Arist Merdeka Sirait Malu Kejahatan Seksual Anak Marak di Depok

Syahrul Ansyari, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, menyebut angka kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak mengalami peningkatan hingga 58 persen sejak masa pandemi COVID-19. Ironisnya lagi, sejumlah kasus di antaranya dilakukan oleh orang terdekat.

“Jadi sebenarnya cukup mengejutkan, sebelum virus Corona melanda dunia, kejahatan seksual itu tinggi termasuk di Depok, dan itu didominasi kejahatan seksual. Ada yang sifatnya orang-perorang dan ada yang bersama,” katanya dikutip pada Rabu, 15 Juli 2020.

Baca juga: Gila, Predator Anak Buronan FBI Selalu Rekam Aksi Cabulnya

Ia menyimpulkan, jika sebelum Corona saja sudah 52 persen, maka saat ini diperkirakan jumlahnya meningkat hingga 58 persen. “Padahal stay at home itu dalam rangka anak-anak bisa terlindungi. Dan ini bukan hanya di Depok.”

Arist menilai, ada beberapa faktor terkait hal tersebut. Salah satunya adalah kebiasaan buruk merendahkan derajat wanita dan lemahnya pengawasan orang tua.

“Jadi bukan hanya kemiskinan penyebabnya. Di Depok juga tembus batas pelakunya dan tidak pandang status. Banyak sekali yang terjadi di kota ini, ada penculikan dan lain-lain.”

Di sisi lain, Arist juga menyoroti kinerja Pemerintah Kota Depok yang selama ini kerap menggembar-gemborkan predikat sebagai kota layak anak.

“Kebetulan saya orang Depok, saya masih bertanya dan terus bertanya, apa wujud kota ramah anak itu. Saya penduduk Kecamatan Tapos, tapi saya lihat tak ada kebijakan-kebijakan itu yang memberdayakan masyarakat untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.”

Lebih lanjut Arist mengaku, dirinya merasa malu dengan maraknya kasus kejahatan terhadap anak di Kota Depok.

“Penculikan mengejutkan, pelecehan masih terjadi di Depok. Lalu pertanyaan saya sebagai warga Depok, saya tentu bertanya dan saya malu sebenarnya, karena saya mengurus anak-anak secara nasional tapi di Depok sendiri belum layak,” ujarnya.

Dengan sederet kasus yang terjadi, Arist pun kembali mempertanyakan predikat Depok sebagai kota layak anak. Ia bahkan menyinggung perhatian Wali Kota Depok, Mohammad Idris, atas sejumlah kasus tersebut.

“Mohon maaf pada Pak Wali Kota yang akan maju lagi, kalau tidak berpihak kepada anak, mau ke mana masa depan Depok ini? Saya bukan orang politik. Saya mempertanyakan wujud nyata dari kota layak anak itu,” tegasnya.

Arist berpendapat, selama ini yang banyak memberikan respons atas kejahatan pada anak hanyalah jurnalis dan aparat penegakan hukum.

“Sungguh luar biasa kejadian-kejadian di wilayah Depok. Dan tidak ada respons dari kejadian-kejadian itu. Responnya hanya dari teman-teman media aja yang seakan-seakan jadi kompor, padahal bukan.”