Arcandra Tahar Sebut PGN akan Jadi Pemasok Gas Alam Cair Dunia

Ezra Sihite, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Arcandra Tahar mengungkapkan bahwa PGN masih memiliki kapasitas pemasok kebutuhan liquid natural gas (LNG) atau gas alam cair ke pasar global.

Menurutnya, hal ini akan menjadikan PGN memiliki posisi strategis dalam penyediaan energi yang ramah lingkungan dan efisien di dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi kesenjangan antara pasokan dan permintaan LNG masih besar di pasaran.

Menurut Arcandra dari total produksi gas Indonesia sebanyak 7.000 MMSCFD sekitar 60-70 persennya digunakan untuk kebutuhan di dalam negeri. Sementara sisanya sebagian besar di ekspor dalam bentuk LNG.

Sampai 2030, Wood Mackenzie dikatakannya telah memperkirakan kebutuhan LNG akan mencapai 550 juta ton per tahun. Sementara pasokan di pasar ditaksirnya hanya sekitar 450 juta ton per tahun.

"Dengan adanya gap antara supply dan demand LNG yang cukup besar tersebut PGN dapat memainkan peran pentingnya untuk mengoptimalkan peluang itu," kata Arcandra dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 21 April 2021.

Sebagai inisiator pembangunan infrastruktur dan mengelola lebih dari 80 persen jaringan gas bumi, PGN saat ini baru mengelola 900 MMSCFD atau sekitar 15 persen dari total produksi gas bumi Indonesia per tahunnya.

Untuk meningkatkan pasokan dan penjualan gasnya, PGN disebut Wakil Menteri ESDM 2016-2019 ini dapat bekerja sama dengan PT Pertamina yang sudah memiliki banyak kontrak LNG di luar negeri.

"PGN dapat bekerjasama dengan Pertamina sebagai holding migas, yang sudah memiliki komitmen kontrak-kontrak gas di luar negeri untuk memasok LNG baik dipasar ekspor maupun di dalam negeri," paparnya.

Untuk memperkuat peran PGN di dalam negeri, Arcandra menyebut, pemerintah harus mengurangi impor LPG. Caranya dengan mengalihkan industri yang menggunakan LPG dengan LNG ataupun CNG yang dapat diproduksi oleh PGN.

Kemudian, PGN ditegaskannya dapat memperluas penggunaan gas bumi bagi pembangkit listrik milik PLN. Sebab, menurut Arcandra masih banyaknya pembangkit-pembangkit listrik PLN di pulau-pulau terluar yang menggunakan diesel.

"Melalui sinergi dengan PLN, optimalisasi penggunaan gas bumi di pembangkit-pembangkit listrik ini juga akan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor," kata dia.

Dengan aspek teknologi dan komersial itu, tahun lalu PGN ditegaskannya berhasil memangkas biaya pembangunan pipa minyak ke blok Rokan sepanjang 360 km di Riau hingga senilai US$150 juta atau lebih dari Rp2,1 triliun.

"Industri minyak dan gas (migas), yang penuh risiko dan berbiaya besar, membutuhkan peningkatan penguasaan teknologi, sekaligus pemahaman yang baik terhadap aspek komersialnya di Indonesia. Itu yang menjadi patokan PGN saat ini," papar dia.