Atlet Sutjiati Curhat Karir Hampir Habis usai Pulang ke RI, DPR: PR Pembinaan Kita

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi X Ledia Hanifa menilai, kasus atlet Sutjiati Narendra yang merasa kecewa tidak diperhatikan oleh negara harus dibenahi oleh pemerintah. Menurutnya, setiap atlet yang punya kemampuan berbeda-beda seringkali tidak terpantau oleh pemerintah atau lembaga olahraga.

Atlet senam ritmik asal Indonesia, Sutjiati Narendra terancam pupus mengikuti Sea Games 2021 di Vietnam. Padahal, ia mengaku sudah berlatih enam hari seminggu.

Dua bulan sebelum kejuaraan Sutjiati dikabarkan tidak jadi berangkat. Kecewa kini dirasakan, perempuan yang sudah aktif berlatih senam selama 8 tahun itu. Padahal, dia dan pelatihnya siap merogoh kocek sendiri untuk mengharumkan nama Indonesia.

"Ini PR pembinaan kita. Setiap atlet punya peak performance yang berbeda-beda seringkali tidak terpantau oleh radar pemerintah atau lembaga olahraga yang bertanggung jawab terhadap pembinaan atlet," kata Ledia lewat pesan tertulis, Selasa (20/4).

Menurutnya, undang-undang Keolahragaan yang disahkan beberapa bulan lalu mendorong agar pembinaan dan pendampingan untuk para atlet dilakukan sejak dini oleh negara dengan baik.

"Saran saya untuk kasus ini tim yang ditunjuk bisa mempelajari track pelatihan dan capaian Sutjiati agar bisa nampak performancenya dan kelayakannya masuk dalam timnas," ucapnya.

Ledia menyebut, agar hal serupa tak terulang maka Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) harus betul-betul disosialisasikan. Pemerintah juga secara terbuka soal DBON cabang olahraga mana saja yang akan didukung secara penuh.

"Dan pola pembinaan seperti apa yang akan dilakukan oleh pemerintah," kata politisi PKS ini.

Atlet senam ritmik asal Indonesia, Sutjiati Narendra terancam pupus mengikuti Sea Games 2021 di Vietnam. Padahal, ia mengaku sudah berlatih enam hari seminggu.

Bak petir di siang bolong, dua bulan sebelum kejuaraan Sutjiati dikabarkan tidak jadi berangkat. Kecewa kini dirasakan, perempuan yang sudah aktif berlatih senam selama 8 tahun itu. Padahal, dia dan pelatihnya siap merogoh kocek sendiri untuk mengharumkan nama Indonesia.

"Dua bulan sebelum kejuaraan ini, saya diberitahu bahwa saya tidak diberangkatkan, meskipun saya dan pelatih saya siap untuk membayar dari kantong kami sendiri," kata Sutjiati Narendra dalam surat terbuka. Dia telah mengizinkan merdeka.com untuk mengutipnya, Rabu (20/4).

Diminta Pulang Jokowi

Kekecewaan Sutjiati kepada pemerintah bukan kali pertama. Perempuan 18 tahun yang mempunyai darah Amerika - Indonesia dari orang tuanya juga sempat terpilih jadi pasukan elite senam ritmik di Amerika.

Tetapi pada 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta untuk anak muda yang memiliki kewarganegaraan ganda di luar negeri untuk pulang dan membangun Indonesia.

Titah dari Jokowi dilaksanakan. Sutjiati balik ke kampung halaman ayahnya di Lampung. Harapannya bisa membangun Indonesia lewat jalur olahraga. Tapi sayang, justru dipersulit.

"Di Negara Indonesia tercinta ini, kita para atlet tidak memiliki kesempatan cukup bersaing di kancah internasional dan kemudian tertahan untuk dikirim ke luar negeri karena dikatakan kita belum cukup berprestasi," tulis Sutjiati.

Disuruh Cari Sponsor

Kurangnya dana dari pemerintah membuat atlet tak mendapat perhatian. Terlebih minimnya perencanaan efektif. Jadi hambatan para atlet di Indonesia.

"Karena itu kita memiliki banyak atlet di Indonesia yang telah menjadi korban dari sistem yang tidak maksimal ini," ujarnya.

Sutjiati sempat meraih prestasi saat PON XX Papua 2020. Dia berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak. Lagi-lagi, pemerintah kembali memberikan janji bakal tampil di Olimpiade. Tapi mereka malah diminta mencari sponsor agar bisa berlaga.

"Tetapi setelah itu, momentum kegembiraan dan semangat mulai mereda dan kami tidak lagi diperhatikan sejak itu. Pelatih saya dan saya bahkan disuruh mencari sponsor untuk kami sendiri. Saya terus berlatih enam hari seminggu, pagi hingga malam, tanpa tujuan yang jelas," bebernya.

Karir Hampir Habis

Kekecewaan yang dirasakan. Tetapi dia masih berharap pemerintah memiliki rekonstruksi sistem organisasi olahraga. Jangka panjang harus jadi prioritas untuk cetak atlet sekelas internasional. Bahkan, Sutjiati menjelaskan pesaingnya di seluruh dunia bersaing minimal 15 kompetisi setiap tahun.

"Di Indonesia kami hanya memiliki satu kompetisi nasional (Kejurnas) yang bahkan kadang tidak berlangsung setiap tahun," katanya.

Kekecewaan yang dirasakan kini berbuah pesimistis. Kariernya sebagai atlet hanya tersisa beberapa tahun. Dia juga meramalkan masa emasnya menjadi pesenam akan berakhir.

"Waktu dan titik performa tertinggi saya hampir habis. Saya seharusnya berada di puncak saya pada saat ini, bersaing sepanjang tahun dengan pesenam tingkat internasional lainnya; tetapi pada kenyataannya, saya jarang dapat kesempatan bersaing," ungkap Sutjiati Narendra. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel