Awas, Email Spam Mengancam Asia Pasifik

Merdeka.com - Merdeka.com - Noushin Shabab, peneliti Kaspersky menyelidiki lanskap ancaman spam di Asia Pasifik (APAC) pada tahun ini. Hasilnya, ia menemukan bahwa wilayah tersebut menerima setidaknya 24 persen dari email spam global berbahaya yang terdeteksi dan diblokir oleh solusi Kaspersky.

"Ini berarti satu dari empat pesan elektronik sampah dikirimkan kepada pengguna komputer di Asia Pasifik," kata dia dalam keterangannya, Selasa (30/8).

Menurutnya, spam berbahaya bukanlah serangan yang kompleks secara teknologi, tetapi bila dilakukan dengan teknik rekayasa sosial yang canggih, hal itu menimbulkan ancaman besar bagi individu dan perusahaan.

"Email sampah ini dikirim dalam jumlah massal oleh spammer dan para penjahat dunia maya yang ingin melakukan satu atau lebih hal-hal yang jahat," jelasnya.

Seperti, lanjut dia, menghasilkan uang dari sebagian kecil penerima yang benar-benar menanggapi pesan. Kemudian, menjalankan penipuan phishing – untuk mendapatkan kata sandi, nomor kartu kredit, detail rekening bank, dan data penting lainnya. Dan, menyebarkan kode berbahaya ke komputer penerima.

Pada 2022, lebih dari setengah atau sekitar 61,1 persen spam berbahaya yang terdeteksi di wilayah tersebut menargetkan pengguna Kaspersky dari Vietnam, Malaysia, Jepang, Indonesia, dan Taiwan.

Shabab mengutip tiga faktor utama yang menyebabkan sebagian besar email spam yang menargetkan Asia Pasifik, yaitu karena populasi, adopsi layanan elektronik yang tinggi, dan penguncian social di masa pandemi.

"Sejak 2018, jumlah email spam berbahaya yang terdeteksi oleh solusi kami telah mengalami penurunan bertahap setelah mencapai puncaknya pada tahun 2019. Namun, hal ini tidak membuat kotak surat elektronik lebih bersih dan aman. Pemantauan terus-menerus yang kami lakukan terhadap Advanced Persistent Threats (APTs) saat ini dan yang baru yang beroperasi di Asia Pasifik menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku ancaman terkenal menggunakan phishing bertarget yang disebut spearphishing untuk membobol sistem organisasi," ungkap Shabab. [faz]