Babak Baru Kasus Penggelapan Dana ACT, Ahyudin dan Ibnu Khajar Segera di Sidang

Merdeka.com - Merdeka.com - Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kejari Jaksel) menerima pelimpahan Tahap II berupa penyerahan barang bukti dan tiga tersangka dalam kasus dugaan penyelewengan dana kemanusiaan Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Penyerahan barang bukti dan tiga tersangka diterima Kejati Jaksel pada Rabu (26/10) kemarin.

"Dilaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti atau Tahap II perkara penggelapan atau penggelapan dalam jabatan yayasan ACT," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung (Kejagung) Ketut Sumedana dalam keterangannya, Kamis (27/10).

Para tersangka dalam kasus tersebut adalah Presiden ACT Ibnu Khajar, mantan Presiden ACT Ahyudin, dan Anggota Dewan Pembina Yayasan ACT Hariyana Hermain. Ketiganya ditahan di Rutan Bareskrim Polri selama 20 hari ke depan.

"Terhitung mulai tanggal 26 Oktober 2022 hingga 14 November 2022," kata Ketut.

JPU Masih Teliti Berkas 1 Tersangka Kasus Penggelapa Dana ACT

Jaksa Penuntut Umu (JPU) Kejaksaan Agung (Kejagung) masih mempelajari berkas satu tersangka lain dari kasus penyelewengan dana Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk sebelum diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Sedangkan untuk tiga tersangka lainnya Kejagung sudah menyatakan berkas lengkap atau P21.

Satu tersangka tersebut yakni Novariadi Imam Akbari sebagai Sekertaris ACT PERIODE 2009-2019 yang saat ini menjabat sebagai ketua deDewan Pembina ACT.

"Iya (sedang diteliti JPU untuk dinyatakan P-21)," ucap Kasubdit 4 Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri Kombes Andri Sudarmaji dalam konfirmasinya, Kamis, (27/10).

Andri menjelaskan awalnya berkas tersebut sempat dikembalikan dari JPU ke penyidik agar segera dilengkapi pada Selasa (25/10) lalu. "(Sekarang) Sudah dilengkapi dan sudah dikirim kembali," ujar dia.

Usai diserahkan kembali, polisi tinggal menunggu keputusa JPU. Adapun bila berkas tersebut dinyatakan lengkap oleh, Dittipideksus Bareskrim Polri akan menyerahkan tersangka Novariadi dan barang bukti bila berkas tersebut dinyatakan lengkap atau P-21.

"Iya menyusul (penyerahan tersangka Novariadi)," tutur Dittipideksus Bareskrim Polri.

Konstruksi Perkara

Diketahui, Dittipideksus Bareskrim Polri melimpahkan berkas perkara penyelewengan dana yayasan amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke Kejaksaan Agung (Kejagung) dengan empat tersangka. Penyerahan dilakukan pada Senin, 15 Agustus 2022.

Dalam perkara ini, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan menjelaskan peran Mantan Presiden ACT, Ahyudin selaku pendiri yayasan kemanusian tersebut. Ternyata yang bersangkutan menjadi pihak yang berperan dalam beberapa kebijakan.

"Membuat kebijakan pemotongan donasi yang diterima oleh yayasan untuk pembayaran gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya," kata dia dalam keterangannya, Selasa (16/8).

Lalu, Ahyudin juga disebut menerima gaji sebagai Pendiri, Ketua Pengurus dan Pembina Yayasan ACT, termasuk dalam kebijakan terkait kasus dalam dana bantuan dari pihak Boeing untuk korban kecelakaan Lion Air JT-610.

"Membuat kebijakan untuk menggunakan dana yang diterima dari Boeing untuk kepentingan di luar program Boeing," jelas Ramadhan.

Sementara, Ibnu Khajar selaku Presiden ACT yang telah bekerja sejak April 2019 sampai sekarang, memiliki peran dalam melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan dewan pembina, yakni Ahyudin.

"Melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh A sebagai Pembina Yayasan termasuk kebijakan pemotongan dana donasi yang diterima yayasan ACT sebesar 20-30%," kata Ramadhan.

"Melaksanakan kebijakan menggunakan dana dari Boeing untuk kepentingan diluar program Boeing. Dan Menerima kekayaan Yayasan dari hasil pemotongan donasi yang melebihi 10%," tambah dia.

Kemudian untuk dua tersangka lainnya yakni, Ketua pengawas ACT pada 2019-2022, Heryana Hermai bertugas mengelola keuangan yayasan, sebagaimana kebijakan yang telah ditetapkan Ahyudin.

"Melaksanakan kebijakan A untuk melakukan pemotongan donasi yang diterima yayasan termasuk penggunaan dana dari Boeing untuk kepentingan di luar program Boeing. Menerima gaji sebagai Pembina Yayasan Aksi Cepat Tanggap," kata Ramadhan.

Sementara anggota pembina dan Ketua Yayasan ACT, Novariadi Imam Akbari juga turut menerima gaji sebagai Pembina dari Yayasan Aksi Cepat Tanggap dan melaksanakan tugas yang menjadi kebijakan dewan pembina.

"Melaksanakan kebijakan A untuk menggunakan dana dari Boeing untuk kepentingan diluar program Boeing. Menetapkan kebijakan untuk melakukan pemotongan donasi yang diterima yayasan pada tahun 2022 sebesar 20-30 persen," terangnya.

Sebelumnya, Dittipideksus Bareskrim Polri melimpahkan berkas perkara penyelewengan dana yayasan amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke Kejaksaan Agung (Kejagung) dengan empat tersangka. Penyerahan dilakukan pada Senin, 15 Agustus 2022.

Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Andri Sudarmaji mengatakan penyerahan ini merupakan penyerahan perdana ke Kejagung. Berkas yang diserahkan terkait kasus penyelewengan dana bantuan dari Boeing untuk korban kecelakaan Lion Air JT 610.

"Iya sudah kita limpahkan atau tahap satu," ujar Andri saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (16/8).

Menurut dia, berkas perkara ini untuk empat tersangka yakni mantan Presiden ACT, Ahyudin; Presiden ACT, Ibnu Khajar; Ketua Pengawas ACT pada 2019-2022, Heryana Hermai; serta Anggota Pembina dan Ketua Yayasan ACT, Novariadi Imam Akbari.

Usai dilakukan pelimpahan tahap satu, berkas akan diteliti oleh jaksa guna memeriksa kelengkapannya, baik secara materiil dan formil.

Apabila, nantinya dinyatakan lengkap, maka penyidik akan melakukan tahap dua atau menyerahkan kewenangan tersangka dan barang bukti. Kalau sebaliknya, penyidik mesti melengkapi berkas perkara tersebut.

Reporter: Nanda Perdana Putra [gil]