Aset Bank Sentral Afganistan Senilai Rp 136 Triliun Dibekukan AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah AS membekukan setiap aset dari Bank Sentral Afganistan, serta menghentikan menghentikan transaksi pengiriman uang tunai ke negara tersebut. Langkah ini agar aset-aset yang disimpan pemerintah Afghanistan tidak digunakan untuk Taliban. Adapun aset yang dibekukan hampir USD 9,5 miliar atau kurang lebih Rp 136,99 triliun.

Informasi ini pertama kali dipublikasikan oleh The Washington Post. Dalam laporan tersebut diungkap bahwa Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan personel di Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan telah memutuskan untuk membekukan rekening Bank Sentral Afghanistan.

Pernyataan itu dibuktikan oleh salah satu pejabat pemerintah yang mengatakan pada Al Jazeera, Kamis (19/08/2021). “Aset bank sentral apapun yang dimiliki pemerintah Afghanistan di AS tidak akan tersedia untuk Taliban,” ujar salah satu pejabat bank.

Tak hanya itu, Departemen Luar Negeri AS juga sudah berkonsultasi dan diputuskan oleh White House bahwa pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan tindakan lainnya untuk menekan Taliban.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Biden tidak lagi memerlukan otoritas baru untuk membekukan cadangan di bank karena Taliban sudah berada di bawah sanksi dari perintah eksekutif yang telah disetujui setelah serangan teroris 11 September 2001.

Kemudian, melansir dair Bloomberg, Washington juga turut memberhentikan kegiatan transaksi uang tunai ke Kabul sebagai bagian dari upaya untuk mencegah pemerintah yang dipimpin Taliban untuk mengakses uang.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sanksi yang Diterima Taliban

Pejuang Taliban berpatroli di sepanjang jalan di Kabul (17/8/2021). Taliban bergerak untuk segera memulai kembali ibu kota Afghanistan setelah pengambilalihan Kabul n dan menyuruh staf pemerintah untuk kembali bekerja. (AFP/Wakil Kohsar)
Pejuang Taliban berpatroli di sepanjang jalan di Kabul (17/8/2021). Taliban bergerak untuk segera memulai kembali ibu kota Afghanistan setelah pengambilalihan Kabul n dan menyuruh staf pemerintah untuk kembali bekerja. (AFP/Wakil Kohsar)

Kepala Da Afghan Bank (DAB) Ajmal Ahmady mengunggah sebuah cuitan bahwa ia telah mengetahui pada Jumat kemarin pengiriman dolar akan berhenti setelah AS mencoba pembekuan transaksi tersebut agar Taliban tidak bisa mendapatkannya.

Saat ini sanksi yang diberikan AS terhadap Taliban berarti mereka tidak dapat mengambil dana apapun. Selain itu, melansir dari Sambad English sebagian besar aset DAB tidak lagi disimpan di Afghanistan.

Meskipun demikian, media Afghanistan menanggapi bahwa keputusan tersebut tampaknya akan membuat warga lokal terpuruk, mengingat apa yang sudah dialami Afghanistan beberapa hari belakangan ini, kecuali provinsi Panjshir.

Berdasarkan Dana Moneter Internasional, DAB, bank sentral milik Afghanistan sudah memiliki aset sebanyak USD 9,4 miliar per April 2021. Aset tersebut bukan hanya berisikan uang dolar saja, melainkan emas dan perbendaharaan AS.

Situasi ini dianggap cukup mencekam karena Taliban masih belum mendapatkan pengakuan dari negara manapun di dunia sehingga menyebabkan mereka akan semakin sulit untuk mengakses dana eksternal.

Oleh karena itu, pembatasan ini telah membuat mata uang Afghanistan, yaitu Afghani mengalami kerugian sejak pengambilalihan Taliban di akhir pekan ini.

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel