Asa Pemilik Rengginang Kidal Meraih Mimpi dengan Sebelah Tangan

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Cirebon - Adonan camilan rengginang tertata rapi di atas sebuah loyang. Bentuknya bulat pipih terbuat dari beras ketan murni. Satu per satu loyang berisi rengginang tersebut dikeluarkan dari oven oleh Yani Risnawati.

Setelah itu, loyang-loyang berisi rengginang dijejerkan satu persatu untuk didinginkan. Setelah dingin, rengginang tersebut dimasukkan ke dalam toples untuk kemudian digoreng.

Loyang berisi rengginang diangkat oleh Yani menggunakan kekuatan tangan kiri. Sembari itu, Yani pun menyiapkan beberapa boks rengginang yang sudah matang untuk dikirim ke Bogor dan Bandung.

Yani tak sendiri, dua petugas ekspedisi JNE datang membantu pengemasan. Yani menyiapkan boks Rengginang Kidal Cirebon yang akan dikirim.

Sementara, satu petugas kurir JNE mulai mengemas boks rengginang tersebut ke dalam sebuah kantong plastik. Rengginang yang sudah dibungkus tersebut kemudian dilapisi plastik gelembung atau bubble wrap.

Sementara, petugas yang lain menyiapkan lakban dan mencatat alamat tujuan pengiriman. Setelah selesai dikemas, petugas kemudian membawa paket rengginang untuk dikirimkan ke alamat tujuan.

"Saya terkena stroke sejak tahun 2013 kejadian di kereta dalam perjalan pulang ke Cirebon, kata dokter ada penyumbatan sebelah. Sampai sekarang saya rutin terapi ke dokter sambil jualan rengginang. Hampir setiap hari orang JNE kesini ambil pesanan," kata pemilik UMKM Rengginang Kidal ini, Jumat (21/1/2022).

Kondisi fisiknya yang kekurangan tidak menyurutkan Yani untuk bangkit mencari penghasilan ditengah keterbatasan.

Tahun 2017 silam, Yani diundang ke acara reuni SDN Kebon Baru 4 Cirebon. Ketika itu, Yani mengaku bingung ingin membawa oleh-oleh apa untuk teman-teman lamanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tangan Kiri

Yani Risnawati tengah sibuk mengangkat adonan rengginang  dari dalam oven untuk ditiriskan sebelum digoreng. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Yani Risnawati tengah sibuk mengangkat adonan rengginang dari dalam oven untuk ditiriskan sebelum digoreng. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

"Dalam keadaan stroke kebayang kan mesti kasih apa ke mereka sedangkan keuangan saya drop dengan pengobatan dan sebagainya. Akhirnya saya nekat bikin rengginang dan Alhamdulillah banyak yang suka. Kebetulan Wali Kota Bogor Bima Arya teman sekelas di SD Kebon Baru 4 Cirebon saya kasih juga dan suka," ujar dia.

Melihat respon baik dan dukungan penuh dari teman-teman SD nya. Yani pun mulai serius menekuni usaha pembuatan camilan rengginang.

Proses pembuatan rengginan kidal seluruhnya menggunakan tangan kiri. Ini yang menjadi cikal bakal Yani menamakan usahanya Rengginang Kidal.

Tak puas dengan hanya membagikan rengginang kepada teman-teman SD nya. Yani membagikan rengginang kepada dokter terapinya.

"Alhamdulillah suka juga bahkan dokter Yani menyarankan untuk mengurus proses administrasi dan perijinan seperti PIRT dan sebagainya. Katanya rasa rengginang Yani beda," ujar Yani.

Perlahan tapi pasti, usaha rengginang kidal Yani pun mulai banyak pesanan. Dari mulut ke mulut, banyak juga pelanggan baru yang memesan rengginangnya.

Yani semakin bersemangat menggeluti usaha rengginang saat dia bergabung dengan rumah BUMN. Dengan gigih, Yani mulai belajar berbisnis secara profesional.

Berbagai kegiatan patihan UMKM selalu diikuti Yani. Mulai dari manajemen keuangan, pemasaran hingga proses pengemasan.

"Kondisi Yani kan masih stroke tidak bisa nulis. Jadi untuk mensiasati nya Yani rekam dengan ponsel Alhamdulillah berhasil," kata dia.

Pengalaman Yani memproduksi rengginang kidal tidak sia-sia. Yani mulai memberanikan diri berjualan melalui online sejak tahun 2019.

Ekspedisi JNE

Proses pengemasan pesanan oleh petugas JNE di tempat produksi Rengginang Kidal Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Proses pengemasan pesanan oleh petugas JNE di tempat produksi Rengginang Kidal Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Saat itu, produksi rengginang Yani 3 kg sehari. Pasar rengginang Yani sebagian besar berada di luar Cirebon.

"Alhamdulillah saya pake jasa pengiriman JNE sejak tahun 2019. Dari dulu Yani diantar anak mengirim pesanan sendiri ke JNE nya dan sekarang dimudahkan dengan kurirnya datang ke rumah ambil pesanan," ujar dia.

Melihat pesanan semakin banyak, Yani mengajak empat orang tetangga rumahnya untuk menjadi karyawan. Yani menjual rengginang kidalnya melalui IG, Google Bisnis, WA, FB.

Seiring banyaknya pesanan, Yani mengaku punya banyak reseller dan menjual rengginang di marketplace.

"Memang banyak reseller itupun tumbuh dengan sendirinya. Mereka minta ijin saya jual di marketplace dan silahkan saja. Karena jujur untuk jual ke marketplace belum sanggup dan butuh tambahan orang. Jadi Yani hanya fokus produksi kemudian kirim saja," kata dia.

Rengginang buatan Yani dijual Rp 35 ribu per boks. Ada empat varian yakni terasi original, bawang, kencur dan daun jeruk.

Yani mengaku, usaha yang digelutinya sempat mendapat respon negatif lantaran proses pembuatannya menggunakan tangan kiri.

Namun, semangat Yani semakin menggebu setelah mendapat label halal dari MUI Jawa Barat hasil rekomendasi rumah BUMN.

"Orang pasti berfikir kidal tidak baik dalam Islam. Ketika proses halal MUI Jabar datang melihat langsung proses produksi. Yani kemudian tanya 'Pak kalau misal tangan kanan saya tidak berfungsi apa saya tidak boleh berusaha'. Sementara rengginang ini penopang ekonomi saya dan keluarga termasuk pengobatan. Akhirnya mereka meminta maaf dan Alhamdulillah dapat label halal," ujar Yani.

Pilihan JNE

Yani Risnawati tengah sibuk mengangkat adonan rengginang  dari dalam oven untuk ditiriskan sebelum digoreng. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Yani Risnawati tengah sibuk mengangkat adonan rengginang dari dalam oven untuk ditiriskan sebelum digoreng. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Hingga pada perjalanannya, Yani masuk salah satu kategori UMKM pilihan dalam program Pesona JNE.

Yani mengaku terbantu dengan layanan yang diberikan oleh JNE. Mulai dari pengemasan hingga sikap ramah petugas JNE kepadanya.

"Selain dibantu pengemasan dan pengiriman, kita dapat cashback kadang diajak podcast. Kemudian diberi pelatihan sampai promosi oleh pesona JNE. Saya ikut pesona JNE dari tahun 2020," ujar dia.

Promosi rengginang yang dilakukan secara online maupun dari mulut ke mulut juga menarik minat sejumlah artis ibu kota hingga pejabat negara.

"Tiba-tiba ada yang DM IG saya ternyata manajemen artis seperti Indi Barens, Fersy Hasan, Aldebaran. Bahkan saya terbantu lewat promosi mereka di media sosial pribadi. Saya juga diajak manajemennya ke lokasi syuting," kata dia.

Tidak ada proses yang menghianati hasil. Usaha yang ditekuni Yani kebanjiran pesanan saat pandemi covid-19 melanda Indonesia tahun 2020.

Ketika masa pandemi tahun 2020, penjualan rengginang kidal Yani naik 40 persen. Dalam sehari, Yani bisa mengirim sampai 30 boks, meningkat dari sebelum pandemi 10 boks.

"Sampai waktu itu malam takbiran arti Aming Ekstravaganza pesan dan mereka mau dikirim setelah lebaran. Tidak disangka pesanan Aming dikirim me Gabungan Artis Sunda (GAS) akhirnya manajemennya kontak Yani," ujarnya.

Selain artis, Menteri BUMN Erick Tohir dan Menparekraf Sandiaga Uno turut serta membantu promosikan produk rengginang kidal Yani.

Pasar Digital

Pemilik Rengginang Kidal Yani Risnawati saat memasukkan hasil pembuatan camilan khas Cirebon ke dalam sebuah boks untuk dikirim. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Pemilik Rengginang Kidal Yani Risnawati saat memasukkan hasil pembuatan camilan khas Cirebon ke dalam sebuah boks untuk dikirim. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Dia menjelaskan, rengginang kidal buatannya murni dibuat dari beras ketan. Dia mengakui harga jual rengginangnya berbeda karena bumbunya dibeli langsung dari pasar.

Selain itu, proses pengolahan rengginang juga masih terbilang konvensional. Disebutkan, proses pembuatan rengginang membutuhkan waktu 3 hari.

"Kan ada proses penjemuran di matahari tuh kalau lagi mendung terbantu oven dan layanan JNE," ujar dia.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Barat Herawanto mengatakan, sektor UMKM menjadi segmen yang melibatkan masyarakat banyak dengan strata luas. Bahkan, ketika pandemi dinyatakan berakhir, digitalisasi menjadi salah satu cara bertahan hidup dalam meningkatkan daya saing.

Dia menjelaskan, pentingnya mengelola sektor UMKM untuk membantu stabilitas rupiah yang dapat mempengaruhi keseimbangan arus modal masuk dan keluar.

"Salah satu hal yang patut di perhatikan seperti Thailand dan Malaysia itu aspek ekspornya kuatdan membantu menstabilkan nilai tukar mata uangnya. Logikanya ketika neraca pembayaran cenderung defisit artinya posisi negara kita terhadap luar sering dikatakan terindikasi ada kerawanan. Untuk itu, sektor UMKM menjadi kunci," ujar dia.

Pesona JNE

Pemilik Rengginang Kidal Yani Risnawati saat memasukkan hasil pembuatan camilan khas Cirebon ke dalam sebuah boks untuk dikirim. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Pemilik Rengginang Kidal Yani Risnawati saat memasukkan hasil pembuatan camilan khas Cirebon ke dalam sebuah boks untuk dikirim. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Branch Manajer JNE Cirebon Mufidz mengatakan, Pesanan Oleh-Oleh Nusantara (Pesona) JNE merupakan salah satu program dukungan dan wadah bagi para pelaku UKM untuk mengembangkan usahanya dengan perluasan pangsa pasar didalam maupun luar negeri.

Dia mengatakan, setiap saat selalu membuka kesempatan luas kepada seluruh pelaku UMKM di Cirebon untuk bergabung dalam program ini. Namun, ada beberapa seleksi untuk dinyatakan lolos dalam program Pesona JNE.

"Salah satunya mengirim sampel produk dikirim ke Pesona Jakarta kemudian diputuskan oleh tim di jakarta. Tapi selama ini rata-rata terpenuhi semua. Selain itu syarat lain sudah ada PIRT, tampilan menarik kemudian yang bersangkutan ada minat dan mengajukan ke JNE," kata Mufidz.

Dalam program tersebut, kata dia, tidak ada kriteria lama nya usaha bagi pelaku UMKM yang ingin berkembang dengan Pesona JNE.

Pada perjalanannya, Mufidz mengaku ciri khas pelaku UMKM di Cirebon sebagian besar produksi makanan kering. Selain itu, makanan khas daerah yang dianggap aman dari sisi pengiriman.

"Seperti terasi bawang hingga Rengginang kidal buatan bu Yani. Dan dalam Pesona JNE ini petugas kami datang langsung ke pelaku UMKM saat ada pesanan ke kami," ujar dia.

Mufidz menjelaskan, produk UMKM akan dipromosikan melalui website resmi Pesona JNE. Jika ada pesanan, pihak JNE langsung menghubungi pelaku UMKM.

Menurutnya, pertumbuhan UMKM di Cirebon sudah terlihat sejak tahun 2015. Memasuki pandemi covid-19, volume pengiriman produk UMKM meningkat.

Dia menyebutkan, rata-rata volume pengiriman barang melalui JNE selama pandemi covid-19 naik 20 persen secara keseluruhan. Tercatat di Cirebon ada 40 UMKM, dari jumlah tersebut, tecatat ada 70 varian produk UMKM.

"Selain membantu kelancaran usaha UMKM. Program ini juga sebagai komitmen JNE membantu pengembangan UMKM. Makannya bukan hanya dari sisi pengiriman saja kami juga rutin mengadakan kegiatan pelatihan UMKM hingga pameran. Bahkan sampai ada warga yang mengira kalau JNE juga jualan produk setiap menggelar pameran UMKM," kata Mufidz.

Deputy Branch Head JNE Cirebon Firman Ramadhan mengatakan, pada awal pandemi covid-19, pengiriman paket melalui JNE sedikit menurun. Namun, menunjukkan peningkatan khususnya di Jawa Barat sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Seiring dengen terkendalinya perekonomian saat pandemi covid-19, jumlah pengirim paket melalui JNE meningkat. Kondisi tersebut, kata dia, sangat dirasakan sekali oleh perusahaan jasa ekspedisi JNE.

"Kami berkeyakinan bahwa jika ekosistem tumbuh, maka JNE pun akan turut berkembang dengan baik. Kami akan selalu memberikan dukungan agar memperlancar dan meningkatkan perekonomian rakyat terutama kemajuan UMKM," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel