ASEAN-China perkuat kerja sama pencegahan penyakit zoonotik

Menteri Kesehatan se-ASEAN memperkuat hubungan kerja sama dengan China dalam upaya pencegahan penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonotik) lewat pendekatan One Health.

"Indonesia menegaskan komitmen kami untuk mempromosikan pendekatan One Health dalam kerja sama ASEAN dan China di bidang kesehatan," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat memimpin Pertemuan ke-8 Menteri Kesehatan se-ASEAN dengan delegasi khusus China di Nusa Dua, Bali, Minggu.

Budi yang juga menjabat sebagai Ketua Menteri Kesehatan se-ASEAN mengatakan Pertemuan ke-15 Menteri Kesehatan se-ASEAN (the 15th ASEAN Health Ministers Meeting/AHMM) di Nusa Dua Bali menandai upaya berkelanjutan ASEAN-China untuk mengembangkan kolaborasi, menetapkan rekomendasi dalam pernyataan bersama untuk memperkuat pendekatan One Health melalui berbagi pengalaman dan pembelajaran.

One Health merupakan upaya pendekatan kolaborasi antarnegara untuk mencapai kesehatan optimal bagi manusia, hewan dan lingkungan.

Budi mengatakan manusia, hewan, dan lingkungan memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Sayangnya, manusia menempatkan kepentingan mereka di atas makhluk hidup lainnya dan mengeksploitasi.

Baca juga: Menkes se-ASEAN setuju bentuk ACPHEED untuk hadapi pandemi masa depan

Baca juga: ASEAN dorong konvergensi digital paspor vaksinasi berlaku global

Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi yang tak terhitung banyaknya yang menyebabkan munculnya penyakit zoonotik yang mengancam kehidupan manusia.

Selama 19 tahun, kata Budi, ASEAN dan China menghadapi beberapa wabah yang disebabkan oleh penyakit zoonotik, seperti Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan flu burung (H5N1) pada 2003, serta SARS-CoV-2 pada 2019.

"Daftarnya tidak akan berhenti di situ. Akan ada wabah berikutnya yang berpotensi menyebabkan pandemi," katanya.

Budi mengusulkan sejumlah upaya intervensi, di antaranya memperkuat kapasitas dan kapabilitas hingga ke daerah dengan mengoptimalkan platform berbagi informasi yang ada di ASEAN, seperti Jaringan Pusat Operasi Darurat ASEAN, dikombinasikan dengan komitmen untuk berbagi data secara terbuka melalui GISAID Platform.

"Optimalisasi harus melibatkan data besar, kecerdasan buatan, dan internet untuk memungkinkan pengawasan global terintegrasi secara real time terhadap penyakit manusia, hewan, dan tumbuhan," katanya.

Selain itu, Budi mendorong ASEAN-China untuk mengembangkan pusat dan jaringan penelitian regional. "Saya percaya pada kekuatan investasi, dan investasi dalam penelitian dan pengembangan akan menghasilkan pengembalian terbesar bagi kemampuan kawasan di masa depan untuk merespons pandemi," ujarnya.

Seperti yang telah dipelajari selama pandemi COVID-19, kata Budi, data genom global yang dipelajari oleh para peneliti telah memungkinkan penemuan dan pengembangan vaksin yang cepat serta menyelamatkan nyawa manusia.

Budi mengatakan pendekatan One Health juga perlu didukung kemampuan manufaktur lokal untuk tindakan pencegahan medis di negara-negara anggota ASEAN dengan memanfaatkan keahlian dan pengetahuan China.

"Mengambil pelajaran dari pandemi, kita dapat dengan cepat merespons melalui kerja sama business-to-business dan multilateral maupun regional. Dengan memiliki manufaktur lokal, masing-masing negara anggota ASEAN akan memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih kuat ketika pandemi lain melanda," katanya.

Hal terpenting, kata Budi, adalah tindakan mengamankan pasokan vaksin, terapi, dan alat diagnostik yang memadai.

Baca juga: AHMM sorot kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di ASEAN imbas pandemi

Baca juga: Indonesia ajak negara ASEAN sigap tangani kedaruratan kesehatan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel