Armada Perang Tak Garang, Ukraina Berani Balik Ancam Rusia

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Situasi di wilayah perbatasan Rusia-Ukraina kian memanas, menyusul mobilisasi personel Angkatan Bersenjata Rusia yang masih dilakukan. Meskipun kekuatan militernya jauh berada di bawah Rusia, namun Ukraina berani menyatakan sikap tegas dan ancaman kepada pemerintah Negeri Beruang Merah.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari Reuters, saat ini jumlah personel militer Rusia yang sudah dikerahkan ke perbatasan mencapai 110 ribu. Sementara itu, sekitar dua hari lalu Ukraina baru menambah lagi pasukannya dengan jumlah sekitar 20-22 ribu personel.

Dengan menggunakan kekuatan militernya, Rusia dianggap Ukraina memberikan ancaman untuk menghancurkan Ukraina. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba.

Kuleba yakin betul Rusia akan menggunakan cara yang sama dengan pada saat mencaplok Krimea tujuh lalu. Diungkap Kuleba, Rusia juga mengerahkan ribuan tentaranya plus pasukan paramiliter. Pun dengan pertempuran yang terjadi di tiga kota, Donbas, Luhansk, dan Ilovaisk pada tahun yang sama.

Intinya, Kuleba menyayangkan dengan aksi Rusia meningkatkan aktivitas militernya di wilayah perbatasan. Sebab akibatnya, proses diplomasi untuk menyelesaikan konflik akan hancur jika Rusia terus menunjukkan kekuatan militernya.

"Tindakan dan pernyataan Moskow meningkatkan tensi militer dan merusak usaha diplomatik untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina," ucap Kuleba.

"Garis merah Ukraina adalah batas negara. Jika Rusia melewati garis merah, mereka akan menderita. Dunia dan hukum internasional ada di sisi Ukraina," katanya.

Di sisi lain, pernyataan Kuleba ini memancing reaksi dari sejumlah negara sekutunya. Tiga negara tetangga yakni Latvia, Estonia dan Lithuania, menegaskan posisinya untuk mendukung Ukraina. Dukungan yang diberikan tak lepas dari posisi ketiga negara yang juga merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

"Ukraina tidak akan pernah melakukannya sendiri. Kami berdiri di sisi Anda, kami berdiri dalam solidaritas," ujar Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis.