Awas, Cemas yang Berlebih Picu Gairah Bercinta Menurun

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVADisfungsi ereksi (DE) merupakan kondisi yang masuk dalam kelompok gangguan seksual dan kerap dianggap tabu. Padahal, 52 persen pria berusia 40-70 tahun sudah mengalami gejala DE tanpa disadari.

DE merupakan bagian dari disfungsi seksual pada pria, selain penurunan dorongan seksual (libido atau gairah) dan kelainan ejakulasi. Di Indonesia, prevalensi DE pada populasi berusia 20-80 tahun cukup tinggi, yaitu 35.6 persen dengan angka kejadian yang meningkat seiring bertambahnya usia.

Pakar dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), menjelaskan, beberapa penelitian menemukan bahwa disfungsi seksual pada pria ternyata juga dapat memicu terjadinya masalah atau gangguan jiwa tertentu. Sebaliknya, kaitan antara masalah kesehatan jiwa sebagai pemicu disfungsi seksual pun cukup erat.

Baca juga: Hanya 1 Jam yang Menunjukkan Arah Jarum Jam Berbeda, Bisa Temukan?

"Beberapa masalah kejiwaan yang terkait seperti kecemasan yang menetap. Kecemasan berlebih membuat disfungsi seksual terjadi dan meningkat. Saat cemas, denyut jantung lebih cepat dan pembuluh darah menyempit sehingga pompa darah ke penis menurun," katanya, dalam acara launching virtual Men’s Health and Couple Well-being Clinic, RSCM Kencana.

Stres juga memicu disfungsi seksual seperti pada pekerjaan, relasi di lingkungan sekitar, dan hubungan dengan orang terdekat. Beberapa faktor stres itu seringkali berdampak pada timbulnya perasaan tidak berdaya dan penurunan di semua àspek kehidupan termasuk seksualitas.

Adanya masalah marital yang memicu terjadinya disfungsi seksual, depresi, perasaan bersalah, stress, trauma, adiksi pornografi yang memicu timbulnya pornography induced erectile dysfunction. Terlebih, adiksi pornografi tersebut membuat fantasi seksual yang kerap tak realistik.

"Adiksi seksual membuat masturbasi yang eksesif, juga fantasi seksual yang tidak realistik pada pasangan," kataTjhin Wiguna.

Ia menambahkan, "Individu dengan disfungsi seksual perlu melakukan konsultasi dengan psikiater agar dapat dikenali secara dini masalah kesehatan jiwa yang mungkin ada sehingga dapat diberikan tatalaksana yang sesuai.”

Senada, Pakar dari Departemen Medik Urologi FKUI-RSCM, Dr. dr. Nur Rasyid, SpU (K), menjelaskan bahwa fungsi seksual melibatkan proses yang kompleks, yaitu sistem syaraf, hormon, dan pembuluh darah, maka kelainan pada sistem ini, baik oleh penyakit, obat-obatan, gaya hidup, atau sebab lain, dapat memengaruhi proses ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

Sehingga dalam manajemen DE, pemeriksaan komprehensif untuk menentukan faktor penyebab dan selanjutnya memilih terapi yang tepat dan optimal. Sebelum melakukan prosedur terapi, perlu adanya pemahaman akan ekspektasi pasien sehingga terapi yang dipilih nantinya sudah dipahami dengan baik.

"Berapapun derajat DE yang dialami oleh pasien, manajemen DE selalu dimulai dari 3 hal, yaitu terapi penyebab DE yang bisa disembuhkan (curable), eliminasi faktor risiko dengan modifikasi gaya hidup, serta edukasi dan konseling pasien dan pasangan," tutur dokter Nur Rasyid.