Austria Diduga Abaikan Peringatan Serangan Teror di Kota Wina

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Dinas rahasia Slowakia diberitakan telah memberi tahu badan intelijen dalam negeri Austria, tentang potensi bahaya dari pelaku teror penembakan di pusat kota Wina, Senin (02/11) malam waktu setempat. Kini berbagai pihak meminta penjelasan akan kemungkinan diabaikannya informasi tersebut.

Seperti yang diakui Menteri Dalam Negeri Austria Karl Nehammer kepada wartawan, pihak Slowakia telah memberikan informasi bahwa bahwa pelaku yang berusia 20 tahun berusaha membeli amunisi, namun tidak berhasil.

Menurut kantor berita Austria, APA, pada tanggal 23 Juli telah tersedia sebuah surat internal dari agen kriminal di Kementerian Dalam Negeri Slowakia untuk pihak berwenang guna memberi tahu rekan mereka di Austria tentang insiden tersebut. Menurut Nehammer, polisi Austria menjawab surat itu pada 10 September dan mengidentifikasi salah satu dari dua pembeli potensial itu sebagai mantan narapidana teroris.

Komisi investigasi independen diminta klarifikasi dugaan kelalaian

Dalam "langkah selanjutnya" menyusul peringatan dari Slowakia tersebut, "jelas ada yang salah dalam komunikasi," ujar Menteri Dalam Negeri Nehammer. Pengadilan belum diberitahu tentang hal tersebut. Politisi dari partai yang konservatif yang tengah berkuasa, OVP, mengumumkan pembentukan komisi penyelidikan independen.

Pihak oposisi juga meminta klarifikasi. Mengingat fakta bahwa pelaku telah dibebaskan dari tahanan beberapa bulan sebelumnya setelah dia mencoba melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan milisi teroris Islamic State (ISIS), semua alarm tanda bahaya seharusnya berbunyi, demikian menurut pihak oposisi, antara lain Partai SPO.

Yang juga masih menjadi pertanyaan adalah apakah sinagoga yang berada di dekat lokasi serangan termasuk salah satu sasaran. Satu di antara empat korban yang meninggal adalah seorang mahasiswa Jerman berusia 24 tahun yang bekerja sebagai pelayan.

Menurut menteri dalam negeri, sedikitnya 14 orang masih diselidiki atas dugaan keterlibatan dalam organisasi teroris. Mereka berusia antara 18 dan 28 tahun, memiliki latar belakang migrasi dan beberapa di antara mereka bukan warga negara Austria, kata Nehammer.

Pelaku diketahui semakin ekstrem

Pelaku teror diketahui telah menyatakan keyakinan agama yang semakin ekstrem menjelang serangan itu, menurut penasihat atau konselor deradikalisasinya.

Konselor, yang bekerja di organisasi nirlaba pencegahan terorisme dan deradikalisasi Derad, melaporkan perkembangan ini kepada otoritas keadilan setempat, demikian menurut salah satu pendiri Derad, Moussa al-Hassan Diaw kepada kantor berita Jerman, dpa.

Namun, konselor itu mengatakan tidak melihat tanda-tanda bahwa pemuda itu merencanakan serangan berdarah, kata Diaw. Penyerang, KF, sebelumnya telah menjalani hukuman penjara atas upayanya bergabung dengan ekstremis ISIS di Suriah, tetapi ia dibebaskan pada awal Desember dengan syarat.

Kanselir Austria Sebastian Kurz dari Partai OVP mengkritik pembebasan awal itu sebagai kesalahan, sementara Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer mengatakan bahwa KF menipu Derad agar organisasi itu percaya bahwa dia bukan lagi seorang radikal. Namun Diaw menolak pernyataan tersebut.

"Tidak ada penipuan, kolega kami tidak pernah menemukan bukti bahwa pria itu telah dideradikalisasi." Justru sebaliknya, penasihat KF melihat bahwa KF mulai meragukan kesalehan dan keimanannya sendiri yang bahkan dinilai lebih ekstrem daripada menuduh orang lain tidak beriman, kata Diaw.

"Keraguan diri seperti ini sering mengarah pada keputusasaan," ujar Diaw sambil menjelaskan bahwa beberapa orang yang merasa seperti ini akhirnya beralih ke doa, tindakan kekerasan, atau pikiran tentang mengakhiri hidur mereka sendiri.

ae/yf (orf, rtr, afp, dpa)