Awas, Jangan Asal Beli Antibiotik Bisa Bahaya Bagi Tubuh

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemakaian obat antibiotik memang diharapkan mampu mengatasi penyakit di tubuh yang menimbulkan gejala.

Namun, antibiotik yang dikonsumsi tanpa pantauan dokter, dapat menimbulkan dampak Resistensi Antimikroba (AMR) yang berbahaya bagi tubuh.

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter (overuse & misuse) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka AMR di dunia kesehatan.

Berdasarkan data WHO, penggunaan antibiotik meningkat 91 persen secara global dan meningkat 165 persen di negara-negara berkembang pada periode 2000 – 2015 sehingga menjadikan AMR salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang paling berbahaya di dunia.

Menurut Direktur Promkes Kementerian Kesehatan RI, dr Imran Agus Nurali, SpKO, pemakaian antibiotik seharusnya sesuai takaran dan indikasi dari dokter.

Sebab, dampak resistensi antibiotik bisa memicu penurunan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi yang diakibatkan bakteri.

"Antibiotik adalah suatu obat yang bisa menimbulkan efek samping kalau dia underused atau berlebihan (overused). Bahkan, bahayanya adalah suatu resistensi," ujar dokter Imran, dalam acara virtual bersama Pfizer, baru-baru ini.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUD Dr. Soetomo, Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD, K-PTI, mengemukakan bahwa masih perlu upaya bersama untuk mengendalikan penggunaan antibiotik.

Budaya menggunakan antibiotik yang bijak perlu ditunjang sistem promosi dan edukasi yang berkelanjutan.

"Dari sisi masyarakat, masih terdapat persepsi bahwa setiap penyakit harus menggunakan obat atau antibiotik, padahal banyak penyakit infeksi khususnya yang disebabkan oleh virus sebenarnya bersifat self-limiting disease, sehingga lebih banyak memerlukan istirahat dan nutrisi yang baik," tuturnya.

Bahkan, tak sedikit pasien berusaha mengobati penyakitnya sendiri dan membeli obat termasuk antibiotik di apotek. Setelah penyakitnya memburuk, baru berkonsultasi ke dokter atau layanan kesehatan.

"Jika tidak digunakan secara bijak, orang yang mengonsumsinya berisiko mengalami resistensi antibiotik. Ini menyebabkan tingkat kesakitan (morbiditas), kematian (mortalitas), lama rawat inap, dan biaya perawatan yang semakin tinggi," kata Erwin.

Padahal, pemakaian antibiotik yang sesuai anjuran dokter artinya sudah melalui penelitian pada penyakit tertentu. Dengan begitu, antibiotik diharapkan mampu membasmi infeksi akibat bakteri tersebut dalam dosis yang disarankan.

"Lebih dari itu (dosisnya) mubazir, kurang dari itu masih mungkin kuman yang di dalam (tubuh) berkembang lagi," kata Erwin.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel