Autopsi Ulang Jalan Menuju Pengungkapan Kasus? Ini Kata Ahli

Merdeka.com - Merdeka.com - Kematian Brigadir J dirasa janggal oleh keluarga. Mulai dari penjelasan awal kepolisian hingga sejumlah fakta dianggap berbeda di lapangan.

Paling jelas, luka-luka yang didapati keluarga di sekujur tubuh Brigadir J. Hal itu tidak sejalan dengan penjelasan kronologi versi Polri.

Kuasa Hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin mendesak Polri untuk dilakukan autopsi ulang dan hal tersebut akhirnya disetujui. Adapun keperluan autopsi ulang tersebut untuk menyelaraskan temuan baru dengan hasil autopsi yang pertama.

Sebelumnya, Brigadir J sudah dimakamkan di Jambi pada Senin (11/7) lalu. Terdapat tantangan bagi tim forensik melakukan pemeriksaan.

Menurut Ahli Forensik Budi Suhendar, seiring dengan adanya waktu yang terus berputar ketika jenazah sudah memasuki liang lahat secara normatif atau secara alam pasti akan terjadi perubahan-perubahan dalam tubuh jenazah. Dalam artian lain telah terjadi proses pembusukan.

Meskipun begitu, pada proses autopsi ulang tersebut tidak memutuskan hasil yang didapat daripada autopsi yang pertama. Pada pemeriksaan autopsi ulang tersebut juga, alur beripikirnya dokter forensik tentu untuk kepentingan penegakan hukum.

"Jadi alur berpikirnya kalau yang pertama telah dilakukan autopsi sudah melakukan dokumentasi dan telah memiliki kesimpulan dan tentunya sudah valid," terang Budi.

"Hal-hal yang telah dilakukan pada autopsi pertama akan diperiksa kembali pada autopsi kedua dan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan. Tentu untuk menerangkan suatu peristiwa yang dialami tubuh itu," sambung Budi.

Dalam proses autopsi ulang, tidak disebutkan batas maksimal berapa kali pada tubuh jenazah bisa dilakukan karena tujuannya memang untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

"Karena pasti akan dilakukan sesuai akan dilakukan sesuai kaidah-kaidah ilmu kedokteran forensik yang berlaku dan sesuai SOP yang ada," jelasnya.

Dalam pandangan lain, Ahli Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar beranggapan autopsi ulang dilakukan untuk mencari sebab yang pasti kematian seseorang. Karena itu, jika disinyalir ada beberapa sebab maka autopsi menjadi relevant bahkan dibutuhkan.

"Umpamanya selain ada luka tembak, juga terdapat luka-luka lain yang bukan disebabkan oleh tembakan seperti sayatan dan memar-memar," Imbuh Fickar.

Lebih lanjut, apabila dalam rangka memenuhi hukum pembuktian pidana tertuang pada KUHP Pasal 134 Tentang Hukum autopsi forensik.

'Forensik berperan dalam dalam pengungkapan kasus - kasus yang berakibat pada timbulnya luka dan kematian, tanpa bantuan ilmu kedokteran forensik sulit bagi ilmu hukum dapat mengungkapkan misteri kejahatan tersebut'

Fickar juga beranggapan hasil dari forensik 100 persen dapat menguak penyebab kematian pada korban. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel