.

Menurut laporan dari analis Eric Seufert, Apple bakal menolak aplikasi-aplikasi milik pengembang yang kedapatan menggunakan SDK pihak ketiga yang mengumpulkan data tanpa persetujuan pengguna.

Dengan begitu, aplikasi-aplikasi yang dimaksud tidak bisa ditawarkan di App Store.

"Berdasarkan sejumlah pengembang, Apple telah mulai menolak pembaruan aplikasi yang menyertakan Adjust SDK terkait pengumpulan datanya yang digunakan untuk mengetahui sidik jari perangkat," kata Seufert dalam cuitannya.

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Kumpulkan Sidik Jari Perangkat Tanpa Persetujuan Pengguna

Ilustrasi App Store
Ilustrasi App Store

SDK pihak ketiga ini secara umum menggunakan sebuah metode yang dikenal sebagai sidik jari perangkat.

Maksudnya, SDK tersebut akan mencatatkan nama dan model perangkat, alamat IP, dan jenis informasi identitas lainnya.

SDK ini biasanya dipakai untuk membantu pengembang memahami audiens dan penggunanya dengan lebih baik serta untuk menjual iklan yang dipersonalisasi.

Kendati jenis pelacakan ini bukan ilegal, Apple tampaknya tetap ingin menindaknya, terutama jika melibatkan pengguna yang tak mengetahui dan tidak bisa memberikan persetujuan mereka.

Menurut cuitan Seufert, salah satu SDK, Adjust SDK tampaknya ditarget oleh Apple.

Bos Apple Prihatin soal Privasi Data Pengguna

CEO Apple Tim Cook memegang iPhone 12 Pro baru saat acara Apple di Apple Park, Cupertino, California, Amerika Serikat, 13 Oktober 2020. Apple meluncurkan seri iPhone 12 yang mendukung teknologi seluler 5G. (Brooks KRAFT/Apple Inc./AFP)
CEO Apple Tim Cook memegang iPhone 12 Pro baru saat acara Apple di Apple Park, Cupertino, California, Amerika Serikat, 13 Oktober 2020. Apple meluncurkan seri iPhone 12 yang mendukung teknologi seluler 5G. (Brooks KRAFT/Apple Inc./AFP)

CEO Apple Tim Cook mengungkapkan keprihatinannya tentang privasi data dan keamanan data.

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah pasar periklanan digital (digital advertising) telah menyerang privasi pribadi selama beberapa dekade.

Untuk itu, Apple ingin menghentikan kebiasaan itu dengan memberikan hak pada pengguna untuk memilih apakah mereka ingin dilacak atau tidak.

"Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, jika kita menerima dan seolah tidak dapat menghindari segala sesuatu dalam hidup kita dikumpulkan dan dijual, kita kehilangan lebih dari sekadar data, kita kehilangan kebebasan menjadi manusia," tutur Cook.

Sebagai bentuk dukungannya terhadap privasi data, Apple kini juga melakukan beberapa cara revolusioner untuk menjamin privasi pengguna di ekosistemnya.

"Yang pertama adalah ide sederhana tapi revolusioner yang kami sebut label nutrisi privasi," tuturnya.

Lewat aturan baru ini, setiap aplikasi termasuk besutan Apple harus berbagi informasi mengenai data apa saja yang dikumpulkan termasuk praktik privasinya.

Informasi itu juga harus ditampilkan di App Store dengan cara yang mudah dipahami termasuk direspons setiap pengguna. Langkah lain yang juga dilakukan Apple adalah fitur App Tracking Transparency (ATT).

"Pada dasarnya, ATT adalah tentang mengembalikan kontrol pada pengguna, memberi mereka kesempatan berbicara mengenai data mereka," tutur Tim.

Sebagai informasi, fitur ini sudah diperkenalkan Apple Desember 2020 pada iOS 14.4 dan wajib diikuti oleh para pengembang.

(Tin/Ysl)