Arkeolog Temukan 'Kota Emas yang Hilang' di Mesir

Syahdan Nurdin, zamanputri-614
·Bacaan 5 menit

VIVA – Tim arkeolog dari Mesir telah menemukan kota kuno terbesar di Mesir pada hari Kamis (8/4/21), dilansir oleh Live Science. Kota yang hilang, yang dikenal sebagai aten terkubur gurun pasir selama 3400 tahun.

Seorang ahli arkeologi terkenal di Mesir, Zahi Hawass, mengatakan kota emas ini ditemukan di dekat Luxor, rumah dari Lembah Para Raja yang legendaris.

Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para Raja. Daerah ini pernah disebut 'Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun', karena sejumlah mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor (Sumber : https://commons.wikimedia.org/w/index.php?search=&title=Special:MediaSearch&go=Go&type=image)
Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para Raja. Daerah ini pernah disebut 'Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun', karena sejumlah mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor (Sumber : https://commons.wikimedia.org/w/index.php?search=&title=Special:MediaSearch&go=Go&type=image)

Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para Raja. Daerah ini pernah disebut 'Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun', karena sejumlah mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor. (wikipedia)

Kota yang hilang ini, diduga merupakan peninggalan masa kekuasaan Amenhotep III, ayah dari Amenhotep IV yang berganti nama menjadi Akhenaten.

Ian Shawn dalam bukunya The Dictionary of Ancient Egypt menjelaskan bahwa Amenhotep III merupakan salah satu firaun paling kuat di Mesir, raja kesembilan dari dinasti ke-18 Mesir kuno yang memerintah dari 1391 hingga 1353 SM.

Amenhotep III mewarisi kerajaan yang membentang dari Sungai Efrat di Irak modern dan Suriah hingga Sudan. Ia meninggal sekitar 1354 SM. Ia memerintah selama hampir 40 tahun.

Masa kepemimpinannya terkenal dengan kemewahan dan kemegahan bangunan. Salah satunya adalah Colossi of Memnon, dua patung batu besar di dekat Luxor yang menggambarkan Amenhotep III dan istrinya.

Para Arkeolog mengira Akhenaten membangun kota Akhetaten yang berumur pendek, di mana dia memerintah bersama istrinya, Nefertiti dan menyembah matahari. Setelah kematiannya, putranya yang masih kecil, Tutankhamun, menjadi penguasa Mesir dan meninggalkan warisan kontroversial ayahnya.

Tetapi mengapa Akhenaten meninggalkan Thebes, yang telah menjadi ibu kota Mesir kuno selama lebih dari 150 tahun? Jawabannya mungkin terletak pada penemuan sebuah kota metropolis kerajaan industri di dalam Thebes yang diwarisi Akhenaten dari ayahnya, Amenhotep III. Penemuan yang dijuluki sebagai "Kota Emas Yang Hilang"

"Informasi berharga ini menegaskan bahwa kota ini aktif pada waktu pemerintahan Raja Amenhotep III bersama putranya, Akhenaten," kata para arkeolog dalam pernyataan resmi di halaman facebook milik Zahi Hawass.

Tetapi, beberapa tahun setelah kematian ayahnya, Akhenaten, yang memerintah sekitar tahun 1353–1336, memutuskan segala sesuatu yang diperjuangkan ayahnya. Selama 17 tahun pemerintahannya, ia meninggalkan semua panteon tradisional Mesir kecuali satu, dewa matahari Aten.

Akhenaten memindahkan kursi kerajaannya dari Thebes ke Amarna dan mengawasi revolusi artistik yang secara singkat mengubah seni Mesir dari kaku dan seragam menjadi animasi dan detail.

Tapi setelah kematiannya, sebagian besar jejak penguasa musnah. Dimulai dengan putranya, anak laki-laki raja Tutankhamun, ibu kota Akhenaten, seninya, agamanya, dan bahkan namanya dihapuskan dan secara sistematis dihapus dari sejarah. Hanya penemuan kembali Amarna di abad ke-18 yang menghidupkan kembali warisan pemimpin pemberontak, yang telah memicu spekulasi arkeologi selama ratusan tahun.

Kota ini tampaknya telah digunakan kembali oleh Tutankhamun. Ay, yang kemudian mewarisi tahta saat menikah dengan janda Tut, tampaknya juga menggunakannya. Empat lapisan permukiman yang berbeda di situs ini menunjukkan era penggunaan hingga era Bizantium Koptik dari abad ke-3 hingga ke-7 Masehi. Kemudian, kota itu dibiarkan sampai penemuannya ditemukan baru-baru ini.

Pada September 2020, Tim arkeolog memulai penggalian di tepi barat Luxor dekat Lembah Para Raja, sejauh 500 kilometer dari sebelah selatan Ibu Kota Kairo. Tim awalnya berangkat untuk menemukan Kuil Kamar Mayat Tutankhamun, tempat raja muda itu dimumikan, tetapi mereka menemukan suatu penemuan yang jauh lebih besar.

Betsy Bryan profesor seni dan arkeologi Mesir di Universitas Johns Hopkins Baltimore, AS mengatakan, "Penemuan ini dinilai sebagai temuan paling signifikan di Mesir kedua sejak makam Tutankhamun".

"Hanya dalam beberapa minggu penggalian, mereka menemukan formasi batu bata lumpur di segala arah," kata Zahi Hawass dalam sebuah pernyataan.

"Banyak misi asing mencari kota ini dan tidak pernah menemukannya," lanjut Hawass, yang juga mantan menteri urusan peninggalan purbakala Mesir, dikutip dari Phys

Penggalian ini mengungkap banyak penemuan arkeologi berharga, seperti perhiasan, tembikar berwarna, jimat kumbang, dan batu bata lumpur bersegel Amenhotep III.

Setelah lebih banyak menggali, para arkeolog menemukan situs kota besar yang terawat baik dengan dinding yang hampir lengkap, dan ruangan-ruangan yang dipenuhi dengan peralatan yang pernah digunakan oleh penduduk kota.

Ada sebuah toko roti di bagian selatan kota, dengan dapur lengkap dengan oven dan tempat penyimpanan tembikar.

"Dari ukurannya, kami dapat menyatakan bahwa dapur melayani sejumlah besar pekerja dan karyawan," jelas arkeolog.

Arkeolog juga menemukan daerah pemukiman dan administrasi, dipagari oleh tembok zigzag yang tidak biasa di Mesir kuno. Dengan satu titik masuk, dan hanya memiliki satu jalur akses yang mengarah ke koridor internal dan area emukiman. Yang mungkin bertujuan untuk keamanan.

Dinding zigzag yang menunjukkan tembok kota, ciri khas arsitektur Mesir Kuno pada periode itu (Sumber : Cairo Scene)
Dinding zigzag yang menunjukkan tembok kota, ciri khas arsitektur Mesir Kuno pada periode itu (Sumber : Cairo Scene)

Dinding zigzag yang menunjukkan tembok kota, ciri khas arsitektur Mesir Kuno pada periode itu (Sumber : Cairo Scene)

Dinding Zigzag adalah salah satu elemen arsitektur langka dalam arsitektur Mesir kuno, yang digunakan menjelang akhir Dinasti ke-18.

"Referensi sejarah memberi tahu bahwa pemukiman ini terdiri dari tiga istana kerajaan Raja Amenhotep III, serta pusat administrasi dan industri Kekaisaran" kata para arkeolog dalam sebuah pernyataan.


Tim juga menemukan kerangka yang sangat tidak biasa yaitu seseorang ditemukan dengan tangan terentang ke samping, dan sisa-sisa tali melilit lutut. Lokasi dan posisi kerangka ini agak aneh, dan lebih banyak penyelidikan sedang berlangsung.

Sisa-sisa seseorang ditemukan dengan tangan terentang ke samping dan tali compang-camping melilit lutut mereka (Sumber : Ministry Tourism and Antiquities)
Sisa-sisa seseorang ditemukan dengan tangan terentang ke samping dan tali compang-camping melilit lutut mereka (Sumber : Ministry Tourism and Antiquities)

Sisa-sisa seseorang ditemukan dengan tangan terentang ke samping dan tali compang-camping melilit lutut mereka (Sumber : Ministry Tourism and Antiquities)

Sejumlah batu bata masih mengotori pemandangan yang bertuliskan segel Raja Amenhotep III dengan tulisan yang bertuliskan gm pa Aton yang bisa diterjemahkan menjadi "Wilayah kekuasaan Aten yang mempesona", inilah nama candi dibangun oleh Raja Akhenaten di Karnak, yang merupakan ayah Raja Tutankhamun.

Dalam waktu tujuh bulan, sebagian besar lanskap berpasir di daerah tersebut dibersihkan, sehingga menunjukkan lingkungan dengan fasilitas berbeda.
Dia mengatakan pekerjaan arkeologi lebih lanjut sedang dilakukan di situs tersebut dengan timnya dan sangat berharap untuk mengungkap makam tak tersentuh yang penuh dengan harta karun.

Penemuan Kota yang Hilang ini tidak hanya akan memberi kita sekilas gambaran langka tentang kehidupan orang Mesir Kuno pada saat Kekaisaran berada pada kondisi terkaya, tetapi juga akan membantu kita menjelaskan salah satu misteri terbesar dalam sejarah.

Mesir tengah mempromosikan peninggalan purbakala demi membangkitkan lagi sektor pariwisatanya yang redup akibat krisis politik bertahun-tahun dan pandemi virus corona dalam setahun terakhir. Pemerintah Mesir berharap penemuan seperti Aten akan membantu kebangkitan pariwisata di negaranya.