Awal Jumpa di SMA, Kini Hidup di Paris dalam Indahnya Satu Cinta

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Nur Isna 'Auliya

Menjalani cinta jarak jauh adalah hal yang tidak mudah untuk dilalui setiap pasangan. Banyak cinta yang berakhir kandas karena mereka tak mampu menjalaninya. Namun, tidak sedikit pula yang berhasil melalui masa-masa ujian jarak itu hingga akhirnya mereka kembali bersama. Seperti kisahku bersama seorang lelaki yang kini menjadi pendamping hidupku; jarak selalu menjadi ujian terberat kami. Begini kisahnya:

Sepuluh tahun lalu, aku bertemu dengan seorang remaja laki-laki seumur denganku saat itu. Kami bertemu saat mengikuti Pesta Sekolah di Tulungagung, sebuah acara anual bergengsi untuk seluruh pelajar SMA se-Karesidenan Kediri; berisi berbagai lomba untuk mengasah kreativitas pelajar.

Pertemuan kami berlangsung singkat, hanya tiga hari selama acara itu dilaksanakan. Setelah acara itu usai, kami kembali ke sekolah masing-masing; saat itu dia menempuh pendidikan SMA di Tulungagung, sementara aku di Blitar. Tanpa kusangka, aku bertemu dengannya lagi di acara yang sama pada tahun berikutnya. Sejak saat itulah pertemanan kami semakin dekat, kami senang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dari sekolah masing-masing. Meskipun kami belajar di tempat berbeda, kami tetap melanjutkan pertemanan via telepon saat itu.

Tahun berikutnya, menjelang kelulusan kelas XII, lagi-lagi aku bertemu dengannya tanpa rencana. Kala itu kami bertemu dalam kompetisi simulasi Ujian Akhir Nasional yang dilaksanakan oleh redaksi sebuah media cetak. Tak kusangka, namaku dan namanya masuk dalam daftar seratus terbaik se-karesidenan Kediri sehingga kami bertemu kembali untuk bersaing dalam seleksi menjadi tiga terbaik. Saat itulah aku dan dia merasa cocok menjadi pasangan, pasangan sahabat yang siap bersaing dalam belajar; berlomba untuk menjadi yang terbaik di antara kami berdua.

Awal Jumpa dalam Seragam Putih Abu-Abu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/kengstocker
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/kengstocker

Setelah kelulusan SMA, aku dan dia memutuskan untuk melanjutkan mimpi masing-masing. Dia melanjutkan studinya di Yogyakarta, sementara aku di Malang. Jarak yang cukup jauh tidak membuat hubungan persahabatanku dengannya renggang.

Justru kami sering menyepakati waktu khusus untuk saling bertukar pengalaman selama belajar di kampus masing-masing; menceritakan prestasi-prestasi yang berhasil kami raih. Namun, hubungan kami mulai retak saat tiba-tiba dia menyatakan perasaannya padaku.

Seperti gelegar petir yang menyambar di teriknya siang, aku tak tahu harus berbuat apa. Bukan, bukan berarti aku tak mencintainya. Aku hanya tak ingin membuatnya terluka gara-gara cinta. Pasalnya, cinta anak muda sering berujung pada putusnya komunikasi saat cinta itu sudah tak bernaung di hati; dan aku tak mau itu terjadi antara aku dengannya. Aku tidak mau kehilangan lelaki baik sepertinya. Gara-gara itulah perbincangan kami selanjutnya menjadi sedikit canggung.

Setahun setelah kejadian itu, seorang lelaki lain yang baru kukenal telah menjadi kekasihku. Bodohnya, aku baru menyadari sikap posesif dan kasarnya setelah delapan bulan kami menjalin hubungan; bahkan tak sedikit pun dia mengizinkanku berkomunikasi dengan sahabatku sendiri hingga aku mengalami depresi berat beberapa kali karena sifat kasarnya. Jadilah sahabatku marah—lebih tepatnya cemburu—dan itu membuat hubungan persahabatan kami benar-benar hancur; tidak ada komunikasi antara aku dan dia selama setahun. Oh, Tuhan, aku benar-benar kehilangan sahabatku.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan kekasihku yang kasar dan posesif itu, lalu berusaha menghubungi kembali sahabatku. Bagaimanapun, aku merasa sangat bersalah karena telah melukai hatinya untuk kedua kali. Lagi pula, tidak ada gunanya aku mempertahankan lelaki yang sama sekali tidak dewasa dalam bersikap.

Dekat sebagai Sahabat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81

Aku bersyukur, pada akhirnya dia mau menemuiku dan memaafkan semua kesalahanku. Senyumnya mengembang seperti bunga yang menyambut musim semi, menghangatkan hati yang beku oleh musim dingin. Saat itulah aku menyadari bahwa dialah orang yang tulus mencintaiku. Sejak awal kami bertemu, tak pernah sekali pun dia menyakitiku.

Persahabatan yang awalnya kami bangun dengan saling mengagumi, kini tumbuh menjadi cinta. Tetapi, bukan cinta anak muda biasa yang kami jalani. Tak ada ungkapan cinta darinya untukku, begitupun sebaliknya; hanya upaya dan doa yang mampu merawat rasa.

Kami tetap ingin mewujudkan mimpi masing-masing. Kami tetap bersaing. Kami tetap berbagi imaji. Namun kali ini untuk visi yang sama di masa depan, menghabiskan sisa hidup di atap yang sama.

Aku masih ingat betul bagaimana aku begitu bersemangat menempuh perjalanan ke Yogyakarta seorang diri untuk mengikuti seleksi beasiswa nasional bersamanya. Aku masih ingat betul bagaimana aku dan dia begitu serius belajar di perpustakaan pusat Yogyakarta yang megah. Aku masih ingat betul bagaimana kami saling menyemangati sebelum masuk ruang seleksi. Sungguh, masa yang indah untuk dikenang, membangun cinta di atas mimpi-mimpi.

Setelah enam tahun saling mengenal, tepatnya tahun 2017, kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke pelaminan. Apakah kami bahagia? Tentu, manusia mana yang tak bahagia bila akhirnya hidup bersama dengan orang yang dicinta. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung selama sebulan.

Menikah

Dengan keluarga./Copyright Nur Isna 'Auliya
Dengan keluarga./Copyright Nur Isna 'Auliya

Dia harus melanjutkan mimpinya untuk studi di Prancis dan meninggalkanku selama beberapa tahun. Sedihnya, aku baru menyadari kehamilanku setelah sebulan dia pergi. Jadilah aku menjalani masa-masa hamil anak pertama tanpa dampingannya, bahkan hingga si bayi lahir. Meskipun dalam jarak ribuan mil, aku dan dia tetap saling menjaga komunikasi; merawat mimpi dan hati yang selama ini kita jaga. Kelahiran sang buah hati membuat cinta kami semakin kuat, karena padanyalah kami mengalirkan cinta, agar dia tumbuh bahagia.

Tiga tahun telah berlalu, akhirnya rindu yang selama ini kami tabung telah kami pecahkan. Bulan September tahun lalu adalah bulan bahagia kami—saat anak kami telah berusia dua tahun. Dia berhasil membawaku dan sang buah hati ke negeri mode ini, melepaskan ribuan rindu yang terpendam selama tiga tahun.

Beruntungnya, kami mendapat tempat tinggal yang berhadapan langsung dengan La Seine, sungai yang membelah kota Paris menjadi dua bagian; yang selalu mengalirkan ketenangan dan keharmonisan bagi siapapun yang menikmatinya.

Persis seperti janjinya lima tahun lalu. Dia berjanji akan menunjukkan indahnya La Seine jika aku dan dia bisa hidup bersama. “Insya Allah suatu saat kita rayakan ulang tahunmu di bawah menara Eiffel, di tepi Sungai Seine ya. Semoga Allah mendengar doa kita,” begitu tulisannya dalam kartu ucapan.

Jarak yang dulunya membuatku benci mendengar setiap ejaannya, kini ia membuatku bersyukur. Karenanya, cintaku dan cintanya semakin kuat, meskipun dulu adalah cobaan terberat. Kepercayaan, cinta, doa, dan mimpi yang selama ini kami bangun telah berdiri megah; menjadi istana keluarga yang indah, meskipun banyak air mata yang membuat kami sedikit goyah.

Tuhan Maha Baik, kini kami menyadari bahwa Tuhan akan menempatkan kita pada titik-titik yang pelik dan melelahkan, hingga akhirnya titik-titik itu menjadi pola yang indah. Begitulah cara Tuhan mencintai makhluk-Nya.

Prancis, 2 Maret 2021.

#ElevateWomen