Atlet Dilarang Lakukan Aksi Propaganda di Olimpiade Tokyo

Zaky Al-Yamani
·Bacaan 1 menit

VIVA – Komite Olimpiade Internasional (IOC) melarang para atlet melakukan segala macam aksi propaganda apapun selama gelaran Olimpiade 2020 Tokyo pada 23 Juli-8 Agustus 2021 mendatang. Keputusan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi dari komisi atlet IOC.

Selain itu, hasil jajak pendapat juga menunjukkan lebih dari dua per tiga dari total 3.547 atlet menyatakan “tidaklah pantas untuk memperlihatkan atau mengekspresikan pandangan mereka” di podium kemenangan, lapangan pertandingan atau saat upacara-upacara resmi.

“Mayoritas atlet tidak merasa bahwa mengekspresikan pandangan individu selama upacara pembukaan, di podium atau pertandingan merupakan tindakan yang tak pantas,” kata IOC dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP, Kamis 22 April 2021.

“Responden lebih meyakini bahwa atlet bisa menunjukkan pandangannya kepada media, dalam konferensi pers dan area mixed zone.”

Keputusan tersebut juga telah sesuai dengan aturan dalam Piagam Olimpiade yang melarang “demonstrasi atau melakukan propaganda politik, agama atau rasial.”

Di antara rekomendasi yang dihasilkan, agenda Olimpiade akan mengedepankan nilai-nilai inklusivitas dan non-diskrimasi dengan menyerukan kata-kata seperti perdamaian, solidaritas dan kesetaraan.

Larangan tersebut bisa saja memunculkan pertentangan mengingat maraknya sikap “berlutut" dan mengangkat tangan pada beberapa ajang olahraga sebagai dukungan terhadap gerakan Black Lives Matters.

Meski ada aturan tertulis soal larangan protes di Olimpiade, Komite Olimpiade dan Paralimpiade Amerika Serikat telah berjanji tidak akan menjatuhkan sanksi kepada para atletnya yang ingin menunjukkan bentuk penghormatannya di Tokyo sebagai bentuk dukungan terhadap isu rasial dan keadilan sosial. (Ant)