Asik, Ada Subsidi Ongkir Rp 500 Miliar di Hari Belanja Nasional Jelang Lebaran 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah akan menyiapkan anggaran sebesar Rp500 miliar untuk mendukung hari belanja nasional. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mensubsidi biaya ongkos kirim pembelian melalui platform online.

"Di mana untuk hari belanja nasional melalui online itu ditujukan untuk produk nasional dan pemerintah akan mensubsidi ongkos kirim sehingga pemerintah menyiapkan Rp 500 miliar," katanya usai sidang rapat kabinet, Rabu (7/4).

Hari belanja nasional untuk tahun ini dimulai pada H-10 sampai dengan H-5 Lebaran. Pemerintah berharap dengan pemberian subsidi ini produk penjualan UMKM Tanah Air bisa meningkat tajam. Sehingga akan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyebut, pemerintah akan kembali memberikan stimulus kepada pelaku Usaha Mikro Keciil dan Menengah (UMKM) sebesar Rp400 miliar. Hal itu dilakukan untuk mendukung pemulihan khusus bagi UMKM.

"Laporan yang saya dapat demand terus naik, dan juga nanti stimulus Rp400 miliar tanggal 20 bulan ini akan diluncurkan," kata Luhut di acara Pembukaan UKM Jawa Barat Paten, Sabtu (3/4).

Meski begitu, dirinya tidak menjelaskan stimulus seperti apa yang nantinya bakal diberikan kepada UMKM.

Tak sampai di situ, pemerintah juga akan berencana mengguyur sebesar Rp2 triliun untuk gerakan bangga berwisata di Indonesia. Rencananya, ini baru akan dilakukan pada Juni-Juli 2021 mendatang.

"Ini saya pikir langkah-langkah pemerintah betul-betul proaktif untuk pendukung ekonomi kita lebih kuat," jelasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Transaksi Harbolnas 2020 Capai Rp 11,6 Triliun

Ilustrasi Belanja Online Credit: pexels.com/NegativeSpace
Ilustrasi Belanja Online Credit: pexels.com/NegativeSpace

Penyelenggaraan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2020 berhasil mencatatkan nilai transaksi di atas Rp 11,6 triliun. Angka tersebut melebihi target yang dipasang Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) sebagai penyelenggara.

Nilai transaksi tersebut tercatat dalam hasil survei yang dilakukan perusahaan riset ternama di Indonesia, Nielsen Indonesia. Survei digelar sepanjang penyelenggaraan Pesta Diskon Tahunan 12.12 pada 11 dan 12 Desember 2020. Nielsen melakukan pemantauan penuh selama dua hari tersebut.

“Menilik hasil survei, perekonomian Indonesia terbilang kuat dan punya potensi untuk bangkit lebih cepat,” ujar Bima Laga, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Rabu (23/12/2020).

Hal tersebut memberikan rasa optimisme pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor digital, terutama industri e-commerce.

Melalui dorongan dari para pelaku industri digital, tentu akan memberi dampak positif terhadap persebaran konsumen Harbolnas kali ini yang mengalami kenaikan. “Hal ini menumbuhkan optimisme bahwa ekonomi digital kita bisa memberi sumbangsih besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Di samping itu, masa pandemi yang melanda Indonesia ini membuat para konsumen masih memiliki daya beli yang cukup tinggi.

“Dibandingkan tahun sebelumnya, oline shopper pada Harbolnas periode 2020 mereka semakin antusias. Mereka mau menunggu sampai tengah malam untuk menikmati promonya. E-commerce banyak memberikan promo. Hal itu yang menjadi pembeda dari tahun lalu karena adanya antusias tersebut di tahun ini yang lebih tinggi,” ujar Rusdy Sumantri, Director of Nielsen Indonesia.

Profil Konsumen

Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay
Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay

Pandemi ternyata memberi pengaruh pada pergeseran pola perilaku konsumen dalam berbelanja online. Seperti diketahui, tren belanja online melesat naik sejak COVID-19 merajalela di Indonesia, tapi yang menarik adalah penemuan siapa profil konsumen tersebut.

Konsumen yang menjadi pasar terbesar berada pada kalangan milenial. Yakni 36 persen ada pada rentang usia 15-24 tahun, serta 34 persen lainnya pada kelompok umur 25-34 tahun. Kalangan yang terbilang dewasa yakni pada rentang usia 35-44 tahun hanya berkisar 19 persen saja. Sisanya merupakan konsumen di kelompok usia 45 tahun ke atas. Kaum pria masih mendominasi pembelian.

Fakta menarik lainnya adalah kenaikan transaksi dari luar Jawa. Dominasi transaksi di pulau paling padat di Indonesia ini mulai bergeser. Dari total kenaikan penjualan yakni 28 persen dibandingkan Harbolnas tahun lalu, kenaikan yang besar berasal dari luar Jawa yakni sekitar 97 persen.

Lalu, produk-produk yang mendominasi minat konsumen, pada dasarnya sudah bisa diprediksi. Bersaing tipis antara produk perawatan diri, makanan dan minuman, serta kebutuhan sehari-hari, ketiga produk inilah yang mengalami kenaikan yang signifikan selama Harbolnas di masa pandemi.

Sebagian besar pembelian produk-produk tersebut menyasar buatan lokal. Sumbangsih dari produk lokal mencapai 22 persen. “Kontribusi lokal produk pun mengalami kenaikan sangat tinggi sekali menjadi 5,6 triliun,” ujar Rusdy.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: