Atasi kecemasan pasca infeksi COVID-19 dengan koping yang baik

Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dari RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Irmia Kusumadewi, Sp.KJ(K) mengatakan bahwa kecemasan yang terjadi pasca infeksi COVID-19 dapat diatasi dengan belajar menerapkan strategi koping yang baik.

"Saat mengalami kecemasan (karena COVID-19), kita perlu meningkatkan penerapan koping yang baik," kata Irmia dalam webinar HUT 103 RSCM: Mengenal dan Mengatasi Kecemasan pada Penyintas COVID-19 yang diikuti secara daring dari Jakarta pada Rabu.

Irmia yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menjelaskan, koping merupakan mekanisme menyesuaikan diri dengan situasi yang sedang dihadapi.

Koping yang baik dan sehat, kata Irma, adalah dengan melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat. Contohnya, saat seseorang mengidap penyakit tertentu, ia melakukan koping dengan menemui dokter untuk berobat dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.

Baca juga: Psikiater ingatkan penyintas COVID-19 bisa alami kecemasan

Baca juga: Praktisi: Mendengarkan musik bisa hilangkan kecemasan dan depresi

Sebaliknya, dia mengatakan bahwa koping yang tidak baik adalah melampiaskan perasaan tidak nyamannya dengan melakukan sesuatu yang negatif, tidak bermanfaat, atau bahkan bisa merugikan dirinya sendiri di kemudian hari.

"Terkait COVID-19 ini kan juga kadang-kadang pasien berpikir, kok, kenapa saya sakit, padahal saya jarang keluar, padahal saya sudah minum vitamin, dan sebagainya. Kita harus membantu pasiennya supaya bisa mengkoordinir kecemasan itu agar dirinya menjadi lebih baik lagi," ujar Irmia.

Bagi orang-orang yang mengalami kecemasan akibat COVID-19, Irmia mengatakan strategi koping yang bisa dilakukan di antaranya olahraga, makan makanan bergizi.

Bahkan jika diperlukan, dia mengatakan orang yang mengalami kecemasan akibat COVID-19 juga bisa membatasi informasi negatif mengenai COVID-19 sesuai dengan kapasitas diri agar informasi tersebut tidak mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku.

"Tentunya kita membatasi (informasi negatif), Tapi kadang-kadang kita juga perlu informasi itu, sehingga yang penting adalah sikap kita. Misalnya, saat melihat bahwa ini berita memang tidak baik, tapi saya bisa mengatasinya dengan relaksasi, berpikir bahwa saya sehat dan saya sudah berperilaku sehat," ujar Irmia.*

Baca juga: Kenali kecemasan akademik pada anak dan cara mengatasinya

Baca juga: Studi: kecemasan melonjak selama pandemi, terutama di kalangan wanita