Atlet Transgender Pertama di Olimpiade Tampil Kurang Memukau

·Bacaan 1 menit

VIVA – Laurel Hubbard dari Selandia Baru telah membuat sejarah pada Senin 2 Agustus 2021 dengan menjadi atlet transgender pertama yang bersaing di Olimpiade.

Hubbard menjalani olimpiadenya di laga Grup A cabang olahraga angkat besi nomor +87 kg putri. Namun, dalam debutnya itu, dia tampil kurang memukau.

Pada angkatan pertama snatch, Hubbard gagal melakukan angkatan dengan total berat 120 kg, dan terpaksa menjatuhkan mistar di belakang badannya saat dia mencoba berdiri.

Kemudian, dia memutuskan menaikkan total angkatannya pada kesempatan snatch kedua menjadi 125 kg. Meski gagal, Hubbard sempat mengira berhasil angkatannya berhasil.

Bahkan, dari tiga juri yang ada, satu juri menganggapnya angkatan tersebut berhasil, dan tim Hubbard memilih untuk mengajukan tinjauan video.

Hubbard memiliki kesempatan terakhir dengan berat angkatan masih 125 kg. Sayangnya, kegagalan pada kesempatan angkatan tersebut membuat dia harus mengakhiri mimpi olimpiadenya lebih cepat.

Hasil tiga angkat tersebut membuat Hubbard tidak bisa melanjutkan ke sesi angkatan clean and jerk.

Terlepas dari penampilannya, lifter berusia 43 tahun itu telah membuat dampak yang luar biasa bagi atlet transgender di dunia olahraga.

Sebelum meninggalkan arena pertandingan, Hubbard sempat mendapatkan tepuk tangan pujian dari para penonton yang hadir, dan dia membalas dengan lambaian tangan yang penuh cinta.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel