Awal Mula Kisruh PDIP-Ganjar hingga Disentil Puan Maharani

·Bacaan 4 menit

VIVA – Pekan ini ada beberapa momen yang cukup banyak disorot dan menjadi pertanyaan. Ada apa dengan Ganjar Pranowo dan internal PDIP?

Sebelum Lebaran, Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto sempat mengomentari elektabilitas Ganjar yang cukup tinggi di berbagai survei dan potensial untuk menjadi capres pada 2024. Menurut Bambang, elektabilitas Ganjar hanya di pemberitaan saja dan belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Elektabilitas saat ini, kata Bambang tidak penting dan tidak menjadi jaminan memperoleh rekomendasi.

Kemudian beberapa hari berikutnya, Ketua DPRD Jawa Tengah yang juga Sekretaris DPD PDIP Jateng, Bambang Kusriyanto melontarkan kritik tajam terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Hal itu terkait kondisi jalan yang menghubungkan Grobogan, Blora dan Cepu yang terus-terusan rusak yang belum tertangani dengan baik.

Baca juga: Tak Diundang Puan, Ganjar Ternyata Ketemu Megawati di Jakarta

Dan kemudian, Sabtu (22/5/21) kemarin, di acara HUT PDIP ke 49 di kantor DPD PDIP Jateng Panti Marhaen Semarang, Puan Maharani seperti menyentil dengan pernyataan tentang kriteria pemimpin ideal bagi PDIP. Menurutnya, pemimpin harus yang memang dilihat oleh teman-teman seperjuangan dan turut turun bersama dengan para pendukungnya di lapangan, bukan fi media sosial.

“Pemimpin menurut saya, itu adalah pemimpin yang memang ada di lapangan dan bukan di sosmed,” tegas Puan Maharani di depan kader.

Puan mengingatkan semua kader PDIP di Jateng untuk berjuang secara riil. Apalagi jika kader tersebut saat ini menduduki jabatan sebagai pemimpin, maka perjuangan di lapangan sangat dibutuhkan.

"Sosmed memang diperlukan, namun dalam berjuang, jangan hanya berhenti di sosmed saja. Sosmed diperlukan, media perlu, tapi bukan itu saja. Harus nyata kerja di lapangan,” kata Puan.

Ia menegaskan, jika kader PDI Perjuangan yang terlihat diam itu jangan dinilai tidak siap dalam menyambut kontestasi pemilu kedepan. Puan menegaskan kader PDI Perjuangan sangat siap, namun mereka mematuhi aturan partai yang mesti tegak lurus dengan perintah ketum.

“Kita diem-diem saja kaya ndak siap. Kita Siap! Hanya, kita itu partai yang tegak lurus pada aturan. Dan saya yakin bahwa bapak dan ibu ini pasti akan ikut pada arahan yang akan diputuskan pada saatnya nanti,” tegasnya lagi.

Yang jadi bahan pertanyaan juga, seluruh kepala daerah di Jawa Tengah dari PDIP hadir dalam acara tersebut, namun Ganjar Pranowo tidak tampak di acara. Bahkan di rundown acara tertulis arahan Puan Maharani kepada anggota DPRD dan DPR RI serta kepala daerah dan wakil kader se Jateng (kecuali Gubernur).

Semuanya kemudian semakin jelas saat Ketua PDIP Jateng Bambang Wuryanto atau dikenal dengan Bambang Pacul dalam sebuah rilis memberi pernyataan tentang ketidakhadiran Ganjar Pranowo dalam acara HUT PDIP di Kantor DPD PDIP Jateng. Tanpa basa-basi ia menyatakan Ganjar Pranowo memang tidak diundang.

"Tidak diundang! (Ganjar) wis kemajon (kelewatan). Yen kowe pinter, ojo keminter," kata Bambang Wuryanto setelah kegiatan tersebut, Sabtu (22/5/21) malam.

Menurutnya, DPD PDI Perjuangan Jateng berseberangan dengan Ganjar Pranowo perihal langkah pencapresan di 2024. DPD PDI Perjuangan Jateng dengan terang-terangan menyebut Ganjar terlalu berambisi maju nyapres sehingga meninggalkan norma kepartaian.

Bambang yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu tersebut mengungkapkaan, DPD PDI Perjuangan sebenarnya sudah memberikan sinyal jika sikap Ganjar yang terlalu ambisi dengan jabatan presiden tidak baik. Di satu sisi, belum ada instruksi dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Di sisi lain itu tidak baik bagi keharmonisan partai yang wajib tegak lurus pada perintah Ketua Umum.

Hal ini ia tengarai tengarai dengan tingginya intensitas Ganjar di medsos dan media. Padahal hal serupa tak dilakukan oleh kader PDI Perjuangan lain yang juga berpotensi untuk nyapres.

Menurutnya, kader PDI Perjuangan lain itu bukannya tak bisa melakukan hal yang sama, namun tak berani karena belum mendapatkan perintah Ketua Umum.

"Wis tak kode sik.Kok soyo mblandang, ya tak rodo atos. (Sudah saya kasih kode, tapi kok tambah keterusan, yaa sayq agak keras).
Saya dibully di medsos, ya bully saja. Saya tidak perlu jaga image saya,'' kataa Bambang Pacul.

Ia menambahkan, elektabilitas saat ini belum bisa dijadikan patokan dalam pertempuran Pilpres yang sesungguhnya. Elektabilitas saat ini hanya terdongkrak dari pemberitaan dan medsos. Hal itu mudah dikalahkan dalam pertarungan secara riil.

"Ini bukan teguran, karena ia merasa lebih tinggi dari kita (DPD PDI Perjuangan Jateng). Ia merasa yang bisa menegur hanya Ibu ( Megawati Soekarnoputri)," tegasnya.

Saat ditanyakan apakah Ganjar sudah menyatakan terang-terangan akan nyapres?

"Kalau dia menjawab, saya kan tidak mengatakan mau nyapres. Ya kalau bicaranya pada tingkat ranting partai, ya silakan. Tapi kalau dengan orang politik, ya pasti sudah paham arahnya ke mana," ungkapnya.

Teguh Joko Sutrisno / Jawa Tengah