Ayah Brigadir J Sindir Sambo: Dia Pamer Prestasi, tetapi Tidak Pamer Cara Membunuh

Merdeka.com - Merdeka.com - Samuel Hutabarat, ayah almarhum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J menyindir Ferdy Sambo yang mengungkapkan prestasinya saat sidang pleidoi atau nota pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1).

"Menurut kami yang mengikuti persidangan penuh kejanggalan ini, dia seolah-olah pamer soal prestasi dia. Tetapi, tidak pamer cara dia membunuh," kata Samuel, pada Rabu (25/1).

Samuel mengaku menyaksikan saat Ferdy Sambo membeberkan prestasinya selama 28 tahun di kepolisian, mulai dari jabatan, penghargaan serta kasus yang terungkap.

Menurutnya, sejumlah prestasi tidak ada artinya karena mantan Kadiv Propam itu telah melakukan pembunuhan sadis kepada anak buahnya.

"Saya rasa sudah sangat sadis, melakukan pembunuhan terhadap almarhum Yosua. Kalau dia memang polisi terbaik, kenapa otaknya tidak baik bisa sekeji itu menghilangkan nyawa anak saya," tegasnya.

Terlebih, lanjut Samuel, suami Putri Candrawathi itu terlihat tidak memikirkan pihaknya yang kehilangan seorang anak.

"Dia hanya memikirkan diri sendiri. Kami yang kehilangan anak selama-lamanya, dia masih bisa bilang begitu," ucapnya.

Samuel juga mengkritisi Ferdy Sambo cs yang tetap mempertahankan skenario pemerkosaan. Sementara tidak ada hasil visum yang disertakan.

"Hanya pihak mereka yang mempertahankan berita pemerkosaan. Laporan, bukti visum pun tidak ada ini menjadi fitnah terhadap almarhum Yosua," jelasnya.

Kemudian kata Samuel, Ferdy Sambo tidak mengakui telah memerintahkan Richard Eliezer alias Bharada E untuk menembak Brigadir J. Sambo terus berlindung dengan kata "hajar".

"Kita harus mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak. Sedangkan Eliezer bilang dia diperintahkan untuk menembak. Kita berserah kepada majelis hakim untuk menilai," tegasnya.

Samuel berharap kepada majelis hakim untuk teguh menerapkan pasal 340 KUHP dengan memutuskan hukuman maksimal.

"Mereka sudah mencabut secara paksa nyawa atau melakukan pembunuhan berencana kepada anak kami. Karena itu, kiranya diputuskan hukum maksimal yaitu hukuman mati," tuturnya.

Reporter: Hidayat [cob]