Askrindo Peduli Korban Tanah Longsor Sumedang

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo, anggota Holding Perasuransian dan Penjaminan, Indonesia Financial Group, melakukan aksi sosial di wilayah bencana alam sebagai bentuk aksi Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) dalam program Askrindo Peduli.

Salah satu aksi sosial tersebut yakni menghibur anak-anak korban bencana seperti membacakan dongeng, kuis berhadiah dan menonton tayangan edukasi anak bersama-sama yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sedih anak-anak.

Seperti yang dilakukan Askrindo hari ini, (1/2) di tempat relokasi pengungsian bencana tanah longsor Sumedang, Jawa Barat. Kondisi seperti ini perlu adanya penanganan yang tepat.

Dengan menghadirkan konselor, psikolog anak dan story teller, Askrindo dan PAUD Institute bekerjasama untuk mengembalikan keceriaan anak-anak melalui Mobil Pintar (MoPi).

Mobil Pintar atau MoPi adalah perpustakaan keliling yang lebih difokuskan untuk anak usia dini (PAUD) sampai dengan Sekolah Dasar. Selain itu pada saat bencana, Mopi tidak hanya sebagai perpustakaan keliling namun sebagai prasarana dalam memulihkan dan membangkitkan semangat anak-anak, seperti kegiatan trauma healing.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa program yang dilakukan oleh Askrindo sangat baik bagi pemulihan kondisi psikologis anak.

“Dukungan Askrindo sangat efektif untuk menghibur anak-anak korban bencana. Tidak hanya keberadaan Mobil Pintar, namun bantuan buku juga sangat penting untuk mengalihkan perhatian dari ingatan akan bencana yang dialami dan ini merupakan bagian dari sesi trauma healing,” ujar Arist.

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Wilayah II Askrindo, I Gede Putrawidjaja menambahkan selain memastikan kondisi psikis anak-anak, sesaat setelah terjadi bencana tanah longsor, Askrindo telah memberikan sejumlah bantuan berupa pakaian, sembako, susu bayi dan bubur bayi ke wilayah bencana longsor di Sumedang.

"Selain menghibur anak-anak disini, Askrindo khusus datang untuk memberikan tambahan bantuan berupa paket gizi bagi anak-anak seperti susu dan biskuit," tutup Gede.

Askrindo Telah Beri Penjaminan ke 6.607 Debitur Program Kredit Modal Kerja PEN

PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo (dok: Askrindo)
PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo (dok: Askrindo)

PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo mencatat penjaminan Kredit Modal Kerja (KMK) untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sudah mencapai Rp 3,7 triliun hingga per 28 September 2020. Adapun dari realisasi tersebut total debitur KMK PEN mencapai 6.607.

Direktur Utama Askrindo Dedi Sunardi mengatakan, sejak diluncurkannya program penjaminan KMK PEN pada Juli 2020 sampai dengan September angkanya terus mengalami kenaikan. Di mana posisi Juli KMK PEN dijamin baru Rp 391 miliar. Pada Agustus meningkat menjadi Rp 1,5 triliun dan sampai 28 September sudah mencapai Rp 1,8 triliun.

"Secara total, Askrindo sudah menyalurkan sebanyak Rp 3,7 triliun," kata dia dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Selanjutnya, untuk penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dari plafon yang mencapai Rp 397,4 triliun, Askrindo sudah menjamin KUR dengan nilai Rp 279,8 triliun atau sudah terserap 70,4 persen, sampai dengan 28 September 2020.

Total penerima jaminan KUR sudah diberikan kepada 20,9 juta debutur dan tenaga kerja yang terserap di sektor KUR ini sudah mencapai 40,8 juta tenaga kerja. "Ini yang hanya disalurkan oleh Askrinro saja," jelas Dedi.

Kendati begitu, Dedi menyadari gearing ratio akan mengalami kekurangan pada 2021 apabila Askrindoterus menyalurkan. "Gearing ratio akan mengalami kekurangan pada tahun 2021 apabila kami terus menyalurkan. Namun pada posisi Agustus 2020, gearing ratio kami sudah 13x dari risk appetite yang ingin dicapai 20x sesuai POJK," ujarnya.

Gearing ratio sendiri merupakan jumlah pinjaman dengan selisih penjumlahan ekuitas dan pinjaman subordinasi dengan penyertaan. Rasio ini bisa meningkat jika perusahaan yang bersangkutan memperoleh pertumbuhan laba. Sebaliknya, gearing ratio bisa menurun karena perlambatan bisnis pembiayaan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: