Asmara Terlarang Kopda Muslimin

Merdeka.com - Merdeka.com - Dor! Rina Wulandari (34) terkapar setelah diterjang peluru yang ditembakkan orang tak dikenal di depan rumahnya. Tembakan tak sampai merenggut nyawanya, malah dalang percobaan pembunuhan itu yang tak lain adalah sang suami, Kopda Muslimin, akhirnya tewas diduga bunuh diri dalam pelarian.

Kasus ini dilatarbelakangi prahara rumah tangga Kopda Muslimin dengan Rina. Meskipun dari sisi ekonomi mapan, pasangan ini menyimpan masalah. Salah satunya, Muslimin ternyata menjalin asmara terlarang dengan wanita lain.

Mundur beberapa pekan sebelum kejadian, Muslimin yang tengah gundah-gulana mencurahkan keresahannya pada Sugiono alias Babi, teman minum yang juga suami dari pekerjanya di bisnis toto gelap (togel). Personel TNI ini menyatakan ingin menghabisi istrinya, Rina.

Awalnya Ingin Gunakan Racun Kecubung

Sugiono meneruskan curhat Muslimin kepada rekannya Agus Santoso alias Gondrong di Magetan. Agus kemudian dibawa untuk bertemu Muslimin di rumahnya, Jalan Cemara III, Banyumanik, Semarang. Saat berbincang di sana, mereka berbisik.

Ingin berbincang lebih leluasa, mereka membuat janji untuk bertemu di daerah Simongan. Dalam pertemuan itu, Muslimin menyampaikan keluh kesahnya.

"Dia cerita keadaan keluarganya tidak kuat dari tekanan dari istrinya yang selalu mengekang. Dia meminta istrinya untuk dibunuh. Saya sarankan diberi pelajaran saja. Diberi air kecubung, kalau sakit kan dia ke suami juga," cerita Agus di Mapolrestabes Semarang.

Muslimin sempat setuju dan meminta Agus untuk membawakannya kecubung. Namun, dia tidak berani untuk mencampurkannya ke minuman Rina, karena takut ketahuan sang istri.

Tawarkan Upah Rp200 Juta

Singkat cerita, Muslimin tetap ingin Rina dihabisi. Dia bahkan merancang skenario perampokan. Agus dipersilakan mengambil benda berharga di rumahnya sebagai bayaran dari aksi yang dia rancang.

Tapi Agus tegas meminta biaya yang jelas. Muslimin menawarkan Rp200 juta.

Agus menyatakan jumlah yang ditawarkan tidak cukup. Dia minta ditambah dengan satu unit mobil Toyota Yaris. Muslimin menyanggupi.

Beli Senjata Api

Agus kemudian pulang ke Magetan. Beberapa hari berselang dia mendapat cerita ada orang yang ingin menjual senjata api. Dia pun mengajak Sugiono untuk transaksi.

Mereka membeli senjata api itu seharga Rp2 juta tiga hari sebelum penembakan. "Uangnya Rp3 juta, saya potong Rp1 juta," aku Agus.

Sugiono sama belum pernah menggunakan pistol. Pria ini mendapat kursus singkat dari penjualnya, Dwi Sulistiono. Dia diajarkan cara penggunaan senjata api itu saat transaksi.

Pistol itu dibeli bersama 7 peluru. Sesampainya di rumah, Sugiono mencoba menembakkan sebutir peluru. "Senjata itu punya teman saya yang saat ini bekerja di Kalimantan. Saya diminta menjualkan," jelas Dwi.

Ajak Dua Teman

Tidak hanya Agus dan Sugiono, eksekusi Rina melibatkan Ponco Aji Nugroho dan Supriono. Mereka tidak sengaja bertemu, namun diajak ikut serta dalam aksi kejahatan itu karena tergiur upah yang dijanjikan Muslimin.

Setelah semua persiapan, Agus Cs awalnya hanya diminta mengambil uang muka pembunuhan pada Senin (18/7) pagi. Namun, perintah berubah. Muslimin mendadak meminta agar Rina dihabisi hari itu juga.

Sekitar pukul 08.00 WIB, para tersangka melakukan pematangan. Mereka diminta menghabisi Rina saat keluar rumah untuk menjemput anaknya di sekolah.

Para pelaku menunggu aba-aba di pertigaan Jalan Cemara 3, tak jauh dari kediaman korban. Mereka terus dipandu Muslimin melalui telepon.

