Awal Mula Konflik Israel dan Palestina

Syahdan Nurdin, ickhwan10-94
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dahulu umat Muslim, Kristen dan Yahudi Palestina hidup berdampingan dengan penuh kedamaian. Tindakan persekusi terhadap Yahudi oleh Kristen Eropa membuat Yahudi tidak merasa aman berlama-lama di Eropa, mereka mengungsi ke banyak tempat termasuk ke wilayah Ustmaniyah

Pada abad 17 persekusi terhadap Yahudi semakin masif, gerakan Zionis Yahudi kemudian berkumpul di Basel Swiss, mereka memutuskan untuk mendirikan Negara Independen untuk bangsa Yahudi dan mereka melihat Palestina sebagai tempat yang potensial bagi mereka.

Pada tahun 1897 Theodore Herzl mendatangi Sultan Abdul Hamid II untuk membeli Palestina, namun ia pulang dengan hampa, sang Sultan menolak tawaran tersebut.

Kejadian ini tidak membuat mereka putus asa, melalui kelompok sekuler dan Yahudi di Turki mereka kemudian membuat konspirasi, Sultan Abdul Hamid II berhasil diturunkan pada tahun 1909.

Di tahun 1914 perang dunia I pecah, antara blok sekutu dan blok sentral, daulah Ustmaniyah memutuskan untuk bergabung dengan blok sentral. Sedangkan Inggris dan Perancis dari blok sekutu sudah membuat perjanjian untuk membagi wilayah Ustmaniyah.

Pihak Inggris berkomitmen mendukung gerakan Zionis dan dukungan ini dituliskan dalam perjanjian tertulis yang dikenal dengan Deklarasi Balfour, pasca perang dunia I berakhir dengan kekalahan blok sentral, wilayah Ustmaniyah dibagi-bagi dan Palestina dikuasai oleh Inggris.

Ketika memasuki Al Quds Jendral Allenby mengatakan bahwa Salib War Is Over, Sistem Kekhilafahan yang sudah menjadi pelindung umat selama berabad-abad pun resmi dihapuskan pada 3 Maret 1924, Inggris membuka peluang migrasi Yahudi secara masif ke wilayah Palestina, yang memicu kemarahan rakyat.

Revolusi rakyat Palestina melawan Inggris tidak dapat dielakan, pecah pada tahun 1936, selama 3 tahun perlawanan ribuan rakyat Palestina dibunuh beserta pimpinan politik dan pimpinan jihad di Palestina.

Kemudian Perang dunia II pecah pada 1939, untuk melawan musuh, Inggris banyak merekrut tentara dari kalangan Yahudi di Palestina yang dilatih secara militer, karena terjadi tragedi pembantaian Yahudi besar-besaran oleh Nazi, gelombang pengungsi Yahudi dari Eropa semakin meningkat dan dibantu serta oleh Inggris dan AS.

Kelompok bersenjata Yahudi yang pernah dilatih oleh militer Inggris kemudian melakukan serangan habis-habisan di Palestina. Mereka menekan Inggris dan sudah merasa tidak sabar untuk menguasai seluruh wilayah Palestina dengan melakukan pemboman di gedung-gedung Inggris dan pusat keramaian di Palestina yang membuat Inggris memutuskan untuk menarik diri dari Palestina. Inggris seakan cuci tangan terhadap kekacauan yang ditinggalkanya dengan menyerahkan urusan ini ke PBB.

Kelompok bersenjata Yahudi terus berupaya merebut wilayah Palestina seperti Haifa,Jaffa dan Tiberias dan secara resmi Inggris mengakhiri mandatnya di Palestiana pada 14 Mei 1948, gedung dan Barak Militer yang ditinggalkan diambil alih oleh Yahudi.

Zionis mendeklarasikan kemerdekaan Negara Israel 14 Mei 1940 yang memicu negara-negara Arab di sekeliling Palestina mendeklarasikan perang melawan Israel untuk menyelamatkan Palestina, meskipun demikian aliansi Arab tak mampu mengalahkan Israel.

Israel mendapat dukungan militer, politik dan finansial besar dari negara-negara barat terutama Amerika. Kemenangan Zionis membuat mereka ingin memperluas wilayah di luar batas-batas yang ditentukan oleh PBB.

Sampai hari ini penjajah Israel tak pernah berhenti menghancurkan Palestina, terlebih lagi yang ada di wilayah Gaza.

Pasca runtuhnya sistem Kekhilafahan pada tahun 1924, Palestina seperti anak ayam yang kehilangan induknya yang berjuang sendiri melawan penjajah Israel sampai hari ini.