Arab Saudi Akan Akhiri Blokade Qatar Lalu Buka Lagi Perbatasan

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Arab Saudi akan membuka wilayah udara dan perbatasan daratnya ke Qatar sebagai langkah pertama untuk mengakhiri krisis diplomatik selama bertahun-tahun, kata para pejabat Arab Saudi dan Kuwait hari Senin (04/01).

Satu-satunya perbatasan darat antara Arab Saudi dan Qatar ditutup sejak pertengahan 2017, ketika Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain melancarkan blokade terhadap negara Qatar dan menuduhnya mendukung kelompok ekstremis Islam serta beraliansi dengan Iran.

Perbatasan darat ke Arab Saudi sangat penting bagi Qatar untuk mengimpor produk susu, bahan bangunan, dan barang lainnya. Perbatasan itu sempat dibuka sebentar untuk memungkinkan warga Qatar menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi.

Tidak jelas konsesi apa yang telah dibuat atau dijanjikan Qatar untuk mencapai perubahan kebijakan blokade Arab Saudi.

Pencabutan blokade Qatar untuk selesaikan sengketa Teluk

Kuwait, yang menjadi penengah selama sengketa ini, pertama kali mengumumkan terobosan diplomatik melalui menteri luar negerinya, Amhad Nasser Al Sabah. Sebelumnya pada hari Senin, menlu Kuwait diberitakan telah melakukan perjalanan ke Doha untuk menyampaikan pesan kepada penguasa Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.

Sementara keputusan Saudi menandai terobosan utama untuk menyelesaikan perselisihan Teluk, jalan menuju rekonsiliasi masih jauh mulus. Keretakan paling dalam terjadi antara Abu Dhabi dan Doha, dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar terlibat sengketa ideologis yang tajam.

Menyusul pengumuman dari Kuwait, Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash di Twitter menulis bahwa negaranya ingin memulihkan persatuan Teluk. Namun dia juga memperingatkan: "Kami memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan kami berada di arah yang benar."

Penguasa Qatar akan hadiri KTT Teluk

Pencabutan embargo oleh Arab Saudi membuka jalan bagi penguasa Qatar untuk menghadiri pertemuan puncak tahunan para pemimpin negara-negara Teluk hari Selasa (05/01) yang akan diadakan di situs gurun kuno Al-Ula di Arab Saudi. KTT ini secara tradisional dibuka oleh Raja Saudi Salman, meskipun putra dan pewarisnya yang kemudian akan memimpin pertemuan kali ini.

Qatar pada Senin (04/91) malam mengonfirmasi bahwa Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani akan menghadiri KTT itu, sebuah langkah yang menurut para analis menunjukkan upaya rekonsiliasi. Tahun ini, presiden Mesir juga diundang untuk menghadiri pertemuan puncak enam negara Dewan Kerjasama Teluk, yang terdiri dari Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar.

Menteri luar negeri Kuwait mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di TV pemerintah bahwa penguasa Kuwait telah berbicara dengan pemimpin Qatar dan putra mahkota Arab Saudi. Percakapan tersebut "menekankan bahwa setiap pihak ingin terjadi rekonsiliasi,'' dan akan berkumpul di Al-Ula untuk menandatangani sebuah pernyataan untuk "mengantarkan bab cerah hubungan persaudaraan'' di kawasan.

hp/rap (ar, rtr)