Eksekusi Korban

Saat Rina keluar rumah mengendarai sepeda motor untuk menjemput anaknya, Muslimin langsung mengabarkannya ke Agus Cs. Mereka pun mencoba mengejar perempuan itu namun terlambat dan kehilangan jejak.

Mereka akhirnya memutuskan untuk menembak Rina saat pulang dari menjemput anaknya. Perintah Muslimin tegas, istrinya harus ditembak di bagian kepala. Anaknya tidak boleh terkena peluru.

Sekitar pukul 11.38 WIB, Sugiono yang dibonceng Ponco mengendarai Kawasaki Ninja membuntuti Rina yang pulang bersama anaknya. Agus bersama Supriono menggunakan Honda Beat memantau dari kejauhan.

Di depan rumah, Sugiono menembak Rina. "Tidak ada rencana siapa yang menembak. Kebetulan ketika itu saya yang memegang tas berisi senjata," akunya.

Dalam penembakan itu, Sugiono tidak menuruti perintah Muslimin. Pria itu tidak tega menembak kepala Rina. Dia menembak ke arah perut perempuan yang sedang mengendarai sepeda motor itu.

"Saya tidak tega tembak kepala, soalnya kenal dengan ibu itu. Terpaksa saya tembak bagian perutnya," akunya.

Dor! Mereka langsung kabur ke posko awal tempat mereka melakukan pemantauan, sekitar 200 meter dari lokasi penembakan.

Tiba-tiba Muslimin menelepon mereka sambil marah-marah. Dia mengatakan tembakan tidak kena dan memerintahkan Sugiono kembali melakukan penembakan.

Ponco pun memutar kendaraannya dan mendekati Rina yang sudah dalam posisi berdiri di samping sepeda motor bersama anaknya. Korban menyadari datangnya penyerang. Dia mencoba memukul pelaku dengan tas sekolah anaknya.

Sejurus kemudian, Sugiono membidikkan senjata ke tubuh Rina. Pelatuk ditarik, korban terkapar bersimbah darah. Ponco dan Sugiono langsung melarikan diri.

Dipantau dari Lantai Dua

Saat penembakan, Muslimin sedang berada di lantai dua rumahnya, tepatnya di ruangan yang memiliki monitor CCTV. Dia dikabarkan tidak langsung bergegas setelah istrinya terkapar bersimbah darah.

Beberapa menit berselang, barulah Rina dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya dilaporkan stabil setelah dua kali menjalani operasi karena proyektil peluru yang menembus organ dalamnya. Korban masih dirawat di ruang ICU RSUP Dr Kariadi Semarang.

"Masih dirawat di ICU RS Kariadi usai menjalani operasi kedua," kata Kepala Kesehatan Kodam IV/ Diponegoro Kolonel Bima Wisnu Nugroho di Semarang, dilansir Antara, Kamis (28/7).

Rina sudah dalam kondisi sadar, namun lemah. Korban pun masih menggunakan ventilator dalam proses perawatannya di rumah sakit. "Semaksimal mungkin akan pulihkan pasien," tambahnya.

Pembayaran Upah

Di rumah sakit, Muslimin menelepon eksekutor untuk penyerahan upah. Mereka bertemu di minimarket. Agus dan Sugiono menerima Rp120 juta.

Uang itu kemudian dibagi-bagi bersama Ponco dan Supriono. Masing-masing mendapat antara Rp24 juta hingga Rp30 juta. Ada yang dibelikan sepeda motor hingga emas, ada pula yang menggunakannya untuk biaya pernikahan.

Upah Rp120 juta yang dibayarkan Muslimin itu ternyata bagian dari Rp210 juta yang dimintanya dari ibu mertuanya. Alasannya untuk biaya perawatan Rina di rumah sakit. Sementara Rp90 juta dibawa Muslimin melarikan diri.

Viral di Media Sosial

Penembakan terhadap Rina viral di media sosial. Peristiwa itu juga menjadi perhatian media massa.

Awalnya, kejadian itu diduga sebagai pembegalan. Namun, penyelidikan yang dilakukan polisi bersama TNI menunjukkan dugaan perencanaan dalam kejadian itu.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa pun memberi bocoran terkait perkembangan penyelidikan. Dia mengatakan, Kopda Muslimin diduga terlibat dalam penembakan istrinya.

"lya, itu karena kan sudah pemeriksaan bukan hanya saksi, tapi juga dari elektronik dan semuanya mengarah ke sana. Jadi itulah yang kami dapatkan sejauh ini," kata Andika kepada wartawan di Mako Kolinlamil, Jakarta Utara, Jumat (22/7).

Jenderal bintang empat ini menambahkan, TNI telah memiliki saksi yang mempunyai hubungan khusus dengan Muslimin.

Sementara Muslimin telah menghilang sejak kasus penembakan itu. Jajaran TNI memburunya.

Andika menyatakan telah memerintahkan seluruh jajaran untuk memburu Muslimin. "Untuk Kopda M yang ada di Semarang, yang dari Arhanudse di Semarang ini memang belum ketemu, tetapi yang jelas ini tidak akan berhenti. Kita juga sudah menghubungi berbagai macam pihak supaya kita bisa dapat info," katanya.

Apabila dari hasil penyidikan kasus Kopda Muslimin terbukti sebagai dalang di balik penembakan itu, Andika tak segan mendorong agar kasus itu memakai pasal pembunuhan berencana. "Jadi ini yang kita terus kejar tetapi juga kita sudah siapkan pasal-pasal semua yang relevan kita kenakan, bukan hanya pasal di KUHP, kemarin sudah saya sebut, Pasal 340, pasal 53 juncto 340. Tapi juga KUHP militernya supaya kita pastikan masalah ini ditangani secara proporsional," tegasnya.

Penangkapan Para Pelaku

Sebelum penegasan Andika, sejumlah penangkapan telah dilakukan aparat kepolisian. Kamis (21/7) pukul 13.00 WIB, Supriono dan Agus Santoso berhasil diringkus. Tujuh jam berselang, pukul 20.00 WIB, Sugiono tertangkap. Keesokan harinya, Jumat (22/7) Ponco dan Dwi yang diamankan.

"Barang bukti yang diamankan satu pucuk senjata api, dua magasin, empat butir peluru termasuk yang masih tersisa di magasin. Kemudian satu unit Honda Beat kemudian Kawasaki Ninja warna hijau diubah. Jaket, celana jins, topi, sepasang sepatu," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi.

Selain itu, sepeda motor, emas atau pun barang-barang yang berasal dari upah penembakan juga disita polisi.

Luthfi juga melayangkan ultimatum kepada Muslimin untuk segera menyerahkan diri. "Saya imbau kepada suami korban yang diduga masih dalam pencarian kita, untuk segera menyerahkan diri, sebelum tim melakukan tindakan tegas kepada yang bersangkutan," pungkasnya.

Diduga Bunuh Diri

Tak jelas apakah ultimatum dari Kapolda Jateng itu sampai ke telinga Muslimin atau tidak. Pasalnya, buronan ini akhirnya ditemukan tewas di kediaman orang tuanya di Kelurahan Trompo RT02 RW01, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (28/7). Dia diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.

Muslimin diketahui datang ke rumah orang tuanya dengan mengendarai motor Mio J bernomor polisi AA 2703 NC pukul 05.30 WIB. Sesampainya di rumah, dia mengetuk dan pintu dibukakan orang tuanya bernama Mustakim.

Masuk ke kamar belakang menemui kedua orangnya, Muslimin sempat memohon maaf dalam keadaan muntah-muntah. Mustakim sempat menyarankan agar putranya itu menyerahkan diri ke polisi, sebagai bentuk tanggung jawab.

Seusai berbincang dengan orang tuanya, Muslimin berbaring di tempat tidur. Pada pukul 07.00 WIB, dia ditemukan meninggal dunia oleh orang tuanya di tempat tidur. Adik korban, Novi melaporkan kejadian itu kepada Kodim 0715/Kendal.

Tidak Dimakamkan Secara Militer

Jenazah Muslimin dievakuasi ke RS Bhayangkara Semarang untuk diautopsi. Hasilnya, dia dinyatakan tewas akibat keracunan.

Keluarga kemudian membawa pulang jenazah Muslimin untuk dimakamkan di Kendal. Namun, pemakamannya tidak dilakukan secara militer.

Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Inf Bambang Hermanto mengatakan, dia telah melakukan pelanggaran sehingga haknya dimakamkan secara militer gugur. Akhir tragis Kopda Muslimin. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel