Aspaki sebut pasar alat kesehatan di Indonesia sangat menjanjikan

Satyagraha

Asosiasi Produsen Alat Kesehatan (Aspaki) menyampaikan bahwa pasar alat kesehatan di Indonesia sangat menjanjikan hingga mencapai 2,2 juta dolar AS per tahun.

"Pasar alat kedokteran sangat besar, di Indonesia bisa mencapai 2,2 million US dolar per tahun. Namun, sayangnya Indonesia sangat tergantung kepada produk impor," ujar Direktur Eksekutif Aspaki, Ahyahuddin Sodri dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Di Indonesia, ia mengemukakan, kalau dilihat dari strukturnya, potensi itu terdapat di sekitar 3.000 rumah sakit, 9.000 puskesmas dan klinik swasta.

"Jumlah itu sebaiknya jadi motivasi agar semua mau memikirkan untuk menggunakan produk lokal," ucapnya.

Baca juga: COVID-19 menjadi momen keluar dari ketergantungan impor alat kesehatan

Menurut dia, salah satu yang menghambat pengembangan industri alat kesehatan yakni dunia kedokteran masih sangat akrab dengan produk impor, sehingga kondisi itu berimbas kepada penggunaan produk lokal.

"Bangsa ini belum memiliki karakter industri, untuk menerapkan negara ini tumbuh menjadi industri harus dimulai dari budaya," katanya.

Ahyahuddin Sodri mengemukakan terdapat tiga hal untuk mendukung pengembangan industri alat kesehatan di dalam negeri, yakni komprehensif, terstruktur, dan keberlanjutan.

"Itu diperlukan dalam rangka pengembangan industri alat kesehatan dari hulu sampai hilir," katanya.

Baca juga: Kemenperin dorong kemandirian industri alat kesehatan dan farmasi

Ia meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan namun juga Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, hingga instansi pemerintah terkait produksi agar tercipta pengembangan alat kesehatan yang berkelanjutan.

"Saat ini, pengembangan industri, termasuk alat kesehatan selalu terhambat karena kebijakan yang selalu berubah jika pemimpinnya juga berubah," katanya.

Ia menambahkan pelaku usaha yang bakal terjun ke industri kesehatan juga harus siap mental karena regulasi di sektor ini sangat ketat.

"Keamanan adalah nomor satu, siapapun yang produksi alkes harus ikuti standar sehingga produk yang dihasilkan memenuhi kriteria bagi pasien," katanya.

Baca juga: Indonesia usulkan kolaborasi sektor swasta untuk penuhi pasokan medis

Baca juga: Menristek harap kemudahan izin edar alkes lokal penanganan COVID-19