Atlet Dayung Jambi Ancam Mundur dari PON Papua

·Bacaan 3 menit

VIVA – Kisruh Pelatih dan Asisten dengan atlet dayung di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP)Jambi semakin memanas. Ketua Umum Ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Provinsi Jambi, drg Iwan Hendrawan diminta mundur dari Jabatan.

Informasi dihimpun VIVA, permintaan pernyataan itu datang dari atlet PODSI Jambi yang ikut di Pekan Olahraga Nasional Papua 2021 yaitu Riska Andriyani yang meminta Drg Iwan Hendrawan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PODSI Jambi periode 2017-2021, agar pembinaan dan prestasi dayung menjadi lebih baik.

Riska saat dikonfirmasi membenarkan jika dirinya menginginkan Ketua Umum PODSI Jambi mundur dari jabatan karena ingin pelatih yang benar-benar membawa para atlet dayung membawa juara.

"Kami para atlet dayung yang ikut ke PON Papua meminta agar pelatih abal-abal dan dadakan yang masuk SK TC PON Papua diganti dengan pelatih yang benar-benar membawa kami menjadi juara," ujarnya.

Riska mengatakan, agar Ketua KONI Jambi, mengambil sikap tegas terhadap Ketua Umum PODSI Jambi yang arogan dan berkoar di sosmed serta menjual nama para atlet, khususnya atlet Pelatnas yang seolah-olah Ketua Umum PODSI yang membuat atlet berprestasi.

"Pelatih yang mereka pecat dari PODSI Jambi dan digantikan dengan pelatih yang tidak punya prestasi apa-apa terhadap olahraga dayung," jelasnya 18 Juni 2021.

Riska juga Meminta kepada Ketua Umum KONI Jambi untuk menindaklanjuti uang saku atlet, yang tidak diterima dari Kejurnas senior tahun 2018 sampai Pra PON 2019 dan dalam hal ini atlet menandatangani uang saku (atlet yang berlatih di Jambi) tapi tidak menerima uang sakunya (atlet yang di Pelatnas tanda tangannya dipalsukan).

"Untuk Pra PON hanya diberikan uang saku makan untuk di jalan Rp100 ribu untuk 5 orang atlet kecuali atlet yang di Pelatnas,"katanya.

Terkait selain keluhan banyak, ada juga sampai para atlet dayung pulang dari pertandingan multievent ke Jambi, menyambut atlet dan mengucapkan selamat tidak ada sama sekali dan sedikitpun tidak memberi kontribusi kepada para atlet yang berprestasi.

"Jelas sekali tidak bisa menjadi panutan para atlet dayung. Jika permintaan para atlet tidak diindahkan, maka para atlet dayung PODSI Jambi akan menyatakan mengundurkan diri dari pelaksanaan PON Papua yang akan diselenggarakan tahun 2021," tegasnya.

Alam menyebutkan, jika permintaan atlet dayung tidak segera diindahkan, maka atlet PPLP dayung Provinsi Jambi akan menyatakan mengundurkan diri.

"Pernyataan disampaikan dibuat dibuat langsung bersama tim atlet dayung PPLP tanpa paksaan dari pihak manapun semoga pernyataan para atlet dayung Jambi diterima,"katanya.

Terpisah, Ketua Koni Provinsi Jambi, Budi Setiawan saat dikonfirmasi terkait pernyataan para atlet dayung PPLP mengatakan, akan mencoba merapatkan terkait persoalan atlet.

"Terkait atlet dayung Jambi, nanti akan kita rapatkan bersama, intinya KONI akan Mediasi dan tetap memberikan semangat ke atlet agar tetap fokus meraih Prestasi PON Papua 2021," katanya.

Atlet Diabaikan

Sebelumnya, para atlet di PPLP Jambi meminta pelatih dan assitennya mundur dari jabatan. Informasi dihimpun VIVA, pernyataan itu langsung dibuat oleh para atlet melalui surat terbuka di atas materai sebanyak 12 orang dan dalam surat itu juga, para atlet yang akan mengundurkan diri dari PPLP jika tidak diindahkan usulan para atlet dayung.

Seorang atlet Dayung PPLP, saat dikonfirmasi membenarkan kelompok atlet dayung PPLP membuat pernyataan sikap agar pelatih dan asisten mundur dari Jabatan.

"Ya benar ada, kami sebanyak 12 orang menyatakan sikap agar pelatih bernama Yos Amrullah dan asisten bernama Chudri mundur dari jabatan karena kami tidak setuju dengan pelatih dan atlet,"ujarnya.

Alam mengatakan, para atlet di PPLP tidak pernah mendapat perhatian dari pelatih dan ada atlet yang sakit juga tidak diperhatikan serta pelatih dan asisten tidak pernah pelatih tidak pernah mengoreksi kekurangan atlet ketika selesai latihan.

"Pelatih dan asisten pelatih juga tidak mengerti tentang program,"jelasnya Selasa, 18 Juli 2021.

Alam juga menyebutkan, pelatih dan asisten tidak pernah turun ke lapangan dan apapun masalah pelatih, atlet selalu dilibatkan dan selama melatih atlet, para atlet tidak merasakan perkembangan dalam diri sendiri maupun tim serta pelatih dan asisten pelatih sering tidak hadir melatih.

"Tidak hanya itu, pelatih juga pernah mengancam atlet, apabila pelatih dikeluarkan atlet juga harus dikeluarkan,"terangnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel