Aset First Travel Bakal Disita Negara, Korban: Saya Gak Ikhlas!

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Jakarta, IDN Times - Putusan Mahkamah Agung yang menguatkan vonis Pengadilan Negeri Depok dan Pengadilan Tinggi Bandung bahwa aset FT agar aset First Travel disita negara mendapat perlawanan dari korban.

Seorang korban bernama Eli mengatakan dirinya tidak ikhlas jika duit yang ia setor ke First Travel untuk umrah kemudian dirampas negara. Penolakan tersebut disampaikan Eli dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC): First Travel Dijerat, Negara Untung, yang disiarkan TVOne pada Selasa (19/11) malam.

1. Salah satu korban, Eli, mempertanyakan keadilan terkait kasus ini

Aset First Travel Bakal Disita Negara, Korban: Saya Gak Ikhlas!

Bagi Eli, salah satu korban kasus FT ini, ia menjelaskan bahwa sejak Lebaran 2017, ia terus mencari kejelasan terkait nasibnya untuk bisa berangkat umrah ke Arab Saudi.

"Janji First Travel, saya dan ibu saya akan diberangkatkan pada Maret 2017. Tapi saat itu, mereka gak menepati dan saya diminta untuk tambah biaya Rp2,5 juta per orang. Saya jatuh-bangun carikan uang Rp5 juta untuk saya dan ibu saya, tapi sampai saat ini saya belum dapat keadilan dan tidak tahu harus cari ke mana," keluh Eli.

2. Mengaku tak ikhlas bila aset First Travel disita oleh negara dan tidak dikembalikan ke korban

Aset First Travel Bakal Disita Negara, Korban: Saya Gak Ikhlas!

Eli sendiri menegaskan bahwa ia tak ikhlas jika aset FT nantinya disita oleh negara seperti putusan dari MA. Menurutnya, uang itu harus dikembalikan kepadanya karena itu uang yang sangat berharga baginya.

"Jujur, saya tidak ikhlas jika itu diserahkan ke pemerintah. Bagi negara mungkin uang itu tak seberapa, tapi bagi saya sangat berharga. Saya harus bangun jam 3 pagi, lalu jualan nasi uduk, saya susah payah mengumpulkan uang itu," ujar Eli dengan suara terbata-bata menahan tangis.

3. Kini, sang ibu sudah meninggal dan kasus FT tak menemui kejelasan

Aset First Travel Bakal Disita Negara, Korban: Saya Gak Ikhlas!

Dua tahun berselang, Eli sendiri menegaskan bahwa ia akan terus mencari keadilan. Kini, sang ibu yang sedianya akan berangkat umrah bersamanya, harus berpulang lebih dulu bahkan ketika kasusnya belum menemui titik terang.

"17 September lalu, ibu saya meninggal dunia. Dia selalu tanya ke saya tiap saya pulang dari sidang di Pengadilan Depok, bagaimana hasil sidang dan sejenisnya. Beliau selalu tanya karena ingin melihat saya berangkat umrah," tutup Eli.