Asosiasi nilai penggunaan BBG bagi angkutan darat tekan biaya logistik

Asosiasi Perusahaan Liquid & Compress Natural Gas Indonesia (APLCNGI) mengingatkan pentingnya penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) bagi transportasi darat yang dapat menekan biaya logistik.

Selama ini, sektor logistik nasional masih sangat bergantung pada angkutan darat, yang mayoritas masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan rentan dengan kondisi global, sebagai bahan bakar utama kendaraan.

"Kami sudah berulangkali mengusulkan agar angkutan darat ini dapat bermigrasi ke BBG, sehingga ketergantungan terhadap BBM berkurang. Dengan semakin bertambahnya infrastruktur pengisian BBG, seharusnya pelaku usaha transportasi seperti truk dan angkutan barang lainnya mulai menggunakan BBG," kata Ketua Umum APLCNGI Dian Kuncoro dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Bagikan paket BBG, pemerintah ingin kesejahteraan nelayan meningkat

Ia mengatakan BBG merupakan energi bersih yang lebih efisien dan tidak terdampak oleh gejolak harga BBM, yang biasanya berdampak pada lonjakan barang konsumsi dan barang produksi serta tingkat inflasi secara keseluruhan.

"Ini energi yang lebih bersih, secara harga sangat bersaing dan pasokannya selalu tersedia serta tidak perlu impor," kata Dian.

Menurut Dian, penggunaan transportasi darat dalam bisnis jasa logistik masih akan dominan di masa depan karena populasi masyarakat masih tersentralisasi di Jawa. Sehingga, pihaknya mengusulkan agar pemerintah juga ikut mendorong penggunaan BBG bagi efisiensi di sektor logistik.

Beberapa inisiatif yang bisa dilakukan, antara lain mempercepat aktivasi dan pembangunan SPBG secara masif di jalur kendaraan pengangkut logistik serta pemberian insentif bagi sektor angkutan barang yang menggunakan BBG sebagai pengganti BBM.

Baca juga: Dorong transisi energi, Dirjen Migas resmikan dua SPBG di Semarang

Selain itu, kehadiran jalan tol Trans Jawa, seharusnya memudahkan para pengusaha angkutan barang untuk bermigrasi ke BBG. Menurut Dian, kendaraan besar seperti truk pengangkut kontainer, bisa menggunakan dual fuel yaitu solar dan CNG, maupun LNG yang berkapasitas lebih besar.

"Berkaca pada data penggunaan dual fuel BBM-BBG pada kendaraan truk dan kendaraan penumpang seperti yang sudah ada terbukti bisa menghemat biaya sampai 30 persen, jika penghematan ini bisa dinikmati oleh angkutan logistik dan kendaraan penumpang lainnya, tentu akan sangat menguntungkan perekonomian," katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat moda transportasi jalan berkontribusi terhadap PDB subsektor transportasi sebesar 69,38 persen, diikuti moda transportasi laut 8,71 persen dan moda transportasi rel 1,38 persen.

"Terdapat jutaan truk pengangkut barang yang beroperasi di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Jika truk-truk ini bisa beralih ke BBG, tentu penghematan biaya energinya akan sangat besar. Apalagi ketersediaan gas bumi di dalam negeri masih sangat besar dibandingkan BBM yang harus diimpor," kata Dian.

Oleh karena itu, meski saat ini sedang gencar tren kendaraan listrik, tidak ada salahnya melihat kembali transportasi berbasis BBG sebagai produk dalam negeri yang dapat menjadi solusi paling cepat untuk mengurangi beban biaya transportasi logistik.

"Ketika harga BBM merangkak naik dan kekhawatiran biaya logistik dan distribusi akan semakin mahal, maka dengan memperbanyak produksi kendaraan berbasis BBG, tentunya ekosistemnya akan tercipta dan hal itu juga akan mengurangi konsumsi BBM yang pasokannya tergantung impor," lanjutnya.

Dian mengharapkan pemerintah juga dapat mendorong industri otomotif untuk memproduksi kendaraan BBG sebanyak 20 persen setiap tahun, terutama untuk transportasi umum dan kendaraan logistik, karena selama ini biaya BBM rata-rata berkontribusi sekitar 20-25 persen terhadap ongkos produksi first mile-last mile.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji menyatakan penggunaan BBG sangat tepat bagi kendaraan besar seperti truk dan bus. Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong pembangunan infrastruktur BBG di jalan-jalan yang menjadi lalu lintas moda transportasi tersebut.

"Mengingat truk-truk dan bus biasanya melalui jalur atau rute yang rutin, untuk menjamin ketersediaan pasokan BBG, Pemerintah berencana akan membangun SPBG di jalur-jalur yang dilalui oleh kendaraan-kendaraan tersebut," katanya.