Augustin Bizimana: Arsitek genosida yang kelabui hukum sampai akhir hayatnya

Nairobi (AFP) - Sebagai ilmuwan pertanian yang menjadi arsitek genosida Rwanda pada 1994, Augustin Bizimana yang mengelabui keadilan sampai akhir hayatnya terkubur di sebuah sudut wilayah Kongo ketika para penyidik selama puluhan tahun berjuang untuk mengadilinya.

Tes DNA dari jenazah pada sebuah pemakaman di Pointe Noire di Republik Kongo mendapati fakta bahwa Bizimana meninggal dunia 20 tahun lalu, kata PBB pada Jumat.

Bizimana lahir pada 1954 di Gituza di Rwanda utara.

Sebagian besar hidupnya terselubung misteri, mulai dari asal-usulnya sampai kehidupan pribadinya, tetapi di universitas dia dikenal sebagai Hutu radikal saat mengejar gelar sarjana agronomi di negara yang dilanda ketegangan etnis tersebut.

Dia menjalankan proyek pengembangan yang memproduksi piretrum -insektisida alami yang berasal dari bunga krisan- sebelum memasuki dunia politik sebagai wakil negara bagian yang menjadi wilayah asalnya di Byumba pada 1992.

"Dia orang yang suka menegaskan dirinya sendiri, memposisikan dirinya pemimpin. Di universitas dia menunjukkan dirinya, agak sedikit bersemangat, untuk menjadi anggota MRND (partai penguasa dan satu-satunya di negeri itu). Dia sungguh pendukung garis keras," kata eorang mantan kolega kampusnya yang kini mengasingkan diri ke Eropa kepada AFP.

Bizimana memangku jabatan menteri pertahanan dalam pemerintahan sementara pada 1993 di ujung perang saudara antara pemerintah pimpinan suku Hutu dan kelompok pemberontak pimpinan suku Tutsi, Front Patriotik Rwanda (RPF).

Perdamaian yang rapuh hancur setelah sebuah pesawat yang membawa Presiden Juvenal Habyarimana yang berasal dari suku mayoritas Hutu, ditembak jatuh di Kigali pada 6 April 1994, yang seketika memicu pembunuhan besar-besaran yang merenggut 800.000 nyawa yang sebagian besar warga Tutsi dalam tempo 100 hari.

Bizimana sedang ada urusan bisnis resmi di Kamerun pada hari mulainya pembunuhan massal itu, namun kembali ke negerinya tiga hari kemudian.

Dia adalah menteri pertahanan saat pemusnahan terencana suku Tutsi, dan membawahi Angkatan Bersenjata Rwanda (FAR), milisi Hutu dan warga sipil yang melancarkan pertumpahan darah tersebut, demikian temuan para penyidik.

Dakwaan jaksa penuntut di Pengadilan Kejahatan Internasional untuk Rwanda mengisyaratkan seseorang yang sepenuhnya merasa nyaman dengan pembantaian yang terjadi di sekitar dia.

Berkas dakwaan tersebut mencatat bahwa pada saat Bizimana mengemudi ke seluruh penjuru negeri sebagai menteri pertahanan, dia biasa melewati barikade jalan yang dijaga tentara dan penuh dengan mayat.

"Pada kesempatan itu, dia tidak pernah mengajukan keberatan sedikit pun atas apa yang dilihatnya," demikian tertulis dalam berkas dakwaan itu.

Berkas dakwaan itu meneruskan dengan menggambarkan sebuah peristiwa ketika Bizimana tidak berbuat apa-apa guna menghentikan seorang anggota pengawalnya mengeksekusi dua warga Tutsi tepat di depan matanya sendiri, dan lainnya ketika dia tidak melakukan tindakan apa pun setelah dilapori langsung bahwa tentara telah menculik dan memperkosa siswi-siswi Tutsi di sebuah sekolah perawat.

Tak cuma tidak melakukan apa pun untuk menghentikan pembantaian tersebut, dia juga berusaha menyembunyikan itu semua saat memberikan wawancara radio pertengahan Mei di mana dia "sengaja menyatakan pembantaian itu sudah berhenti."

Dia juga beberapa kali hadir di lokasi-lokasi penting di mana pembantaian terjadi.

Diburu oleh pemberontak RPF yang akhirnya menghentikan pertempuran dan merebut kekuasaan, Bizimana dan para anggota kabinet lainnya pertama-tama pindah ke Gitarama pusat dan kemudian Gisenyi, sebelum kabur meninggalkan negara itu pada Juli 1994.

Bizimana diyakini menghabiskan waktu bertahun-tahun di Republik Demokratik Kongo sebelum mendarat di Kongo-Brazzaville mengingat di Republik Kongo dia menjadi mudah dikenali.

Sementara itu, dia didakwa oleh Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda (ICTR) PBB pada 1998.

Dia didakwa dengan 13 dakwaan termasuk melakukan genosida, pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan, antara lain dalam pembunuhan mantan perdana menteri Agathe Uwilingiyimana dan 10 tentara pasukan penjaga perdamaian PBB dari Belgia yang dikerahkan untuk melindungi Uwilingiyimana.

Pada 2000, desas desus menyebutkan di kalangan pengungsi Rwanda bahwa dia meninggal dunia karena sebab alamiah di Kongo.

Namun perburuan Bizimana terus berlanjut.

Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah 5 juta dolar AS kepada siapapun yang bisa mengarahkan kepada penangkapannya.

Pada 2013, seorang hakim mengeluarkan surat perintah penangkapan dan permintaan kepada semua negara anggota PBB untuk memburu, menangkap, dan memindahkan Bizimana ke tahanan pengadilan internasional.

Pada Jumat pengadilan PBB mengatakan mereka telah memeriksa jasad manusia dari tempat pemakaman di Kongo.

Analisis ekstensif menunjukkan bahwa Bizimana mati pada 2000, sekitar Agustus tahun itu.

Kabar ini menghancurkan harapan para korban dalam mencari keadilan, hanya beberapa hari setelah penangkapan Felicien Kabuga di Paris, salah seorang buron terakhir dari genosida, yang diburu selama tiga puluh tahun.

strs-fb/ri