Arti Kemenangan Macron di Tengah Warga Prancis yang Terbelah

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Emmanuel Macron kembali terpilih jadi presiden Prancis untuk periode lima tahun kedua setelah mengalahkan rivalnya Marine Le Pen dalam pemilu putaran kedua kemarin.

Macron menjadi presiden pertama di zaman modern yang kembali dipercaya rakyat Prancis setelah menjalankan kebijakan dalam dan luar negeri secara penuh lima tahun. Artinya dua kali berturut-turut dia terpilih jadi presiden.

Meski di tengah kegaduhan media sosial saat ini, lalu orang-orang kaya Paris yang arogan dan massa yang kerap marah, masih ada jutaan warga Prancis yang merasa Macron tidak begitu buruk sebagai presiden.

Mereka adalah orang-orang yang menilai isu pengangguran tidak lagi jadi isu politik karena reformasi yang dijalankan Macron. Mereka juga menganggap penanganan Covid cukup berhasil dan isu soal umur pensiun harus diundur tak bisa dihindari.

Mereka juga melihat sosok pemimpin yang mampu tampil di panggung internasional. Mereka bangga ada seseorang di Elysee yang berani berbicara langsung dengan Putin meski dengan hasil nihil.

Mereka juga mengingat, di bawah kepemimpinan Macron, Prancis mampu memimpin Eropa di saat visinya untuk memperluaa otonomi militer dan ekonomi di Uni Eropa kian relevan.

Orang-orang itu boleh jadi tidak menyukai Macron, tapi mereka cukup menghormatinya.

Dilansir dari laman BBC, Senin (25/4), lima tahun lalu Macron bertaruh dengan politik modern. Dengan berdiri di tengah, dia menghapuskan pasangan dua kubu konservatif dan sosial demokrat dan dengan kekuasaannya dia menanamkan sistem pemerintahan yang terpusat dari Elysee.

Kubu oposisi dipaksa berada di posisi ekstrem kiri atau kanan. Dan dia sendiri meyakini kedua kubu ekstrem itu tidak akan menjadi ancaman. Sejauh ini dia terbukti benar, seperti yang diperlihatkan hasil pemilu.

Namun pemilu kali ini memperlihatkan sesuatu ya berbeda: banyak orang yang makin siap dengan isu "ekstrem". Mereka melakukannya karena berkat revolusi Macron, mereka tak punya tempat lagi untuk menentangnya.

Banyak warga pemilih--terutama jutaan dari mereka yang memilih kandidat kubu kiri Jean Luc Melenchon--kini ingin membalas terhadap Macron.

Mereka berharap bisa melakukannya dalam pemilu parlemen yang akan berlangsung Juni nanti. Tapi jika itu tidak berhasil maka mereka akan turun ke jalan berdemo anti-Macron, terutama jika dia akhirnya lenucurkan reformasi baru.

Emmanuel Macron akan memulai periode keduanya dengan pemerintahan baru. Dia akan lebih sering mendengarkan. Dia tahu ada luka yang harus dipulihkan. Masalahnya adalah dia sudah sering mengatakan itu dan banyak orang sudah tidak percaya padanya.

"Pemilu kali ini memperlihatkan ada dua kubu berseberangan di luar sana," kata pengamat Natacha Polony.

"Pada pemilu di masa lalu biasanya orang menganggap sang pemenang pada akhirnya adalah presiden bagi seluruh Prancis. Tapi kali ini saya tidak yakin," kata dia. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel