Aprilia Manganang, Hipospadia dan Rangsangan Lawan Jenis

Lutfi Dwi Puji Astuti, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Serda Aprilia Manganang yang baru mengetahui identitasnya sebagai seorang pria, masih cukup hangat diperbincangkan. Mantan atlet voli wanita itu diketahui memiliki kondisi kelainan bawaan dengan sebutan hipospadia.

Hal itu diungkap oleh KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di kantornya, beberapa waktu lalu. Jenderal Andika menyebut, fakta tersebut didapat setelah Manganang selesai melakukan pemeriksaan medis pada Februari 2021 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

"Serda Aprilia ini punya kelainan pada sistem reproduksinya sejak lahir. Kelainan ini kita ketahui dengan istilah hipospadia," ucap Jenderal Andika. Lalu seperti apa pandangan Androlog dan Seksolog mengenai hal ini? Simak di halaman berikut.

Dituturkan Spesialis andrologi dan seksolog, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd., kondisi tersebut sebetulnya bukan perubahan identitas dari wanita menjadi pria. Kondisi itu disebabkan adanya gangguan pada ujung penis sehingga mengira dirinya tak memiliki organ intim pria.

"Sebetulnya kan bisa diperiksa. Dia punya penis, testisnya bagaimana, kalau dia perempuan ada payudara nggak? Menstruasi enggak? Saya nggak tahu bagaimana awalnya dia dianggap perempuan. Jadi gangguannya ada pada terletak di lubang kencing itu," ujarnya dalam acara Hidup Sehat, tvOne, Kamis 11 Maret 2021.

Menurut Prof Wimpie, penyebabnya bisa dipicu oleh banyak faktor, seperti hormon dan juga genetik. Makanan yang mengandung tinggi estrogen yang dikonsumsi ibu di masa hamil, turut berisiko pada hipospadia. Hal itu, kata dia, memicu kadar hormon testosteron pada tubuh anak menjadi tidak normal. Berikutnya cara mudah menentukan identitas pengidap hipospadia.

"Anaknya yang lahir mendapat gangguan hormon, jadi testosteronnya nggak normal. Cuma secara fisik kalau hispospadia itu sebetulnya laki-laki, nggak mungkin mens, nggak mungkin ada payudara. Tapi mungkin karena dia nggak pernah diperiksa jadi diperlakukan layaknya perempuan," beber Prof Wimpie.

Untuk bisa menentukan identitasnya, Prof Wimpie pun memberikan saran yang paling mudah. Hal itu bisa dinilai melalui rangsangan terhadap lawan jenis, yang secara alami tumbuh akibat adanya hormon.

"Selama sekian tahun itu, dia tertarik nggak dengan perempuan, terangsang nggak sama perempuan, saya kira itu," tuturnya.