Aviliani: Sektor pariwisata akan lama pulih, ini alasannya

Risbiani Fardaniah

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengungkapkan terjadi perubahan perilaku konsumen secara signifikan yang lebih mengutamakan kebutuhan primer, ditambah upaya menjaga serta merawat kesehatan pada masa normal baru.

"Selama pandemi COVID-19 terdapat perubahan perilaku masyarakat yang menarik, pertama mereka ada kebutuhan terutama untuk kebutuhan primer yakni pangan plus menjaga kesehatan atau health care, karena orang-orang membutuhkan sabun cuci tangan dan masker. Pengeluaran itu jadi berubah dari yang awalnya untuk kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer, terutama kesehatan," kata Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Padahal, lanjut dia, sebelum pandemi Covid-19 masyarakat mengutamakan kebutuhan pangan dan pariwisata atau jalan-jalan, di mana pengeluaran masyarakat untuk jalan-jalan atau pariwisata menduduki peringkat kedua. Namun ketika COVID-19 melanda justru sektor yang terkena duluan adalah sektor pariwisata.

Baca juga: Bappenas: Daya beli pekerja manufaktur berpotensi hilang Rp40 triliun

"Otomatis kebutuhan sekunder ini akan lama untuk bisa kembali pulih di era normal baru saat ini. Kenapa? Walaupun mal-mal sudah dibuka di era normal baru, masyarakat masih tetap takut," ujar Aviliani.

Selain itu selama dua bulan terakhir, daya beli masyarakat cukup turun signifikan. Artinya orang-orang yang bekerja dari rumah atau working from home tidak mendapatkan uang makan, uang lembur, dan sebagainya sehingga penghasilan mereka turun 50 persen.

Baca juga: Peneliti : Pemerintah perlu fokus perbaiki tingkat konsumsi masyarakat

Di samping, kata dia, mereka harus memenuhi kebutuhan pokok. Sebagian pekerja juga sudah menggunakan dana tabungannya.

"Sedangkan untuk masyarakat menengah ke bawah yang biasanya masih bisa menghidupi diri sendiri, sudah harus menerima bantuan langsung tunai atau bantuan sosial," ujar Aviliani.

Oleh karena itu, menurut dia, penyaluran dana bantuan sosial ini harus cepat agar daya beli tidak semakin menurun.

Baca juga: Bupati Banyuwangi paparkan paradigma baru pariwisata era new normal