Asosiasi Tegaskan Sebagian Besar Penjual di Ecommerce Pelaku UMKM Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Twitter sempat diramaikan tagar Shopee Bunuh UMKM, yang bahkan menjadi trending topic. Keramaian itu muncul setelah ada percakapan sejumlah pengguna Twitter yang membahas penjual di Shopee bernama Mr. Hu.

Setelah ditelusuri, beberapa foto detail pengiriman barang dari Tiongkok di Shopee yang dibagikan warganet menunjukkan nama Mr. Hu selalu tercantum sebagai pengirim.

Informasi itu lantas memancing respons lebih lanjut dan dikaitkan dengan persaingan produk asal Tiongkok dan lokal, khususnya pelaku UMKM. Mengenai hal tersebut, idEA sebagai asosiasi yang menaungi para pemain eCommerce Indonesia pun memberi tanggapan.

"Saat ini, berdasarkan informasi yang dimiliki idEA, sebagian besar penjual di marketplace merupakan wirausaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah Indonesia," tutur Ketua idEA Bima Laga saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Kamis (18/2/2021).

Dia juga menjelaskan kehadiran produk luar negeri di marketplace Indonesia merupakan pelengkap dalam menyediakan pilihan bagi para konsumen.

Lebih lanjut Bima mengatakan seluruh kegiatan bisnis di platform eCommerce, termasuk bisnis cross-border import, dilakukan perusahaan sesuai peraturan yang berlaku, seperti membayar bea masuk ke wilayah Indonesia.

"Terlepas dari itu, idEA bersama para anggota berkomitmen mendukung UMKM dalam negeri. Salah satunya melalui gerakan 'Bangga Buatan Indonesia' bersama dengan pemerintah," ujarnya menjelaskan.

Salah satu bentuk komitmen tersebut, Bima mengatakan, platform eCommerce saat ini sudah menyediakan laman khusus untuk produk UMKM asli Indonesia.

Bukan hanya Shopee

Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay
Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay

Sebetulnya Shopee bukan satu-satunya platform eCommerce lain yang memfasilitasi seller dari luar negeri untuk berjualan produk di pasar Indonesia.

Selain Shopee, ada pula JD.id dan Lazada. Jika pengguna ketiga eCommerce itu cermat, mereka akan mendapati keterangan "produk dikirim dari luar negeri" pada produk di laman seller asing.

Kata Pengamat Soal Ramainya Barang Impor dari Mr Hu di Ecommerce

Ilustrasi Belanja Online Credit: pexels.com/NegativeSpace
Ilustrasi Belanja Online Credit: pexels.com/NegativeSpace

Sebelumnya, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nurul Huda mengatakan kehadiran produk luar negeri tidak lepas dari karakteristik konsumen digital Indonesia yang rasional terhadap harga atau price oriented consumer.

"Konsumen bisa mengecek harga di toko satu ke toko lain, di platform satu ke platform lainnya. Jadi, mereka akan memilih toko yang menawarkan produk dengan harga termurah, baik dari harga atau ongkirnya," tutur pengamat ekonomi tersebut saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Kamis (18/2/2021).

Karakteristik ini, menurut Huda, dilihat oleh platform eCommerce atau penjual asing yang berasal dari negara lain agar bisa mudah masuk pasar domestik Indonesia.

Selain itu, pasar domestik Indonesia juga sangat menggiurkan dengan pertumbuhan kelas menengah dan generasi pengguna gadget yang sangat pesat.

Sementara karakteristik UMKM Tanah Airu adalah labor intensif, yaitu biaya untuk tenaga kerja lebih besar dibandingkan biaya lainnya. Akibatnya, Huda menuturkan, UMKM tidak efisien dan kalah saing dari sisi harga.

"Sebenarnya sangat miris melihat proporsi produk UMKM lokal kita yang hanya 4 hingga 5 persen saja di pasar eCommerce. Namun melihat karakteristik konsumen kita, ya mereka sangat wajar memilih harga yang lebih murah. Bahkan bisa free ongkir dari platform," tuturnya.

(Dam/Why)