Australia Bangga Keberagaman Budayanya namun COVID-19 Membuyarkan

Ezra Sihite, ABC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Wajah keberagaman budaya Australia dengan warganya kebanyakan berasal dari imigran, migran dan pelajar internasional, akan berubah besar setelah pandemi COVID-19.

Perubahan Multibudaya di Australia Australia masih menutup perbatasan internasional karena adanya pandemi COVID-19 Kedatangan mahasiswa internasional turun dari 200 ribu menjadi 350Muncul kekhawatiran akan dampak panjang karena penutupan ini

Dalam hampir setahun terakhir, pandemi telah membuat pergerakan manusia sangat terbatas dan masih belum diketahui kapan Australia akan menutup perbatasannya.

Menurut data Biro Statistik Australia (ABS), hanya 350 mahasiswa internasional yang tiba di Australia antara bulan April-Agustus tahun 2020.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah kedatangan mahasiswa internasional mencapai 200 ribu orang.

Menurut Profesor Amanda Davies, Dekan Jurusan Ilmu Sosial University of Western Australia (UWA) di Perth, penurunan ini akan memberikan dampak panjang.

A head and shoulders shot of Professor Amanda Davies posing for a photo in an office in front of a bookcase.
A head and shoulders shot of Professor Amanda Davies posing for a photo in an office in front of a bookcase.

Professor Amanda Davies adalah Dekan Jurusan Ilmu Sosial University of Western Australia di Perth.

"Kita akan tetap akan menarik banyak pekerja trampil ke Australia, namun jumlah mahasiswa internasional dan migrasi akan terganggu, dan tidak jelas apakah nanti bisa kembali seperti sebelumnya," katanya.

"Ini karena tempat lain juga menawarkan pengalaman yang sama, negara lain seperti Kanada sudah membuka perbatasan mereka untuk mahasiswa internasional."

"Bukan rahasia lagi bahwa mahasiswa internasional adalah sumber pendanaan utama bagi universitas di Australia, namun keberadaan mereka bagi masyarakat luas lebih besar lagi."

"Mahasiswa internasional adalah bagian penting guna mempertahankan wajah keberagaman budaya, mereka membawa ide-ide baru dan dalam kehidupan kampus, mahasiswa internasional sangat penting."

Profesor Davies mengatakan berkurangnya mahasiswa internasional bisa juga berpengaruh pada sumber tenaga kerja di Australia.

"Australia ada dalam posisi yang unik karena sudah lama menggantungkan diri pada migrasi internasional untuk mengisi lapangan kerja," katanya.

"Mereka yang tinggal di sini setelah tamat universitas menjadi komponen penting, dan bila komponen tersebut tidak ada di masa depan, maka kita perlu mencari tenaga kerja dari tempat lain."

Profesor Davies mengatakan kebijakan harus dibuat untuk bisa menarik mahasiswa baru dan mempertahankan mereka yang ingin tinggal di sini.

Bisnis sudah mulai merasakan dampaknya

Menurunnya jumlah mahasiswa internasional yang datang juga sudah memberikan dampak besar bagi dunia bisnis.

Bagi banyak warga pendatang di Australia, makanan adalah faktor utama yang menghubungkan mereka dengan tanah asal dan budaya.

Ararat Kebabs di Broadway Fair Shopping Centre di Nedlands sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi mahasiswa University of Western Australia (UWA) di Perth.

Pemilik Ararat Kebabs, Bilal Argalioglu, mengatakan berkurangnya mahasiswa internasional merupakan kehilangan besar bagi masyarakat di sini.

"Menyedihkan karena mahasiswa internasional menjadi bagian besar dari Pusat Perbelanjaan Broadway [Fair] Shopping Centre ketika mereka di sini," kata Bilal.

A head and shoulders shot of a man wearing a black turtleneck standing in a kebab shop looking at the camera.
A head and shoulders shot of a man wearing a black turtleneck standing in a kebab shop looking at the camera.

Bilal Argalioglu adalah pemilik Ararat Kebabs di Nedlands (Perth).

"Mereka merasa jadi penduduk lokal, karena di sini mereka tinggal dan menetap, mereka harus menghidupi diri."

"Melihat adanya penurunan memang mengecewakan. Bisnis kami perlahan-lahan terus melesu."

Kehidupan budaya di kampus juga berubah

Ketika mahasiswa asal Singapura, Viknash VM dan teman-temannya rindu dengan masakan rumah, kadang mereka mendatangi tempat-tempat makanan yang menjual berbagai masakan dari manca negara.

"Budaya berbeda menjadi satu lewat makanan dan itulah salah satu aspek yang kami rindukan dan yang juga dirasakan oleh banyak mahasiswa di sini," katanya.

A mid-shot of a man smiling as he sits at an outdoor table eating food from a plate.
A mid-shot of a man smiling as he sits at an outdoor table eating food from a plate.

Viknash VM adalah mahasiswa internasional asal Singapura di Perth.

Kehidupan bagi mahasiswa internasional, seperti juga banyak warga lain, sangat berbeda tahun ini.

Viknash mengatakan para mahasiswa harus membuat keputusan yang susah apakah harus tetap tinggal di Australia atau kembali ke negeri masing-masing dan mengikuti kuliah online.

Bagi yang tetap di sini, mereka tidak bisa kembali ke negeri asal selama musim liburan.

"Saya kira ini adalah masa paling lama saya pergi dari rumah, karena akan menjadi sekitar setahun sejak saya meninggalkan rumah terakhir kali," katanya.

A mid-shot of a man sitting at an outdoor table studying on a tablet with books on the table.
A mid-shot of a man sitting at an outdoor table studying on a tablet with books on the table.

Viknash VM adalah salah seorang mahasiswa internasional yang tetap bertahan di Australia selama pandemi.

"Jadi ini yang pertama bagi saya dan saya yakin juga paling lama bagi banyak mahasiswa lain, karena banyak yang biasanya pulang kalau ada liburan."

Viknash juga mengatakan berkurangnya mahasiswa seangkatan membuat suasana kampus sangat berbeda tahun ini.

"Saya lihat ketika mahasiswa mulai pulang, kegiatan di berbagai klub sangat menurun, karena anggotanya tidak ada lagi, jadi saya kira ini sangat memberikan dampak bagi kehidupan budaya di kampus," kata Viknash.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini