Arkeolog Temukan Bayi Berusia 6.000 Tahun Masih Ditimang Ibunya

Merdeka.com - Merdeka.com - Arkeolog menemukan fosil bayi berusia 6.000 tahun dengan gigi yang masih utuh dan masih ditimang seorang perempuan yang diyakini ibunya. Fosil ini ditemukan di sebuah kuburan di Belanda.

Para arkeolog menyatakan, ini merupakan kuburan bayi tertua yang pernah ditemukan di Belanda. Kuburan tersebut ditemukan di sebuah lokasi di Nieuwegein, Provinsi Utrech, yang berasal dari Zaman Batu, dikutip dari laman Q2 World, Selasa (1/11).

Penemuan itu baru terungkap setelah empat kerangka yang digali diperiksa oleh konsultan arkeologi RAAP di Leiden.

Para ilmuwan memperhatikan, kerangka tangan kanan perempuan yang diperkirakan berusia 30 tahunan itu tertekuk, beda dengan kerangka lainnya yang ditemukan di lokasi.

Setelah diteliti lebih dekat, ditemukan ada fragmen tulang seorang bayi di tangan perempuan tersebut. Terungkap bahwa perempuan itu dikubur dengan posisi sambil menimang sang bayi.

"Postur tubuh perempuan itu tidak sesuai dengan apa yang kami temukan selama ini," kata pemimpin penelitian, Halle Molthof kepada lembaga penyiaran NOS Belanda.
"Kami kemudian menemukan dia sebenarnya sedang menggendong bayi kecil," lanjutnya.

Fragmen tulang yang dikirim untuk dianalisis termasuk rahang kecil beserta beberapa gigi susu. Dari sini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa bayi itu meninggal ketika baru berusia beberapa bulan.

"Sangat mengesankan ketika Anda menemukan gigi susu kecil yang terkubur di tanah liat selama 6.000 tahun dan melihat betapa miripnya gigi susu itu dengan semua gigi susu yang disimpan di kotak korek api oleh orang tua di mana-mana," kata Molthof.

Tes DNA akan mengungkapkan apakah wanita itu adalah ibu bayi serta jenis kelamin bayinya.

Para arkeolog berharap makam itu dapat menginformasikan tentang upacara pemakaman komunitas pemburu-pengumpul yang tinggal di sepanjang tepi Sungai Vecht.

"Kami tahu bagaimana mereka hidup, jenis makanan apa yang mereka makan, seperti apa rumah mereka, tetapi kami belum tahu banyak tentang bagaimana mereka menguburkan orang mati dan apa yang terjadi pada anak-anak," pungkas Molthof. [pan]