Arti Ghibah Secara Umum, Simak Cara Menghindarinya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Memahami arti ghibah akan menghindarkan dari perbuatan tercela dan dosa. Ghibah atau gibah dalam Islam, dosanya dikatakan lebih besar daripada zina. Apa arti ghibah sesungguhnya dan bagaimana Islam memandang ghibah?

Arti ghibah adalah perbuatan menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Dalam istilah sehari-hari atau paling populer, persamaan ghibah atau gibah adalah menggosip. Melakukan ghibah adalah berisiko menimbulkan fitnah.

Perkataan apa saja yang bisa menggambarkan arti ghibah? Ghibah adalah segala perkataan yang menyebutkan aib badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya.

Islam memandang arti ghibah adalah perbuatan atau perkataan yang tujuannya untuk menghancurkan orang lain. Pendapat tentang arti ghibah ini disampaikan oleh Yusuf Al Qardhawi dalam kitab Al Halal Waal Haram Fi al Islam, bahwa arti ghibah biasanya ditujukan untuk menghancurkan orang lain.

"Siapapun gemar menceritakan atau menyebarluaskan kejelekan saudara Muslim kepada orang lain diancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat." (QS. Surat An-Nur: 19)

Berikut Liputan6.com ulas tentang arti ghibah atau gibah lebih jauh dari berbagai sumber, Rabu (6/10/2021).

Memahami Arti Ghibah Secara Umum

Ilustrasi ngobrol. (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)
Ilustrasi ngobrol. (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti ghibah atau gibah adalah kegiatan membicarakan keburukan (keaiban) orang lain seperti bergunjing. Sementara dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, arti ghibah atau gibah adalah mengandung umpatan yang diartikan sebagai perkatan yang memburuk-burukkan orang lain.

Istilah arti ghibah atau gibah secara etimologi berdasarkan Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi arti ghibah atau gibah dapat dipahami, arti ghibah atau gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan.

Berdasarkan pemahanan dari Hasan Sa’udi dalam bukunya Jerat-Jerat Lisan yang terbit tahun 2003 dijelaskan, bahwa arti ghibah atau gibah adalah menceritakan tentang seseorang yang tidak berada di tempat dengan sesuatu yang tidak disukainya. Baik menyebutkan aib badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya.

Memahami Arti Ghibah Menurut Islam

Ilustrasi ngobrol, tertawa. (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)
Ilustrasi ngobrol, tertawa. (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

Dalam Islam, arti ghibah atau gibah bukan perilaku yang terpuji dan sangat dilarang karena berisiko menimbulkan fitnah. Sebagaimana “fitnah lebih kerji daripada pembunuhan.”

Imam Nawawi mendefinisikan arti ghibah atau gibah sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani demikian:

Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar mengikuti pandangan Al-Ghazali bahwa arti ghibah atau gibah adalah menceritakan tentang seseorang dengan sesuatu yang dibencinya baik badannya, agamanya, dirinya (fisik), perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, raut mukanya yang berseri atau masam, atau hal lain yang berkaitan dengan penyebutan seseorang baik dengan lafad (verbal), tanda, ataupun isyara.

Yusuf Al Qardhawi mendefinisikan arti ghibah atau gibah sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al Halal Waal Haram Fi al Islam sebagai berikut:

Arti ghibah atau gibah adalah suatu keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya.

Hal tersebut ditegaskan pula dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Perbuatan yang menjadi arti ghibah atau gibah ini selain menyebabkan tali persaudaraan putus, juga membuat seseorang yang melakukan dipenuhi dengan dosa karena mengungkap aib yang tidak semestinya dibicarakan.

Cara Menghindari Ghibah atau Gibah

Ilustrasi ngobrol, kerja di kantor, tertawa. (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)
Ilustrasi ngobrol, kerja di kantor, tertawa. (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)

1. Mengingat Kebaikan

Sebelum membicarakan keburukan seseorang, alangkah baiknya jika mengingat kebaikan orang tersebut terlebih dahulu. Maka, keinginan untuk membicarakan keburukan seseorang perlahan akan menghilang karena paham bahwa sebagai manusia biasa, pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk.

2. Berpikir Positif

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, seseorang akan menolak dengan perlahan dan khusnudzon atau berprasangka baik terlebih dahulu kepada orang yang akan dibicarakan tersebut.

3. Saling Mengingatkan

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, maka sebagai seorang muslim yang baik hendaknya mengingatkan teman bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.

4. Perbanyak Istighfar

Seorang muslim hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala dosa yang ia sengaja maupun tidak disengaja. Memperbanyak istighfar akan membuat seseorang senantiasa mengingat segala dosanya dan menghindari gibah.

5. Berkumpul dengan Orang Saleh

Tidak dapat dipungkiri jika pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari seseorang. Maka agar terhindar dari pergaulan yang salah, ada baiknya seorang muslim harus memilih dengan siapa ia berkumpul.

6. Menjaga Lidah dan Lisan

Seseorang dapat gibah karena dirinya tidak bisa menjaga lidah dan mulutnya untuk berkata sesuatu yang baik. Ketika tahu apa yang akan dibicarakan merupakan hal yang buruk, lebih baik tidak usah dikatakan, supaya terhindar dari bahaya lisan.

7. Menyadari Perbuatan yang Buruk

Agar tidak melakukan gibah, seseorang harus menyadari bahwa gibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah karena keburukan yang didapat tidak hanya pada orang yang menjadi bahan pembicaraan melainkan juga pada si pelaku gibah.

8. Intropeksi Diri

Intropeksi diri akan membuat seseorang merasa malu jika harus membicarakan keburukan orang lain sedangkan diri sendiri masih memiliki banyak kesalahan yang harus dibenahi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel