Asal-usul Tari Tor-tor dan Alat Musik Gondang 9  

TEMPO.CO, Jakarta - Kantor berita Malaysia, Bernama, melansir berita bahwa Menteri Rais berencana mendaftarkan kedua budaya masyarakat Sumatera Utara itu dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005. Menanggapi klaim Malaysia, Ketua Lembaga Adat Sidempuan Saleh Salam Harahap angkat bicara. (Baca: Malaysia Pengin Klaim Tarian Tortor)

Saleh menyatakan alat musik gondang 9 (sembilan gendang) dan tari tor-tor adalah budaya yang telah lama ada dan dikenal luas di suku Batak dan Mandailing. ”Budaya itu sudah ada sejak 500 tahun lalu di Mandailing,” katanya, Minggu 17 Juni 2012. (Baca: Malaysia Klaim Tari Tortor, Indonesia Harus Tegas)

Ia pun menceritakan asal-usul kesenian Indonesia ini. Alat musik gondang 9 dan tari tor-tor digelar bersamaan. Pada suku Mandailing, gondang 9 dan tari tor-tor digelar untuk perayaan, hajatan, dan penyambutan tamu yang dihormati.

Pada masa kolonial, kesenian ini menjadi hiburan para raja dan sebagai bentuk perlawanan terhadap serdadu Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh, menandakan kedatangan serdadu Belanda. Ketika gondang dibunyikan, masyarakat diminta mengungsi. "Bunyi lainnya meminta masyarakat untuk kembali ke kampung karena serdadu sudah pergi,” Saleh berujar.

Suku Mandailing pun berbeda-beda dalam menyebut alat musik gondang. Mandailing yang bermukim di wilayah Angkola, Sidimpuan, Tapanuli Selatan, mengenal dengan sebutan gondang 2. Sebelumnya disebut gondang 7 di tiga wilayah itu. Hanya di Mandailing Natal yang sebutannya tetap sampai sekarang, gondang 9.

Adanya perubahan sebutan gondang 7 menjadi gondang 2 karena kesenian budaya ini sempat dilarang pada masa penjajahan. Mengingat sering digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kompeni. ”Alatnya juga berat untuk dibawa bila mengungsi,” kata Saleh.

Saleh yakin upaya Malaysia mengklaim budaya itu akan dihadang komunitas Mandailing yang tersebar di Malaysia. (Baca: Lembaga Adat Mandailing Lawan Klaim Malaysia)

”Ada dua lembaga adat Mandailing di Malaysia, dan saya kenal pada pemangku adatnya. Tidak mungkin para pemangku adat Mandailing di Negara Bagian Perak, Malaysia, dan di Kuala Lumpur menggadaikan kebudayaan sukunya,” kata Saleh.

Dia menuturkan ada Lembaga Paham (Persatuan Halak Mandailing-Malaysia) di Kuala Lumpur. Saleh yang kerap berkunjung ke Malaysia dalam rangkaian kegiatan kebudayaan menyebutkan 26 kampung suku Mandailing di negeri jiran. Mereka mayoritas bermarga Harahap, Siregar, Nasution, dan Hasibuan. ”Kesehariannya di kampung itu mereka menggunakan bahasa Mandailing,” Saleh berujar.

SOETANA MONANG HASIBUAN | NIEKE INDRIETTA

Berita Terkait:

Ruhut: Klaim Tari Tortor, Malaysia Perlu Dibom

Malaysia Klaim Tari Tortor, Indonesia Harus Tegas

Nuh: Dialog Kebudayaan untuk Klaim Tarian Tortor

Kemenlu Tunggu Laporan Resmi Klaim Tari Tortor

Malaysia Pengin Klaim Tarian Tortor

Lembaga Adat Mandailing Lawan Klaim Malaysia

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.