Awas, Kanker Lambung Sering Disalahartikan Sebagai Maag Biasa

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Makanan berperan penting terhadap kesehatan seseorang. Bahkan, menurut penelitian dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan, ada hubungan antara sejumlah jenis makanan dan nutrisi terhadap risiko kesehatan, termasuk kanker lambung.

Menurut data GLOBOCAN 2020, angka kejadian kanker lambung di dunia mencapai lebih dari 1 juta kasus, yaitu 369.580 kasus pada wanita dan 719.523 kasus pada laki-laki.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan, awalnya kanker lambung sering disalahartikan sebagai sakit maag biasa, sehingga sebagian besar pasien datang terlambat dan sudah pada stadium lanjut.

"Oleh sebab itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala kanker lambung. Jika tidak ditangani sejak dini, berpotensi terjadi mutasi yang dapat membentuk tumor di dalam lambung dan dapat bermetastatis atau menyebar ke bagian lain di tubuh, seperti hati, peritoneum, hati dan tulang," ujarnya dalam Webinar Media yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Rabu 10 Februari 2021.

Profesor Aru lebih lanjut menjelaskan, kanker lambung disebabkan karena adanya sel-sel kanker yang tumbuh di dalam lambung menjadi tumor, dan biasanya tumbuh perlahan selama bertahun-tahun, serta kebanyakan diderita oleh pasien berusia 60-80 tahun.

"Beberapa hal dapat meningkatkan risiko kanker lambung, di antaranya bakteri Helicobactor pylori, metaplasia usus, atrophic gastritis kronis, anemia pernisiosa ataupun polip lambung, dan juga kebiasaan merokok, obesitas, konsumsi makanan yang diproses atau diasinkan, dan genetika," kata dia.

Secara genetik, menurut Aru, penyebab meningkatnya risiko kanker lambung, di antaranya jika ibu, ayah, kakak atau adik memiliki kanker gaster, bergolongan darah A, memiliki Li-fraumeni syndrome, familial adenomatous polypsis (FAP) dan hereditary nonpolyposis colon cancer.

Namun, Aru mengungkapkan, faktor-faktor risiko terkena kanker hanya 5-10 persen yang diakibatkan oleh faktor genetika. Sedangkan 90-95 persen lebih disebabkan oleh faktor lingkungan, yang meliputi diet (30-35 persen), rokok (25-30 persen), infeksi (15-20 persen), obesitas (10-20 persen), alkohol (4-6 persen) dan lain-lain (10-15 persen).

"Dengan demikian, kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker," tutur Prof. Aru Sudoyo.