Australia menyambut baik langkah Qatar dalam kasus penggeledahan bandara

·Bacaan 2 menit

Sydney (AFP) - Menteri luar negeri Australia menyambut baik langkah Qatar dalam mengadili mereka yang bertanggung jawab memeriksa ginekologi penumpang perempuan di bandara utama negara Teluk itu bulan lalu.

Wanita dalam 10 penerbangan yang meninggalkan Doha termasuk setidaknya 13 warga Australia dipaksa menjalani pemeriksaan ketika pihak berwenang mencari ibu dari seorang bayi yang baru lahir yang ditinggalkan di kamar mandi bandara itu pada 2 Oktober.

Menghadapi kecaman internasional yang dipimpin oleh Australia yang murka Qatar mengatakan pada Jumat bahwa mereka yang berada di balik insiden itu telah diperiksa.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengaku sudah berbicara dengan timpalannya dari Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada Jumat, yang "menyampaikan permintaan maaf tulusnya" dan "memberikan jaminan tegas bahwa Qatar sepenuhnya mengakui keseriusan peristiwa ini dan akan memastikan bahwa hal itu seperti tidak akan pernah terulang".

"Kami sangat menyambut baik pengakuan pemerintah Qatar sehubungan dengan peristiwa yang terjadi di bandara Hamad baru-baru ini. Kami menyambut baik proses investigasi yang telah mereka lakukan," kata dia kepada wartawan, Sabtu.

Payne mengatakan Australia memiliki "hubungan yang sangat konstruktif dengan Qatar" mengenai masalah ini dan berharap proses hukumnya "transparan, layak dan proporsional".

Insiden itu baru terungkap setelah para penumpang Australia yang terkena dampak angkat bicara. Sejak itu diketahui ternyata warga negara Inggris, Selandia Baru dan Prancis juga menjadi sasaran penggeledahan invasif itu.

Qatar mengatakan bayi perempuan yang ditinggalkan yang saat itu masih hidup dibungkus plastik dan dibiarkan mati di tempat sampah kamar mandi sehingga mendorong apa yang disebut sumber-sumber sebagai lockdown Bandara Internasional Hamad.

Para wanita kemudian dibawa dari pesawat ke ambulans di landasan tempat mereka menjalani pemeriksaan fisik untuk melihat apakah mereka baru saja melahirkan.

Menghadapi dampak buruk komersial dan reputasi yang berpotensi menghancurkan, Qatar berulang kali berjanji menjamin "keselamatan dan keamanan" penumpang ke depannya nanti.

Seks di luar nikah dan kelahiran di luar nikah bisa dikenai hukuman penjara di negara Muslim ultrakonservatif yang kesulitan meyakinkan para kritikus bahwa janji-janji mereka dalam hal perlindungan hak-hak perempuan, hubungan perburuhan dan demokrasi bisa dipercaya sebelum menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.