Aturan Baru Israel Wajibkan Mahkota Tomat Dicabut Rugikan Petani Palestina Rp 231 Miliar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gaza - Otoritas Israel mengeluarkan peraturan baru bagi para petani tomat Palestina untuk mencabuti bagian mahkota tomat. Sebelum nantinya diekspor ke pasar buah Tepi Barat dan negara-negara Arab lainnya.

Meskipun belum ada penjelasan langsung dari pihak Israel mengenai aturan tersebut. Kebijakan baru ini dinilai merugikan para petani tomat Palestina.

Pasalnya, bila mahkota tomat sudah tercabut, buah tomat akan mudah membusuk dan tak laku dijual.

Kementerian Pertanian Palestina melalui Middleeasteye.net pada Rabu (23/06/2021), mengatakan bahwa Israel memerintahkan untuk mencabuti setiap mahkota tomat - terdiri dari bagian sepal dan pedisel yang tumbuh dari bunga tomat untuk menjaga buah tetap menempel pada batang.

Jika mahkota sudah tercabut maka akan diperbolehkan melintasi perbatasan Karm Abu Salem.

Sebagaimana yang kita ketahui, Israel telah memberlakukan blokade darat, udara dan laut terhadap Jalur Gaza sejak 2007, memantau pergerakan truk yang lewat ke Israel dan Tepi Barat melalui al-Mintar, Awdeh dan Karm Abu Salem, tiga penyeberangan yang dikelola oleh tentara Israel dan dialihfungsikan untuk perdagangan.

Petani Gaza Keluhkan Kebijakan Baru Israel

Seorang wanita Palestina berbelanja pakaian di sebuah pasar tradisional yang kembali dibuka setelah pelonggaran karantina wilayah di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Senin (13/7/2020). (AFP/Mohammed Abed)
Seorang wanita Palestina berbelanja pakaian di sebuah pasar tradisional yang kembali dibuka setelah pelonggaran karantina wilayah di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Senin (13/7/2020). (AFP/Mohammed Abed)

Pada Rabu (23/06/2021), Kementerian Palestina melaporkan 110 ton berbagai sayuran dan buah-buahan sudah diizinkan lewat dari Jalur Gaza ke Tepi Barat , yang sebelumnya diblokir oleh Israel selama 43 hari terakhir.

Kementerian menilai aturan baru Israel untuk tomat “tidaklah mungkin” dipenuhi dan menolak secara tegas kebijakan baru ini.

Di samping itu juga, seorang petani Gaza ikut mengeluh melalui video yang diposting di media sosial.

Dalam unggahannya, petani itu berpendapat ketentuan mencabuti mahkota tomat akan menambah waktu lagi dan membuat tomat cepat membusuk.

Sedangkan, hasil panen tomat yang akan dikirim ke Ramallah, Nablus, Jenin dan Hebron harus menunggu di truk selama tiga hari di persimpangan sebelum diizinkan lewat.

“Dan pada saat akhirnya berlalu, dari titik di mana kami membuang sepal, tomat akan mulai membusuk dan membusuk… Ketika kami mengirimkan tomat ke pasar, tomat itu sudah busuk dan tidak ada yang mau membelinya lagi," tulisnya.

Di sisi lain pula petani Gaza sangat bergantung secara finansial terhadap hasil panen mereka. Terutama stroberi, bunga, tomat dan ceri laku di pasar Palestina dan Arab.

Palestina Merugi Hingga Rp 231 miliar

Sejumlah petani Palestina memeriksa lahan pertanian mereka setelah buldoser tentara Israel merusak sebagian lahan itu, yang berada di sebelah timur Khan Yunis di perbatasan Jalur Gaza selatan (13/10/2020). (Xinhua/Yasser Qudih)
Sejumlah petani Palestina memeriksa lahan pertanian mereka setelah buldoser tentara Israel merusak sebagian lahan itu, yang berada di sebelah timur Khan Yunis di perbatasan Jalur Gaza selatan (13/10/2020). (Xinhua/Yasser Qudih)

Kebijakan otoritas Israel membuat kerugian total lebih dari $16 juta atau setara dengan Rp 231 miliar per Mei 2021.

Menurut Kamar Dagang Distrik Gaza sejak Mei lalu. Israel telah memblokir hampir 6.500 truk yang memasuki Gaza.

Truk-truk tersebut mengangkut minyak mentah, ban dan suku cadang mobil dan peralatan lainnya. Sementara itu, 300 truk sayuran, pakaian dan furnitur dilarang keluar dari kantong itu.

Padahal warga Palestina di jalur Gaza tengah menderita kekurangan bahan penting untuk konstruksi, keperluan medis, infrastruktur dan manufaktur.

Reporter: Bunga Ruth

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel